Suara roda-roda kereta masih terngiang di telingaku. Baru saja kau enggan melepas pelukkanmu. Baru saja kau memelukku sangat erat. Baru saja kita bertatap seakan akan saling merindu. Baru saja aku menutup mata yang nyatanya aku takut, aku tak berani bahkan tak sanggup untuk membukanya kembali.

***

Sepatu kaca memang milik Cinderella, tapi kamu mengatakan kamu adalah Cinderella karena kamu suka menyebutku sepatu kaca. Sepatu kaca yang membuatmu menjadi pusat perhatian diantara wanita-wanita lain. Sepatu kaca yang membuatmu percaya diri untuk melangkah. Sepatu kaca yang sungguh membuatmu terlihat anggun di kerumunan. Kamu memang seperti Cinderella, tapi ini bukan kisahmu, ini kisahku sang sepatu kaca.

***

“Bang..,” “Bisa kamu antar aku pulang, aku ingin pulang.” “Sudah dua bulan lebih aku tak pulang, aku rindu emak, aku rindu bapak, aku rindu adikku, aku rindu tereng dan meli kedua anjingku.” “Sudah dua bulan aku tak makan nasi rumah. Sudah dua bulan aku tak makan sayur buatan emak. Sudah dua bulan aku tak lihat bapak membelah kayu. Sudah dua bulan aku tak melihat adikku mencari sendalnya disembunyikan tereng atau meli. Sudah dua bulan.” “Bang..,”

Advertisement

“Cin..,” Cinderella tentunya. “Sudah dua bulan aku tak makan makanan buatan emakmu. Sudah dua bulan aku tak mengopi dengan bapakmu. Sudah dua bulan aku melihat adikkmu mengejar-ngejar tereng atau meli.” “Sudah dua bulan, ayo kuantar pulang.”

***

Hanya sepatu kaca yang tersisa dalam kisah Cinderella. Bukan dua kuda putih penarik kereta, bukan gaun indah yang memantulkan cahaya lampu istana, bukan kereta berbentuk labu berlapis emas, tapi sepatu kaca. Kamu suka bertutur, aku adalah sepatu kacamu, hingga hanya aku yang tersisa, aku suka.

***

“Bang..,” “Kamu ingatkan kisah Cinderella? Kisah dimana seorang gadis terlihat anggun, terlihat menarik, terlihat cantik, dan menjadi pusat perhatian karena sepatu kaca.” “Kamu ingatkan sepatu kaca yang ditinggalkan Cinderella? Kamu tahu kenapa hanya sepatu kaca yang tidak berubah wujud? Karena sepatu kaca pemberian peri, bukan sesuatu yang diubah peri. Bukan labu kuning yang berubah menjadi kereta emas berlapis emas.

Bukan celemek memasak yang berubah menjadi pakai pesta yang memantulkan cahaya lampu istana. Bukan dua tikus putih yang berubah menjadi kuda putih yang gagah layaknya tunggangan pangeran. Kamu ingatkan Bang?” “Sepatu kaca Bang. Satu-satunya yang masih utuh, sejak Cinderella meninggalkannya di tangga istana karena terpeleset. Satu-satunya yang ia tinggalkan untuk tanda, untuk petunjuk tentang dirinya. Sepatu kaca yang satu-satunya tidak berubah Bang.” “Ingatkan Bang dengan dongeng itu?”

“Cin..,” “Aku ingat kisah itu. Kisah dimana Cinderella berubah menjadi pusat perhatian karena sepatu kaca itu. Kisah dimana sepatu kaca menjadi petunjuk untuk pangeran.” “Aku ingat kisah itu. Kisah yang belum lengkap darimu itu. Kamu ingatkan sepatu kaca hanya akan pas untuk Cinderella seorang. Kisah dimana pangeran keliling ke segala penjuru kerajaan, bahkan sampai ke kerajaan lain untuk mencari pemilik sepatu kaca itu.

Banyak wanita-wanita mencoba sepatu itu untuk menyakinkan pangeran dialah pemilik sepatu kaca itu. Para gadis-gadis dengan bibir ranumnya, atau para janda yang terlihat tampak genit, bahkan wanita bersuami menawarkan diri mencoba sepatu kaca, tapi tak ada yang pas sama sekali. Hanya Cinderella yang pas menggunakan sepatu kaca itu. Kamu ingatkan?”

***

Aku ingat saat kamu memelukku erat dari belakang. Kamu membisikan “sepatu kaca” dipunggungku. Saat itu terasa menyenangkan karena kamu memanggilku sepatu kaca, panggilan yang beda dari pasangan lain. Aku ingat saat kamu menatap mataku lama. Kamu membisikan “sepatu kaca” dari bibirmu. Saat itu terasa menyenangkan karena kamu memanggilku sepatu kaca, satu-satunya yang utuh dari kisah Cinderella.

***

“Bang..,” “Kamu ingatkan sepatu kaca? Satu-satunya yang masih utuh dalam kisah Cinderella. Aku ingin kamu seperti sepatu kaca Bang. Satu-satunya yang masih utuh dalam kisah Cin. Maukan Bang?” “Kamu maukan Bang menjadi seperti sepatu kaca. Satu-satunya yang masih utuh. Satu-satunya yang pas buat satu orang saja. Maukan Bang?”

“Cin..,” “Aku ingat sepatu kaca. Satu-satunya yang masih utuh dalam kisah Cinderella. Kamu ingin aku seperti sepatu kaca Cin? Kalau itu maumu, aku akan seperti sepatu kaca.” “Kalau itu maumu, aku akan seperti sepatu kaca. Menjadi satu-satunya yang masih utuh. Satu-satunya pas untuk satu orang saja.”

***

Aku ingat setiap kali bertemu, setiap kali bertatap mata, setiap kali kamu berbisik “sepatu kaca.” Kamu seperti tidak bosan untuk membisikannya. Sama seperti di sore itu, sore menuju senja. Sore di stasiun, sore dimana kamu akan melancong ke kota orang. Sore dimana kamu mendekapku erat, seakan akan saling merindu.

Aku ingat saat bibirmu berbisik “sepatu kaca” di seberang cendela gerbong kereta. Kamu seperti tidak bosan membisikannya. Dernyit roda-roda kereta terngiang di telingaku. Lambaian tanganmu dari seberang cendela semakin samar. Baru saja aku menutup mata yang nyatanya aku takut, aku tak berani bahkan tak sanggup untuk membukanya kembali.

***

“Cin..,” “Kamu ingat kisah Cinderella yang suka kamu ceritakan itu? Kamu suka sekali cerita dongeng itu. Bukan pangeran yang menemukan puteri dengan keliling ke segala penjuru kerajaan, bahkan melawat ke kerajaan lain. Kamu suka sekali cerita tentang sepatu kaca yang tertinggal dalam upaya pelarian Cinderella sebelum tengah malam. Kamu suka sekali cerita sepatu kaca yang satu-satunya utuh. Kamu ingatkan suka cerita tentang itu?”

“Cin..,” “Kamu ingat kisah Cinderella yang suka kamu ceritakan itu? Kamu suka sekali cerita dongeng itu. Kamu ingat, kalau kamu melupakan sesuatu, kamu melupakan inti cerita Cin. Dongeng itu bukan sepatu kaca, dongeng itu tentang kisah cinta Cinderella dan Pangeran dan Kerajaan. Bukan tentang sepatu kaca, yang satu-satu utuh itu.” “Kamu ingat kan Cin? Tentu kamu ingat, tapi melewatkannya Cin.”

***

Belum dua bulan dernyit kereta terngiang di telingaku, yang membuatku menutup mata yang nyatanya aku takut, aku tak berani bahkan tak sanggup untuk membukanya kembali. Baru dua bulan sejak kamu berbisik “sepatu kaca” dari seberang kereta di sore menuju senja itu. Baru dua bulan sejak kamu memelukku erat, seakan akan saling merindu. Baru dua bulan kisah Cinderella dan sepatu kaca kamu ceritakan berulang.

Baru dua bulan hingga membuatku menutup mata yang nyatanya aku takut, aku tak berani bahkan tak sanggup untuk membukanya kembali. Baru dua bulan dongeng itu, kisah cinta Cinderella dan Pangerjan dari Kerajaan kudengar dan yang tertinggal di tangga kerajaan kini hanya sepatu kaca.

Baru dua bulan, aku bercerita dongeng itu tentang Cinderella dan Pangeran dari Kerajaan, bukan tentang sepatu kaca. Baru dua bulan, dan aku tahu aku. Aku hanyalah sepatu kaca, seperti kereta berbentuk lau berlapis emas, seperti dua kuda putih yang gagah penarik kereta, seperti gaun pesta yang memantulkan cahaya lampu istana.

***

“Bang..,” “Bukannya sepatu kaca itu gampang pecah, rapuh yaa?”

***

Ini kisahku sang sepatu kaca, yang satu-satunya tertinggal, dan rapuh.

ajibandy