Semalam di perayaan Kamis Putih, aku terkikuk mendapati sebuah pesan yang cukup menggetarkan sukma. Bagaimana mungkin masalah yang masih bisa dimaafkan hanya karna kesalahpahaman, dijadikan sebuah alasan memutuskan tali yang telah terikat ketika kita telah berjanji akan saling mengerti, dengan kekurangan masing-masing? Kau penyabar sedang aku spontan. Aku sulit menyimpan amarah, karna menurutku lebih menyenangkan mengutarakan segalanya, agar tak membusuk di hati.

Sedang kau lebih memilih menyimpan segalanya, hingga berakhir dengan membusukan hatimu. Kau yang tadi-tadinya sangat baik, berubah menjadi menakutkan semalam. Tiba-tiba di akhir hubungan kita yang kau putuskan, kau memintaku untuk tetap tinggal sebagai teman dekatmu. Kau pikir aku mampu?Setelah semua yang kau janjikan padaku hingga membuatku terbang setinggi mungkin, seketika kau buatku terjatuh hingga lupa akan rasa sakit.

Advertisement

Aku kehilangan seluruh cintaku padamu, adalah katamu membuka dialog kita yang aku pikir masih baik-baik saja. Katamu, hubungan kita sudah tak sehat seperti dulu lagi. Kata-kataku sulit dicerna olehmu, hingga merobek hatimu yang mungkin menyebabkan luka yang sulit tersembuhkan. Selama ini, kau yang terus berjanji padaku bahkan ketika aku mengatakan bahwa aku sangat kekanak-kanaka namun kau menenangkanku dengan mengatakan bahwa sikapku membuatmu jatuh cinta.

Aku pikir cinta bisa memaafkan bahkan mengampuni tiap kesalahan, namun kali ini kau lupa bahwa kau telah letih pada sikapku yang justru membunuh hubungan kita, katamu padaku semalam. Sejak semalam, aku kehilangan tidur nyenyakku. Aku sulit mencerna sikapmu yang membuatku sungguh menyesal. Aku sulit memahami cara berpikirmu, orang yang sempat aku pikir akan menjadi rumahku di masa depan.

Ternyata, aku saja yang terlalu berharap. Sudah tentu, aku patah hati sekarang. Hatiku yang tadinya utuh dan segar, sekarang sulit aku deskripsikan. Aku hanya belum mampu menatanya sekarang. Semalam, aku pun mendadak jadi orang yang tak spontan. Kespontananku tersimpan semalam. Entah mengapa, hanya karna aku masih belum mengerti dengan jelas apa yang terjadi.

Advertisement

Kau berulang kali meminta maaf dan mengatakan bahwa kau menyesal, namun aku hanya mampu tersenyum bahkan mengatakan bahwa aku tak mengapa. Aku bahkan memahami, bahwa kau orang baik yang akan menemukan orang baik pula, dan tentu saja bukan aku. Aku tak sebaik dirimu. Aku ingat kau selalu mengucapkan kata maaf, sedang aku mengatakan bahwa keputusanmu adalah benar bahkan itu adalah bisikan Tuhan di kedua telingamu. Semalam pun, aku lebih banyak mengalah ketika kau menuturkan penyebab kau berhenti memperjuangkanku.

Aku bahkan juga meminta maaf, namun kau mengatakan bahwa kita berdua yang bersalah. Bukan, hanya aku yang salah. Hingga saat ini ketika selesai merayakan Jumat Agung, aku masih saja kebibungan dengan apa yang terjadi antara kita. Kau masih saja mengirimkan ucapan selamat pagi, dan bersikap biasa saja.

Sebenarnya apa yang terjadi antara kita? Kau berubah dalam semalam, sedangkan aku sulit melupakan apa yang terjadi semalam. Aku berusaha meyakinkan diri, bahwa kisah kita telah menjadi debu. Sudah tak hidup lagi, aku bahkan membaca percakapan kita semalam dan sudah yakin bahwa hubungan kita telah sah untuk berpisah.

Setelah perpisahan ini, bagiku kita akan sulit berteman. Aku hanya ingin, menata hatiku tanpa kau. Aku tahu kau ingin kita berteman, tapi aku telah kehilangan kepercayaan diri untuk membangun hubungan teman denganmu. Yang terakhir, terima kasih sudah menunjukkan caranya berjuang lalu berhenti. Aku mengeri sekarang, supaya kelak aku tak berhenti di tengah jalan, ketika telah membuat seseorang mencintaiku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya