Setiap kali melintas di banyak tempat di pusat kota London saya sering terkejut dengan apa yang saya dengar. “Hei, apakah itu Chris Martin sedang menyanyikan Viva La Vida?” Di lain waktu saya hampir yakin saya mendengar Liam Gallagher melantunkan Wonderwall. Tergopoh-gopoh saya mencari sumber suara, ternyata saya belum seberuntung itu karena itu suara seorang busker yang sedang tampil.

Suaranya mirip banget dengan penyanyi aslinya! Di berbagai penjuru kota London, termasuk di tube station (stasiun kereta api bawah tanah), orang yang berlalu lalang bisa menikmati hiburan lewat penampilan para busker. Kata busker bisa diterjemahkan sebagai penampil jalanan, tidak terbatas hanya musisi tapi juga bisa penampil lain.

Advertisement

Busking sebagai bentuk kata kerja dari busker, adalah bentuk kegiatan tampil di tempat umum dengan tujuan untuk menghibur (catat ya, untuk menghibur!) Sebagai imbalannya mereka menerima pemberian sedikit uang atau seridanya si pemberi sebagai bentuk rasa terima kasih karena merasa sudah terhibur. Seringkali penampil juga menerima imbalan dalam bentuk lain seperti makanan atau minuman. Bentuk kegiatan ini sudah eksis bahkan sejak zaman sebelum masehi di berbagai belahan dunia. Bagi sebagian orang, busking dilakukan juga untuk melatih kebolehan alias memperbanyak jam terbang.

Warisan budaya

Di London, jenis penampilan yang lazim ditemui secara garis besar terbagi ke dalam tiga kategori yaitu circle shows (pertunjukan atraksi)¸musicians (musisi jalanan), dan living statues (patung hidup). Busking di London dianggap sebagai aset budaya yang berharga dan oleh sebab itu diusahakan untuk tetap ada. Sudah ratusan tahun para busker ini ikut mewarnai London, terekat menjadi salah satu elemen budaya yang layak dipertahankan karena jalan-jalan di London adalah tempat talenta bertebaran.

Advertisement

Betapa tidak, mereka selalu ada, rain or shine, di segala musim. Tanpa disadari mereka sudah menjadi soundtrack kehidupan banyak orang dan juga berkesan bagi pengunjung kota karena begitu memanjakan indera serta memperkaya rasa.

Busking Scheme

Supaya aktivitas busking ini lebih tertata rapi, di tahun 2015 wali kota London meluncurkan Busk in London, sebuah organisasi yang berperan untuk menjadi jembatan penghubung antara para buskers, pemilik gedung dan lahan, pemerintah dan berbagai dinas terkait lain agar aktivitas busking dapat berjalan dengan teratur.

Mereka juga meluncurkan Buskers’ Code yang wajib dipahami setiap busker. Busker’s Code ini berisikan etika dan segala hal yang harus diketahui busker sehubungan dengan lokasi, peraturan, keamanan, tingkah laku, etika menerima uang, dan lain-lain. Pada intinya, jangan sampai aktivitas busking ini dilakukan secara sembarangan.

Salah satu kesuksesan Busk in London adalah keterlibatannya dengan Transport for London untuk menyelenggarakan London Underground Busking Scheme. Melalui sistem ini, musisi jalanan diperbolehkan tampil di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah yang jelas adalah salah satu sumber keramaian orang berlalu lalang (3,5 juta orang per hari, wow!).

Mereka yang berusia di atas 16 tahun boleh mendaftar untuk ikut audisi. Kalau lolos audisi di hadapan tim juri yang beranggotakan para ahli di bidang industri musik, mereka mendapat kartu izin dan boleh tampil. Mereka mendapat jatah busking 2 jam dan kalau tampil di stasiun-stasiun yang ramai, uang yang terkumpul bisa sampai £60 per jam!

Dari busker jadi penyanyi lagu hits!

Selain busking scheme ini, Busk in London juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dengan tujuan menyediakan kesempatan bagi para musisi jalanan untuk menunjukkan talentanya dalam pertunjukan yang populer dikenal dengan sebutan gig. Ini adalah salah satu misi Busk in London dalam mendorong busker mengembangkan sayapnya menjadi penampil profesional. Jadi tidak heran kalau banyak chart-topper terkenal pernah jadi busker dulu sebelumnya, termasuk Ed Sheeran, Jessie J, Bob Geldof dan Glen Hansard.

Apakah busking sama dengan meminta-minta?

“As a busker, one thing that does not work is self-consciousness. A busker needs to be working. A busker needs to shed all ego and get down to work. Play your songs, play them well, earn your money and don’t get in people’s way.”

Kutipan di atas datang dari Glen Hansard, penyanyi lagu hits Falling Slowly, yang mengawali karirnya sebagai busker di Dublin. Samakah busking dengan meminta-minta? Kalau melihat segala bentuk usaha dan totalitas yang harus ditempuh busker di London untuk bisa tampil, rasanya sih beda banget. Para busker betul-betul harus berusaha dan rajin berlatih untuk memberikan pertunjukan yang bisa dinikmati, bukan asal tampil. Jadi itulah sebabnya mengapa busker London selalu membuat tidak hanya penduduk kota namun juga pelancong sangat terhibur.

Spot paling asyik di London untuk menikmati penampilan busker.

Kalau memiliki kesempatan berkunjung ke London, mampir deh ke tempat-tempat ini: Leicester Square, Trafalgar Square, Oxford Circus, Piccadily Circus, Southbank, Covent Garden dan Camden. Di sana, kita bisa menemukan banyak busker unik. Menikmati penampilan para busker dengan latar belakang arsitektur serta pemandangan kota London yang indah pasti akan jadi pengalaman yang berkesan. Selain di tempat-tempat tadi, bersiaplah mendengar suara-suara asyik yang melantunkan lagu-lagu dari berbagai jenis musik saat berada di stasiun tube.

Pada bulan Juli 2018 nanti, di London akan diselenggarakan event yang dinantikan-nantikan warga kota London juga pelancong dari berbagai belahan dunia. Event ini diberi nama International Busking Day 2018. Penampil jalanan dari berbagai kota di enam benua akan ikut meramaikannya. Kalau berminat, kamu juga bisa daftar untuk ikut lho! Lokasi acara, Trafalgar Square, pasti akan jadi meriah dan saya sudah tidak sabar untuk menikmati berbagai pertunjukan dari para buskers! Sampai jumpa di London!

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya