Orang tua tentu ingin kesehatan sang anak selalu terjaga dengan baik, termasuk kesehatan gigi. Kesehatan gigi dan mulut tentu sangat penting bagi setiap orang. Selain berdampak pada estetika, kerusakan gigi juga dapat berakibat pada tumbuh kembang seseorang, terlebih pada anak-anak. Anak-anak yang belum bisa memilih makanan yang baik atau tidak, dapat membuat mereka mampu memakan apapun yang mereka sukai. Jika dibiarkan terus-menerus, mengkonsumsi sembarang makanan dapat menjadi kebiasaan buruk pada anak yang merusak gigi.

Orang tau sebaiknya mendampingi sang anak ketika menyikat gigi, agar dapat mengajarkan bagaimana cara menyikat gigi yang benar.

Memeriksakan kebersihan gigi dan mulut sejak dini penting adanya. Orang dewasa disarankan untuk ke dokter gigi setiap enam bulan sekali, sedangkan anak-anak disarankan untuk ke dokter gigi setiap tiga sampai empat bulan sekali. Ini karena anak yang masih berada dalam tahap tumbuh kembang, sehingga dokter dapat melakukan tindakan preventif pada anak jika teridentifikasi masalah gigi.

Kerusakan gigi pada anak ini tentu tidak terjadi begitu saja dan dalam waktu singkat. Berikut ini beberapa kebiasaan buruk pada anak yang dapat merusak gigi:


  • Tidak menyikat gigi sesuai anjuran

Advertisement

Sebagian besar orang Indonesia hanya menyikat gigi saat mandi pagi dan mandi sore, padahal waktu yang paling tepat untuk menyikat gigi adalah setiap selesai makan dan sebelum tidur. Hal ini dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50 persen. Selain itu juga harus menyikat gigi dengan cara yang tepat, yaitu dari arah gusi ke gigi, sehingga tidak mengikis gusi. Ketika menyikat gigi atas, lakukan dari atas ke bawah. Sedangkan ketika menyikat gigi bawah, lakukan dari arah bawah ke atas. Kemudian untuk gigi geraham harus disikat pada permukaannya.


  • Mengisap ibu jari

Para orang tua biasanya akan membiarkan sang anak mengisap ibu jari mereka, karena hal ini dapat membuat anak merasa nyaman dan tidak rewel. Namun ternyata kebiasaan seperti ini dapat memengaruhi kontur rahang atau terjadinya maloklusi. Tentu saja ini akan berpengaruh pada proses mengunyah makanan. Penting bagi orang tua untuk segera melarang anak memasukkan ibu jari atau jari lain pada mulut.


  • Minum susu dari botol dot

Pada umumnya, orang tua akan membiarkan anak meminum susu dari botol dot, padahal kebiasaan ini dapat membuat gigi anak berlubang dan dapat menyebabkan terjadinya molkulasi.

Ketika menyusui melalui botol dot, mulut akan tertutup, begitu pula dengan lidah, sehingga gigi atas dan geraham belakang akan terendam oleh susu. Tidak hanya itu, aliran saliva pada mulut pun akan berkurang sehingga tidak ada cairan pembersih mulut. Proses seperti ini apabila dibiarkan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, akan membentuk karies secara bertahap.

Hal ini dapat dicegah dengan beberapa cara. Misalnya, dengan meminum air putih setelah susu, dan ketika anak sudah memasuki usia dua tahun, mulailah ajari mereka untuk minum susu melalui gelas, sedotan, atau sendok. tentu saja tidak membiasakan anak minum susu melalui botol dot.


  • Mengkonsumsi makanan dan minuman berkadar gula tinggi

Mengkonsumsi makanan dan minuman manis membuat derajat keasaman yang ada pada rongga mulut meningkat, sehingga memicu terbentuknya plak pada gigi dan produksi asam oleh bakteri juga semakin sering. Selain itu, email gigi juga menjadi rentan terhadap gigi berlubang. Sebaiknya jangan terlalu sering memberikan anak makanan dan minuman yang berkadar gula tinggi. Cobalah untuk memberi makanan dan minuman lain seperti sayuran dan buah-buahan yang di jus yang memiliki gizi dan vitamin yang juga bermanfaat bagi tubuh kembang anak.


  • Menyimpan makanan terlalu lama di rongga mulut

Menyimpan makanan di rongga mulut dalam waktu yang lama bisa memicu gigi berlubang. Hal ini disebabkan karena saat mulut tertutup, produksi saliva akan berkurang. Padahal masih ada karbohidrat yang tersisa di dalam mulut sehingga bakteri akan difermentasikannya menjadi asam. Untuk itu, penting bagi orang tua memberikan makanan padat sesuai tahap perkembangan usia anak. Misalnya, dengan membuat makanan yang tidak terlalu lembut atau bertekstur.


  • Menggigit kuku, pensil, atau benda Keras lain

Selain mempengaruhi kontur rahang, kebiasaan menggigit benda keras juga bisa membuat gigi mengalami fraktur atau keretakan. Biasanya, anak yang gemar menggigit-gigit benda akan mengalami crossbite, yaitu posisi gigi bawah yang lebih maju ketimbang gigi atas.

Untuk menghindarinya, orang tua bisa terus mengingatkan anak agar tidak memasukkan benda asing selain makanan dan minuman ke dalam mulut.


  • Tidak memeriksakan gigi secara rutin

Sejak anak masih berusia dini, orang tua seharusnya sudah membiasakan untuk berkunjung ke dokter gigi agar anak terbiasa hingga dewasa. Berdasarkan Survei Nasional yang bekerja sama dengan Pepsodent, PDGI, dan IPKESGIMI pada 2015-2016, sebanyak 60,4 persen orang tua hanya akan mengajak anak ke dokter gigi apabila telah terjadi masalah pada gigi si anak. Pada anak-anak disarankan untuk ke dokter gigi setiap tiga sampai empat bulan sekali. Ini karena anak yang masih berada dalam tahap tumbuh kembang, sehingga dokter dapat melakukan tindakan preventif pada anak jika teridentifikasi masalah gigi.