Disibakannya penutup jendela kamarnya itu dengan tangannya yang mungil. Secercah cahaya mulai memasuki kamarnya, tersenyum menyambut pagi. Senyumnya yang dapat membuat semut-semut mengurungkan niat mereka tuk berburu gula di dalam toples yang terdapat sedikit celah antara toples dan tutupnya. Itu semua karena ia lebih manis dari gula sekalipun, bahkan lebih halus dari aci karambol yang kugunakan untuk melicinkan papan karambol agar tidak serat dan macet ketika memainkannya.


Pergi ke sekolah sendirian, ditemani angin semilir pagi yang sepoi-sepoi. Sambil melirikan nada-nada keindahan dan kedamaian, kau membawa suasana cerah di pagi hari bagi sekelilingmu. Sampai rerumputan pun bermekaran dan daun putri malu juga mengkuncupkan daunnya, sebab kalah indah dengan keindahanmu, semuanya tersipu, tak terkecuali aku.


Advertisement

Seperti biasa, hari-hari dipenuhi tugas selalu tak pernah menunjukan kapan akan using. Dan tibalah waktunya membahas soal-soal tersebut, kami sekelas pun duduk di bangku masing-masing, salah satu tugas pelajaran kimia yang diberikan pak guru dua hari yang lalu, masih tentang hukum Newton I, II dan III.

Tak kusangka, kau ditunjuk oleh pak guru untuk membahas soal-soal dalam tugas, dan para murid diperintahkan untuk menjawab soal dengan bersama. Dengan sigap ia maju membawa buku paketnya langsung dan mengambil spidol di atas meja yang terletak dekat dengan papan tulis. Semua mata tertuju padanya, siapa yang tak kenal murid berprestasi di kelas, cerdas pula. Soal demi soal dibahas, dan pak guru juga tak lupa menunjuk beberapa dari kami untuk menulis jawabannya di papan tulis, alasannya simpel, agar kami bisa mengerjakan tugas pak guru.

Tak ingin rasanya mata ini berpindah dari melihatnya yang sedang berdiri di depan kelas. Kini, akhirnya giliran namaku dipanggil, dan aku masih dalam keadaan melamun. Dengan kaget aku menyaut saat namaku dipanggil pak guru. Kemudian aku bingung karena nyatanya aku belum mengerjakan tugas, dan disibukkan melihat pemandangan indah dari wajahnya. Seakan-akan bercahaya seperti mutiara dari dasar lautan terdalam, tanpa bisa mengelak, aku pun maju.

Advertisement

Tapi, sebelum maju ia memberikan kode, ia menyadari bahwa aku belum mengerjakan tugas dan memerintahkan untuk mengambil buku tulis miliknya di samping meja tepat di dekat mejaku. Ia duduk di kursi sebelah orang yang duduk di sebelahku, tidak jauh jarak duduk di antara kami. Dengan mengisyaratkan menggunakan anggukan kepala yang mengarah pada mejanya, dalam sekejap aku langsung paham apa yang diinstruksikannya. Lalu, langsung aku ambil buku tulisnya ketika pak guru sedang membersihkan kacamata dari debu-debu yang menempel di atasnya.

Rasanya senang sekali ketika melihatnya berbaik hati meminjamkan buku tulisnya padaku. Ditambah kedipan matanya yang bagaikan permata bercahaya di tengah sepinya malam. Saking senangnya aku, sampai sulit menuliskan jawabannya di papan tulis, bahkan saking sulitnya, aku pun terjatuh dan terjatuh.

Aku lihat jam menunjukan pukul satu dini hari yang ternyata tadi itu hanyalah mimpi. Mimpi seorang jomblo, tak apalah ucapku dalam hati. Setidaknya aku pernah bertemu dirimu, mutiara terindah yang tercipta dalam mimpi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya