Hei, bisakah kita berbicara sebentar? Pikiranku kembali dibuyarkan oleh dirimu yang hadir ditengah-tengah ‘badai’. Aku tahu kita berteman baik, aku tahu kau juga pendengar yang baik. Kebiasaanku menggodamu terkadang membuatku tertawa saat sedang sendiri. Banyak hal yang tak kau mengerti dari pikiranku yang terlampau konyol saat berimajinasi. Aku memiliki pikiran yang gila, itulah yang dikatakan orang-orang tentangku, tapi itulah yang sebenarnya. Hahaha, aku tahu kau pun tertawa membacanya. Semoga, kau membacanya.

Kau orang yang begitu hangat dalam berteman. Lucu dan ku pikir kita memiliki imajinasi gila yang sama. Well, dalam hal ini aku tak ingin disebut ‘gila’ sendirian. Sapaanmu yang terlalu sering membuatku mulai terbiasa menerimanya. Awalnya, jujur sama sekali tak nyaman bagiku. Bahkan aku tak tahu caranya harus mulai dari mana untuk menanggapi kata-katamu. Candamu membuatku tertawa terpingkal-pingkal, bahkan aku sampai lupa kalau aku sedang bersedih. Kau terlalu baik dari segala sisi. Awalnya aku tak melihatmu sama sekali sebagai orang yang akan ku percayai, namun pada akhirnya semua kuanggap adalah bonus dari Tuhan yang sedang berusaha membuat rasa percayaku kepada orang kembali dengan pertemuanku denganmu. Perlahan, mulai tampak dalam bayangan malamku, rasa takut itu muncul lagi. Aku tak ingin memberitahumu pada awalnya, karena ku anggap itu hanya akan bertahan sebentar. Lama kelamaan, aku mulai menunggu sapaan darimu dan setiap kali senja tiba, aku kembali merasa takut akan semua rasa itu. Menurutku, hal ini seperti hantu yang mendatangimu dan hendak mencekikmu pada waktu malam tiba. Sesak dan mulai kacau.

Advertisement

Maaf jika pada akhirnya aku kasar dan menghujammu dengan kata-kata yang tajam. Aku tahu, kau berusaha membuatku tersenyum. Bahkan, berusaha membuatku memaafkan segala sesuatu, kau memiliki hati yang sangat tulus. Tapi, sekali lagi maaf, sepertinya tembok yang kubangun terlalu kokoh, aku tak tahu cara berkata-kata yang baik menyikapimu. Bahkan aku tak tahu cara untuk meminta maaf padamu. Apakah semua akan kembali seperti semula? Kurasa tidak akan pernah sama lagi. Inilah akibatnya dari semuanya itu, hatiku mulai berlari mencari candamu. Ia terlalu membangkang, sehingga ia selalu mencarimu sampai akhirnya kuputuskan semua hal ini. Aku telah merusak segala sesuatu dan agar kau tahu, ini bukan pertama kalinya. Aku dan pemikiranku yang tak pernah kau mengerti, membuatku menjadi kasar agar aku mendapatkan jawaban bahwa semuanya akan menjauh pada waktunya dan aku mulai terbiasa. Jika kau terluka, dari hatiku yang terdalam, maaf aku tak ada maksud seperti itu. Hanya saja, semua kulakukan untuk kebaikan dirimu. Aku tak bisa berpura-pura, kau tahu itu. Aku tak ingin sapaanmu menjadi hal yang membuatku kembali bergantung padamu dan candamu membuatku berpikir terlalu tinggi. Kau memiliki orang yang menyayangimu, dan aku memiliki hati yang baik menerima hal itu. Aku pernah didatangi oleh karma,karena itu  aku tak ingin dihempaskannya lagi kali ini. Kau terlalu baik dan aku adalah wanita yang tak ingin merebut kebahagiaan dalam duniamu itu.

Pertengkaran bukanlah hal yang kusenangi dan sebisa mungkin aku menjauhimu agar kau aman. Lagi, banyak mulut-mulut yang selalu berkata seenaknya, sedangkan mereka tak tahu apa-apa tentang diriku dan masalahku. Jika sampai aku mendengarnya secara langsung, aku akan lebih suka bertatap muka. Namun, seringkali aku mengabaikan orang-orang yang mencibirku, karena kutahu, level mereka berbeda jauh denganku. Dalam hal ini, apa yang kulakukan semua untuk kebaikan dirimu.

Hah. Satu ujian lagi yang harus kulalui dan itu adalah tentang dirimu. Tapi, tak usah kau takut, aku ini aktris yang handal, semua peran dapat kumainkan dengan baik. Lihatlah diriku, aku tak takut lagi. Kau tak perlu bersembunyi, tapi kau pun tak perlu menyapa, aku tak peduli. Aku baik-baik saja. Kali ini aku akan pergi, dan semua akan kembali seperti semula. Ya, seperti hari di mana kita hanya mengenal nama satu dan lainnya. Sebelum semuanya berlalu, terima kasih untuk semangat yang pernah kau hidupkan itu. Sekarang pergilah, karena aku pun hendak beranjak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya