Gen Z sering disebut sebagai generasi yang tidak betah bekerja. Mereka dianggap mudah resign, cepat bosan, terlalu menuntut work-life balance, hingga tidak memiliki loyalitas terhadap perusahaan.
Anggapan gen Z disebut tidak betah kerja memang muncul bersamaan dengan meningkatnya pembicaraan tentang job hopping di kalangan pekerja muda hari ini. Namun, apakah Gen Z benar-benar lebih tidak betah bekerja dibandingkan generasi sebelumnya?
Ulasan kami kali ini akan mencoba memberikan breakdown-nya berdasarkan data lapangan yang tersedia. Scroll down untuk simak bahasan lengkapnya!
Uang Masih Menjadi Prioritas Utama

Sumber gambar: canva.com
Salah satu fakta yang menarik tentang Gen Z Indonesia adalah ternyata mereka cukup pragmatis ketika berbicara tentang karir.
Dalam survei global dari Deloitte, 34% Gen Z Indonesia menyebut kemandirian finansial atau financial independence sebagai tujuan karir utama. Angka ini menunjukkan bahwa pekerjaan bagi Gen Z tidak hanya berkaitan dengan passion, pengalaman, atau jabatan, tetapi juga kemampuan untuk mencapai kondisi finansial yang lebih mandiri.
Temuan tersebut bisa membantu menjelaskan mengapa sebagian pekerja muda bersedia mempertimbangkan pindah pekerjaan.
Jika sebuah pekerjaan tidak memberikan perkembangan kompensasi, peluang belajar, atau prospek karir yang dianggap memadai, berpindah perusahaan bisa dipandang sebagai salah satu cara untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Jadi, job hopping tidak selalu berarti seseorang cepat bosan bekerja. Dalam kondisi tertentu, keputusan pindah juga bisa menjadi strategi karier.
Bukan Jabatan yang Menjadi Satu-Satunya Ukuran Sukses

Sumber gambar: canva.com
Menyebarnya anggapan gen Z disebut tidak betah kerja juga besar kemungkinan terkait dengan perbedaan standar ukuran sukses dalam karir.
Berasal dari sumber survei global yang sama “Deloitte”, didapati bahwa Gen Z Indonesia menunjukkan perhatian terhadap beberapa aspek karir selain posisi struktural, termasuk pengembangan diri dan keseimbangan kehidupan kerja.
Secara global, temuan tersebut juga menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan karir utama.
Hal ini merefleksikan adanya perubahan cara memandang karir.
Bagi sebagian pekerja muda, keberhasilan tidak harus selalu berarti menjadi manajer atau menduduki posisi paling tinggi dalam struktur organisasi. Keahlian, pendapatan, fleksibilitas, pengalaman, dan kualitas hidup juga bisa menjadi bagian dari definisi kesuksesan.
Work-Life Balance Memang Berkaitan dengan Keinginan Pindah

Sumber gambar: canva.com
Faktor lain terkait stigma gen Z disebut tidak betah kerja juga terkait dengan work-life balance.
Sebuah penelitian terhadap Gen Z di Indonesia yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa work-life balance memiliki hubungan signifikan dengan turnover intention. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin baik persepsi pekerja terhadap keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, semakin rendah kecenderungan mereka untuk berniat meninggalkan pekerjaan.
Artinya, ketika Gen Z mengatakan bahwa mereka menginginkan batas yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan rendahnya etos kerja.
Bisa jadi mereka sedang menilai apakah pekerjaan tersebut masih sepadan dengan waktu dan energi yang harus dikeluarkan.
Masalahnya Bukan Cuma Gen Z, tetapi Juga Kondisi Tempat Kerja

Sumber gambar: canva.com
Penelitian yang lebih besar terhadap 539 pekerja Gen Z di Indonesia memberikan gambaran yang lebih luas mengenai faktor yang berkaitan dengan turnover intention.
Penelitian tersebut menguji berbagai faktor, termasuk stres kerja, pengembangan karier, beban kerja, kompensasi, lingkungan kerja non fisik, dukungan organisasi, komitmen organisasi, burnout, ketidakamanan kerja, dan work-life balance.
Hal ini penting karena menunjukkan bahwa keinginan pindah pekerjaan tidak bisa dijelaskan hanya dengan karakter generasi.
Ada faktor organisasi yang ikut berperan.
Jika karyawan merasa tidak mendapatkan dukungan, tidak memiliki kesempatan berkembang, menghadapi beban kerja tinggi, atau tidak memperoleh kompensasi yang dianggap sesuai, kemungkinan munculnya keinginan untuk mencari pekerjaan lain menjadi lebih masuk akal.
Dengan kata lain, pertanyaan tentang “mengapa Gen Z tidak betah?” seharusnya tidak hanya diarahkan kepada pekerjanya, tetapi juga kepada lingkungan kerja yang mereka hadapi.
Karir yang Tidak Berkembang Bisa Menjadi Masalah

Sumber gambar: canva.com
Bagi pekerja yang baru memasuki dunia kerja, beberapa tahun pertama merupakan periode penting untuk membangun keterampilan.
Karena itu, pekerjaan yang memberikan tugas berulang tanpa kesempatan belajar bisa menjadi kurang menarik bagi sebagian Gen Z.
Studi terbaru di Indonesia mengenai employee turnover pada Gen Z menunjukkan bahwa career development, employee welfare, dan work-life balance adalah faktor yang berkaitan dengan kecenderungan bertahan atau meninggalkan pekerjaan.
Hal ini juga membantu menjelaskan mengapa kenaikan gaji saja belum tentu cukup untuk mempertahankan pekerja muda.
Jika kompensasi meningkat tetapi tidak ada perkembangan keterampilan, jalur karir, atau dukungan dari perusahaan, karyawan tetap bisa mempertimbangkan peluang lain.
“Tidak Betah” Tidak Sama dengan “Tidak Mau Bekerja”

Sumber gambar: canva.com
Stigma Gen Z disebut tidak betah kerja atau malas pada dasarnya perlu digunakan secara hati-hati.
Data Indonesia yang tersedia lebih banyak mengukur turnover intention, yaitu keinginan atau kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan, bukan membuktikan bahwa Gen Z benar-benar lebih sering resign dibandingkan semua generasi lainnya.
Perbedaan ini penting.
Seseorang yang memiliki niat pindah pekerjaan belum tentu benar-benar mengundurkan diri. Keputusan tersebut bisa dipengaruhi kondisi ekonomi, peluang kerja, kondisi perusahaan, kebutuhan finansial, hingga situasi pribadi.
Karena itu, data tentang turnover intention tidak boleh diterjemahkan secara langsung sebagai angka resign aktual.
Jadi, Benarkah Gen Z Disebut Tidak Betah Kerja?

Sumber gambar: canva.com
Data menunjukkan bahwa anggapan gen Z disebut tidak betah bekerja adalah label yang terlalu sederhana.
Gen Z memang memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap pekerjaan. Mereka lebih banyak mempertimbangkan keseimbangan hidup, kesehatan dan kesejahteraan, kesempatan belajar, makna pekerjaan, serta stabilitas finansial. Namun, faktor-faktor tersebut bukan berarti mereka tidak memiliki ambisi.
Berdasarkan data, mayoritas Gen Z tertarik pada posisi kepemimpinan. Persoalannya, hanya sebagian kecil yang menjadikan posisi tersebut sebagai tujuan utama. Mereka lebih mempertimbangkan trade-off antara tanggung jawab, kesejahteraan, dan kehidupan pribadi.
Pada akhirnya, anggapan gen Z disebut tidak betah kerja lebih tepat dilihat sebagai perubahan hubungan antara pekerja muda dan dunia kerja. Mereka tidak selalu menolak bekerja keras, tetapi semakin selektif terhadap apa yang dianggap layak dipertukarkan dengan waktu, energi, dan kehidupan pribadi.
Jadi, sebelum menyebut Gen Z sebagai generasi yang mudah resign, ada pertanyaan yang lebih relevan untuk diajukan: apa yang membuat mereka merasa tidak memiliki alasan yang cukup untuk bertahan?