Belum lama ini, aku diingatkan oleh ibuku, jikalau dahulu saat pertama kali harus pindah rumah dan hidup bersama dengan keluarga baruku, aku sempat menolaknya. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Karena di benakku masih ada rasa trauma,  jikalau ayah tiriku akan mengecewakan ibuku seperti ayah kandungku dulu. Tapi ternyata aku salah.

Cerita ini dimulai ketika aku melihat begitu banyak penogrbanan ayah. Dari mulai mengantar jemputku waktu sekolah, sampai aku masuk dalam dunia kerja. Iya. Aku baru bisa mengendarai sepeda motor ketika lulus dari SMA. Aku pun juga belum punya cukup uang untuk membeli motor sendiri. Sampai kapan pun motor tua itu tidak akan pernah dijual, karena mengandung makna yang sangat bersejarah bagi diriku sendiri juga ayah, meskipun sekarang aku pun sudah memiliki motor untuk keperluan kerja juga kegiatan sehari-hari.

Advertisement

Hal yang sangat tidak bisa aku lupakan sampai saat ini adalah pengorbanan ayahku untuk mencarikan tambahan darah untukku. Ketika saat kelas 1 SMP aku terkena demam berdarah. Saat itu ayah harus bolak-balik ke rumah dan rumah sakit karena persediaan kantong darah yang sesuai dengan darahku habis. Ibuku sebenarnya bisa jadi pendonorku, tapi saat itu ibu harus menjagaku.

Tidak hanya itu saja, ayahku juga pernah hujan-hujanan untuk mencariku, karena aku terlambat pulang. Beliau sampai harus bertanya pada teman-temanku. Beliau sebenarnya sudah hafal jikalau aku juga tidak akan kemana-mana tanpa persetujuan darinya. Tapi entah kenapa beliau memiliki rasa perhatian yang tak pernah bisa aku jelaskan. Iya aku tahu apa yang dilakukan beliau adalah bentuk dari rasa sayangnya terhadapku.

Saat lelah karena bekerja atau sedang sakit, tanpa diminta pun beliau juga memijatku. Terkadang hal sepele yang membuatku tertawa, ketika beliau mau menciumku sebagai tanda sayang. Sedangkan terkadang aku mencium lengan beliau, begitupun juga dengan ibuku. Entah, aku juga tidak tahu. Tapi itu sebagai bentuk rasa sayangku pada mereka yang tidak bisa kuutarakan dengan kata.

Advertisement

Aku tahu ini juga bukan hal yang mudah untuk ayahku, ketika dulu awal pernikahan tidak mendapatkan restu dari saudara tiriku. Karena dulu ia menigra aku akan merebut apa yang menjadi miliknya sebelumnya. Padahal aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Beliau selalu meyakinkan ibuku bahwa kami bisa melewati ini semua, meskipun banyak tetangga atau orang lain yang tidak menyukai keluarga baruku ini.

Dan hal yang paling membuatku sedih, ketika ayah harus terbaring sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu beliau sangat sedih karena melihat aku dan ibu harus membanting tulang setiap hari, ketika ayah harus istirahat dan tidak bisa bekerja sementara. Aku tahu beliau sangat ingin bekerja tapi bagaimana pun juga kesehatan beliau juga sangatlah penting. Aku juga tidak ingin sampai sakit ayah bertambah parah karena banyak pikiran.

Sebagai seorang anak, aku pun tak ingin membandingkan ayah kandungku juga ayahku yang sekarang ini. Bagaimana pun juga ayah kandungku adalah seseorang yang pernah dicintai oleh ibuku. Sampai kapan pun beliau adalah ayah darahku. Untuk ayah tiriku, mungkin tak ada gambaran atau kalimat yang tepat yang bisa menungkapkan betapa bersyukurnya aku memiliki beliau. Kasih sayangnya kepadaku juga ibu jauh melebihi yang kubayangkan.

Jika disuruh memilih, aku akan tetap tinggal bersama ibu dan juga ayah tiriku. Bukan bermaksud untuk tidak adil. Karena bagaimana pun juga merekalah yang selama ini sudah merawat dan membesarkanku dengan segala perjuangan. Semoga beliau ayah kandungku, selalu dalam perlindungan Tuhan bersama dengan keluarganya, begitupun aku bersama ibu juga ayah serta saudara tiriku.

Maafkan aku ayah, karena tidak bisa membalas segala pengorbananmu, segala hal yang tak bisa aku dapatkan dari ayah kandungku sendiri. Tapi, melalui buku Memoar Bahagia Bersama Bapak Tercinta yang aku tulis bersama penulis lainnya, aku persembahkan untuk ayah di ulang tahun bulan November ini.

Maafin aku, Yah. Karena tidak bisa seromantis bahkan memberikan segalanya untuk bisa membahagiakanmu, seperti halnya teman-temanku yang lain.  Darimu aku belajar menjadi seorang putri yang tetap kuat mengayuh sepeda sampai pada tujuan, dan berjuang untuk masa depanku juga keluarga. Darimu aku belajar, meskipun dalam keadaan sakit tapi masih tetap memikirkan keluarga. Darimu aku belajar menyayangi tanpa syarat apapun. Sekalipun aku bukanlah putri kandungmu.

Untukmu yang akan menjadi dan sudah menjadi seorang ayah, bagaimana pun juga peran kalian sangatlah penting. Salah satunya adalah rasa keberanian yang bisa kalian tularkan untuk anak-anak kalian nantinya. Berani untuk bertanggung jawab dan tidak meninggalkan keluarga apa pun yang terjadi.

Selamat hari Ayah untuk semua ayah di seluruh dunia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya