Dari awal aku berani memutuskan untuk mencintaimu dan mau menghadapi apapun bersamamu, aku tak pernah membayangkan ada diposisi seperti sekarang. Bagaimana mungkin aku tak pernah bisa mengimbangimu? Bagaimana mungkin kamu tak penah membuatku merasa cukup untukmu?

Aku telah terbuang, sangat sia-sia, jauh dan jatuh terlalu dalam. Ternyata, hanya aku yang mempunyai rasa, hanya aku yang menggenggam mimpi.

Advertisement

Ternyata, memang aku keliru.

Aku juga keliru, begitu sangat mempercayaimu. Bukan jatuh cinta yang membunuhku, tapi rasa percaya yang telah aku berikan padamu. Aku takut, ternyata memang benar selama ini aku ada ditempat dimana aku menganggap semuanya benar. Memperkirakan tidak pernah ada yang salah. Meyakini bahwa semuanya manis dan tak akan sia-sia.

Kau yang membuat aku mempercayaimu, memberikanku harapan dan mimpi yang seolah bukan hanya dibibir saja. Aku sudah lelah menangisimu, bosan tidak menemukan jawaban setiap aku bertanya “Salahku apa? Hingga kamu sampai hati melakukan semua ini kepadaku?” Lalu aku tiba-tiba merasa ditarik oleh lorong waktu, kembali ke masa dimana kamu seolah meyakinkanku bahwa kamu bisa kupercaya, tidak sama dengan yang lain.

Advertisement

Kamu tak kunjung mengerti, aku begitu amat mempercayaimu.

Kau bawa aku kedalam permainanmu yang tak kumengerti sama sekali. Kau bawa aku berjalan, merangkak, berlari, dan berhenti kapanpun kau mau. Kamu pernah berjanji, menjanjikan banyak hal termasuk menjaga kepercayaanku. Namun, kita memang hanya manusia biasa. Kamu dengan pintar mengumbar janji, aku dengan bodoh mempercayai janji.

Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku merasa telah melakukan apapun, telah berusaha memberikan apapun, menjunjung tinggi kamu sebisaku. Tapi tetap saja, apapun, sekeras apapun, sebanyak apapun. Aku tak pernah cukup untukmu. Begitu banyak kekuranganku, begitu banyak hal yang kamu inginkan tak bisa aku penuhi, yang kamu butuhkan tak bisa aku berikan.

Aku tahu, sebenarnya aku tidak perlu mempercayaimu, sedalam ini. Namun semua telah terjadi. Membuat aku merasa bodoh, sangat bodoh.

Aku seolah tenggelam ditengah lautan, melihatmu bersenang ria diatas kapal pesiar menuju surga. Kini, semua yang ingin kau akhiri memang sudah berakhir. Walaupun bukan cerita seperti ini yang sebelumnya ingin kutulis. Seandainya aku bisa memilih bagaimana akhir dari kisah kita, aku hanya ingin tidur disampingmu, dibalut lenganmu dan membuatmu mengerti; aku selalu disini.

Masih bergetar ketika menyebut namu dalam doa sepertiga malamku. Berharap sekali-duakali ketika nanti kamu mengingatku, kau bawa namaku dalam percakapanmu dengan Tuhan yang kau temui, setiap hari Minggu. Selain pengkhianatan, ternyata menemukan alasan lain kau meninggalkanku, begitu sangat melumpuhkan kakiku. Ntah kemana aku harus melangkah. Selama ini, aku baru menyadari seberapa sering aku membohongi diriku sendiri. Ketakutanku selama ini, kekhawatiranku selama ini, tak pernah kau rasakan.

Dulu, aku tak pernah membayangkan jika kita harus berakhir karena kamu merusak kepercayaanku. Aku kira satu-satunya alasan yang mengharuskan kita mengakhiri semuanya adalah masing-masing dari kita sadar bahwa Tuhan tidak bisa kita tinggalkan, bahwa ada yang harus dipilih antara aku yang menggenggam tasbih atau kau yang berkalung salib. Aku kira, kita akan menyerah karena menyadari Mesjid dan Gereja tidak pernah bisa kita pakai beribadah bersama-sama.

Tapi, kutemui hatiku berdarah-darah, tangisku tak kunjung henti. Ketika tahu bahwa ada perempuan lain yang kau pilih untuk menggantikanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya