Saya disuguhi pemandangan perbukitan yang dipenuhi pohon bambu dan pinus sempanjang perjalanan. Mobil mini van hitam itu meliuk menaiki perbukitan yang terkadang melewati rumah warga disekitar sana yang minimalis terbuat dari kayu dan batu namun terawat dengan baik. Para orang tua terlihat sedang menikmati teh dan makanan kecil di teras rumah masing masing sambil menikmati langit sore.

Setelah 30 menit melewati jalan yang berliku-liku, saya tiba di tempat tujuan. Mobil melambat memasuki area parkir melewati pagar kayu yang bertulisan jepang dengan bahasa inggris di bawahnya bertulisan “Tenryu-ji Temple” atau dalam bahasa Indonesia Kuil Tenryu-ji. Di area parkir sudah terlihat pemandangan khas jepang yaitu pohon sakura di sekitar area parkir walaupun terlihat dengan daun hijaunya karena saat itu Jepang masih berada di posisi musim panas.

Advertisement

Kolam kecil yang dipagari kayu menjadi pemandangan sepanjang jalan setapak batu menuju ke kuil tersebut. Udara sore di musim panas Jepang cukup hangat dan matahari telah setengah terbenam. Sesekali angin berhembus membuat suara bergemericik karena daun yang saling bergesekan.

Kuil Tenryu-ji merupakan peninggalan era Shogun generasi pertama yaitu sekitar awal dari abad ke 14. Kuil ini digunakan oleh penganut kepercayaan Zen untuk berdoa. Kuil yang saya kunjungi bukanlah kuil yang dibangun pada zaman Shogun. Kuil ini sempat terbakar dan pada Zaman Meiji atau tahun 1880, kuil ini direlokasi walaupun hanya mencakup 1/10 dari luas aslinya.

Kuil Tenryu-ji tidak selalu terbuka untuk umum. Kuil ini memiliki jam-jam tertentu untuk turis karena aktivitas peribadatan masih kerap dilakukan didalam kuil. Setelah membeli tiket saya masuk ke dalam kuil tersebut. Di tembok paling depan sebelah pintu masuk terdapat lukisan seorang tokoh. Pemandu perjalanan kami bercerita bahwa masyarakat Jepang memiliki kebiasaan menggambar pendeta atau pemuka agama dari Kuil tersebut saat mereka meninggal pada tembok.

Advertisement

Kami diwajibkan untuk membuka alas kaki saat memasuki kuil tersebut di belakang kuil tersebut adalah sebuah kolam ikan yang dipinggirnya ditanami berbagai macam tumbuhan yang telah diatur sedemikian rupa dan taman yang memanjakan mata. Keindahan dari taman tersebut memanjakan mata.

Kuil ini sangat cocok dijadikan objek wisata. Namun sangat disayangkan saya datang disaat musim panas. Menurut pemandu saya, waktu yang paling tempat untuk datang adalah saat musim semi karena itu disaat bunga sakura bermekaran. Namun datang di musim panas juga menjadi keuntungan karena dapat melihat ikan koi yang berada di kolam.

Saya pulang sambil menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya terdapat hutan bambu. Hutan bamboo ini menjadi objek foto bagi turis-turis di sana. Namun sayang sekali dipertengahan jalan kami harus berbalik arah karena jam untuk hutan bamboo telah ditutup. Kami pulang menyusuri jalan yang sama saat berangkat. Mengunjungi Kuil tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan menjadikan bukti keragaman budaya Jepang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya