Maaf nih, numpang nanya ya. Maklum lagi agak pusing. Karena dapat undangan 2 buah yang waktunya tabrakan, berbarengan. Jadi bingung. Agak sulit mutusinnya.

Yang kesatu, undangan jamuan makan malam dengan Pak Presiden.

Yang kedua, undangan pengajian dan malam amal untuk anak-anak yatim.

Kalo boleh nanya, undangan mana yang akan kita hadiri?

Seandainya itu terjadi pada saya. Sepertinya saya akan pilih untuk hadir di undangan yang kesatu. Datang ke jamuan makan malam dengan Pak Presiden. Lebih prestise. Lebih keren. Presiden gitu lhoo… Iya juga ya.

Advertisement

Malah kalo perlu, saya akan mempersiapkan momen undangan makan malam dengan Pak Presiden jauh-jauh hari. Nyiapin pakaian yang paling keren. Kalo gak punya, saya bela-belain untuk beli deh. Dandan yang rapih biar kelihatan ciamik. Wajar dong, secara mungkin kesempatan itu gak bakal datang dua kali dalam hidup saya. Sedangkan ke pengajian dan malam amal anak-anak yatim kan bisa kapan saja. Nanti aja pas ada waktu. Iya bener banget.

Kenapa pilih undangan kesatu, ikut jamuan makan malam bukan ke pengajian?

Ya tentu dong. Undangan jamuan makan malam kan lebih prestise, bergengsi. Bisa buat kebanggaan pribadi. Hadir ke undangan jamuan makan malam Pak Presiden itu soal besar. Kalo pengajian kan cuma soal kecil. Iya juga ya, bener banget lagi.

Kalo dipikir, emang bener juga sih. Kita emang lebih senang dengan urusan “besar” daripada urusan “kecil”. Sayangnya, itu cuma buat urusan dunia. Bukan urusan akhirat. Tarikan dunia emang cukup menggoda. Sampe-sampe kita gak sempat atau gak mau ngelakonin urusan kecil tapi berat timbangannya di akhirat. Andai saja kita tahu, ngaji bareng anak yatim itu jauh lebih berat timbangan akhiratnya dibanding jamuan makan malam dengan Pak Presiden sekalipun.

Dalam beberapa kisah yang pernah kita baca. Ada kisah tentang seorang pezina yang diampuni oleh Allah karena berbaik hati memberi minum anjing yang kehausan. Itu contoh amal kecil yang membawa nikmat teramat besar. Ada juga contoh amal buruk kecil yang membawa petaka teramat besar. Ketika seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya dan tidak diberi makan.

Lalu, mengapa nenek Asyani yang udah tua dan miskin harus dihukum? Harusnya kita yang kasih makan beliau ….

Memang dan mungkin, kita sudah hampir tidak mau lagi menimbang-nimbang amal. Amal baik atau amal buruk bukan lagi soal besar. Mungkin soal surga dan neraka juga bukan soal besar. Semuanya cuma soal remeh temeh semata. Padahal, hanya soal kisah keberlangsungan hidup seekor anjing dan kucing aja bisa nentuin surga atau neraka. Apalagi soal hidup seorang manusia atau masa depan anak-anak.

Menimbang amal. Memang sudah kita lupakan. Tapi gak salah untuk diingat lagi. Mumpung belum terlambat. Mumpung masih hidup. Maka sebelum usia kita habis untuk mengurusi hal-hal yang “nampak besar”, tak ada salahnya kita selipkan amal-amal kecil dan sederhana yang kita bisa. Sering senyum, bikin senang orang lain, gak usah menghujat, memberi salam, saling memaafkan, dan masih banyak lagi deh pokoknya. Emang cuma hal kecil. Ya, amal-amal kecil yang sering kita abaikan justru bisa jadi tangga menuju surga.

Ahhh, gak penting banget sih baca tulisan ini?

Iya. Karena ini soal kecil. Gak besar. Tapi saya sadar, mungkin juga Anda. Kita sering sekali menilai bobot suatu kegiatan hanya dari lahirnya saja. Dari persfektif dunia dan standar manusia semata. Lalu, kita lupa persfektif akhirat. Urusan moral makin-makin diabaikan.

Karena itu, kita perlu kembali menimbang amal-amal kita. Ya, timbang saja amal yang sudah kita perbuat dan belum kita lakukan. Mulai dari yang keil-kecil di dunia tapi besar di akhirat. Jangan di balik ya. Besar di dunia tapi kecil di akhirat.

Emangnya kenapa sih?

Karena sekarang, makin banyak orang yang sering terjatuh bukan karena menabrak batu besar di hadapannya. Tapi mereka terjatuh justru karena tersandung batu kecil yang tak terlihat matanya. Mungkin juga mata hatinya …. Buatlah yang kecil di dunia tapi besar di akhirat. #KecilTapiBesar