Pada suatu waktu kau ingin bercerita. Cuma ingin bercerita.
Tak perlu ada tanya mengapa dan bagaimana.
Kau hanya ingin bercerita, mengeluarkan segala bebanmu, mengeluarkan segala perasaanmu.

Tak lebih, tak perlu sahutan untuk segala bait ceritamu.
Kau hanya ingin didengar, dibaca tanpa perlu banyak tanda tanya.

Advertisement

Hidup ini kadang menyiksa. Kau yang berpikir bahagia untuk segala usaha yang telah dilakukan, seketika sirna.
Segala hal yang kau alami tak sesuai dengan apa yang kau impikan.
Segalanya berubah, hancur, membuatmu menderita. Bahkan lingkungan sekitar yang kau pikir adalah sandaran dalam mengahadapi hidup, juga pergi dan hanya tersisa kecewa dalam dirimu.

Kau tahu, bahwa ini semua salah. Sangat salah, semua yang kau alami membuatmu bersalah.
Mengendap dalam diri dan menyiksa batinmu. Hingga kau tak kuasa menarik nafas dan mengucurkan air mata.

Lalu setelah sekian derita yang menyiksa, kau mencoba kembali lagi ke belakang.
Melihat orang orang yang berjanji selalu bersamamu, dalam duka dan tawa.
Nyatanya mereka tak juga berada di sana, bahkan sekalipun bayang bayangnya.

Advertisement

Orang orang yang kau yakini ada dalam benakmu, yang kau kira akan selalu menggandeng tanganmu, tak kunjung mengulurkan tangannya kepadamu. Kembali, kau seorang diri dalam balutan kesedihan itu. Tak seorang pun yang kau yakini ada untukmu dalam sedihmu.

Lalu kembali, kau menyadari bertumpu pada orang orang yang telah meninggalkanmu bukanlah hal bagus.
Raga mereka sudah tak ada dalam jarakmu, namun tetap kenangan janji mereka selalu mengetuk sanubarimu.
Semakin larut, semakin kau sadar bahwa sesuatu yang dibelakang tak akan bisa membimbingmu maju ke depan.

Akhirnya, dalam sekian lama kau mulai melihat siapa yang ingin mendengarmu.
Mereka yang berkata akan bersamamu.
Mereka yang akan memelukmu ketika takut menguasaimu.
Mereka yang akan mengatakan ‘semua baik baik saja’ kepadamu yang sedang tidak baik seperti biasanya.
Mereka yang selalu memberikan kalimat metafora dalam keheningan menjelang tidurmu untuk menenangkanmu.

Tetapi setelah kau lihat lagi, mereka tak selamanya berada disisimu.
Mendengarkanmu dan memperhatikanmu bukan angan mereka.
Mereka yang kau anggap memberikan ketenangan akan masa depan tidaklah bersamamu dalam merangkai cerita. Kerisauan perasaanmu yang ingin kau utarakan tak memiliki muara pada mereka yang memilih berpaling ke selatan. Keindahan yang mereka tawarkan dalam setiap janji tak kau temukan dalam kegaduhan hatimu di kala kau bersedih.

Lalu akhirnya, kau menyadari bertumpu pada orang orang yang menawarkan manisnya masa depan di kala senang tak menjamin menawarkan sandaran dikala kau dalam kesedihan. Hidup yang kau bahagiakan dengan mereka, mereka tak mengobati hidup yang kau rasakan deritanya.

Semakin larut dalam heningnya malam, kau semakin sadar bahwa segala yang didepan tak bisa kau jadikan sandaran karena kerahasiaannya dan penuh resiko pupusnya harapan.
Semakin larut, pikiranmu menghancurkan mentalmu. Perasaanmu menghancurkan hatimu.

Kau tak tau harus kemana, beban itu bagai racun yang merusak segala harap dan bahagia dalam dirimu.
Kau tak tau apa obatnya, mereka yang tertinggal oleh masa lalu tak lagi menghampirimu.
Mereka yang menjanjikan manisnya harapan tak lagi memberikan penghiburan. Kau seorang diri, dalam malam yang semakin sunyi dan tak bertepi.

Ragamu terbaring, jiwamu layu, pikiranmu membisu, hatimu ragu, apakah tak ada yang memperdulikanku?
Dalam baringmu, kau hanya bisa bercerita kepada dirimu. Kepada kamu yang juga merasakan apa yang kamu rasakan. Dia mendengarkan kegelisahanmu, tanpa menjawab.

Kau ceritakan gelisah itu kepada dirimu sendiri dan ia hilangkan itu dari dalam dirimu.
Kau ceritakan lagi sedihmu kepada dirimu, air matamu menetes dan ia tanpa menjawab dan mengusap. Sedihmu berkurang, mulut hatimu kembali tenang.
Kau ceritakan bebanmu kepada dirimu, tanpa menjawab tanpa ikut menopang.

Bebanmu berkurang semakin hilang, kepalamu ringan tanpa ada lagi keresahan.
Segalanya kau ceritakan kepada orang yang paling dekat dengan dirimu.
Dia tak berjanji manis untuk masa depanmu, ia juga tak memberikan kenangan dalam setiap masa lalumu.
Dia hanya duduk, diam dan mendengarkan segala ceritamu. Dari kamu bangun hingga menemanimu tidur.

Terkadang kau hanya ingin bercerita. Bukan kepada siapa manusia. Tetapi kepada dirimu yang terlupa.
Kepada dirimu yang selalu ada, yang selalu menyakini bahwa dirinya selalu kuat menghadapi dunia.

Dia yang menyakinkamu ketika seluruh dunia meragukanmu.
Dia yang menggengam erat hatimu agar tak berserakan patahnya.
Dia pula yang mendegarkanmu setiap kamu membatin, tanpa menjawab kau tahu jawabanya.
Dia pula yang mendengarkanmu dalam setiap malam menjelang kau tidur segala cerita hidupmu hari ini.

Dan dia yang melelapkanmu untuk kau bersiap menghadapi dunia besok pagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya