Zaman sekarang, semua hal sudah berbau instant, atau cepat saji. Mulai dari makanan yang dapat disajikan hanya dalam waktu lima menit, pengiriman barang yang dapat dilakukan kurang dari satu hari, hingga film-film yang dapat diakses melalui berbagai platform, dimanapun dan kapanpun. Semua yang serba instant ini pastinya mempermudah kita untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan dengan cepat dan mudah. Hal itu pastinya sangat menguntungkan, bukan?

Sebenarnya hal-hal tersebut dibuat untuk mempermudah manusia dalam melakukan suatu hal. Dengan begitu, kita tidak perlu repot-repot berusaha untuk memperoleh berbagai hal dalam hidup kita. Sebagai contoh, kita tidak perlu lagi membuatu mie dari tepung. Dengan mie instant, kita hanya perlu merebus air hingga mendidih, lalu memasukkan mie kedalam air tersebut. Waktu tidak akan terbuang secara sia-sia untuk sekedar makan dan dapat melakukan aktivitas lain. Hal ini yang dapat membantu kita untuk lebih memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya.

Advertisement

Contoh kecil lain dari hal-hal yang cepat saji ialah komunikasi. Zaman sekarang, tidak perlu lagi menunggu kabar dari sanak saudara kita di luar kota dalam hitungan hari. Cukup dengan hentaman jari dan hitungan detik, kita dapat mengetahui kabar mereka secara rinci. Bahkan, kita dapat dengan mudah melihat hal-hal yang mereka lakukan tanpa perlu bertanya kepada mereka. Hal ini yang membuat banyak teman-teman lama pada akhirnya dapat saling berkabar, bercengkrama, dan bertemu setelah tidak bertemu dalam hitungan tahun.

Sekarang, semua sudah dipermudah dengan adanya teknologi yang membuat semuanya serba instan menjadikan manusia memiliki budaya baru, yaitu budaya instan. Hal ini mendorong manusia untuk menjadi ketergantungan akan hal-hal yang instant tersebut, dengan kata lain, kita menjadi manja akan hal-hal tersebut. Dengan begitu, kita tidak akan mau merasakan susah dan kita tidak akan terbiasa dengan hal-hal yang harus dirakit terlebih dahulu.

Hal pertama yang harus dikhawatirkan oleh anak-anak zaman sekarang ialah mental. Mental mereka yang serba mudah akan menyebabkan mereka cepat kecewa dan frustasi saat ada hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Contohnya ialah komunikasi yang dapat dilakukan secara cepat dengan bantuan sinyal, harus pending selama beberapa menit karena ada gangguan pada sinyal tersebut. Walaupun pada akhirnya pasti terkirim, namun rasa tidak sabar mereka akan terkirimnya pesan tersebut tepat setelah mengirimkan pesan tersebut akan menjadi rasa frustasi karena pesan tersebut harus pending selama tiga hingga lima menit. Padahal, tiga menit sebenarnya merupakan hal yang sangat singkat dan tidak terasa jika tidak dipikirkan.

Advertisement

Manja akan hal-hal yang berbau instant membuat manusia tidak lagi menghargai nilai dari usaha tersebut. Kini, orang-orang berpikir mengenai bahwa proses itu tidak penting, yang penting hanyalah hasil. Dari pemikiran tersebut, muncul tindakan-tindakan yang mengedepankan hasil dibandingkan proses, seperti contoh: menyontek. Budaya instant tidak akan menilai proses belajar untuk memahami sebuah materi, melainkan hasil ujian dari materi tersebut. Menyontek merupakan hal yang sangat lumrah sekarang ini, dan budaya menyontek ini sendiri timbul karena manusia yang selalu ingin mudah dalam melakukan apapun.

Budaya instan sendiri juga melahirkan jiwa-jiwa yang malas. Dengan semua yang serba instant dan tidak berproses, akan menyebabkan manusia di zaman sekarang lebih suka berdiam diri dan tidak melakukan apapun, dan hanya melakukan hal-hal yang mereka inginkan disbanding hal-hal yang mereka harus lakukan. Hal ini menjadikan kita menjadi lebih malas dalam melakukan apapun dan cenderung mengandalkan orang atau hal lain dalam melakukan sesuatu.

Jiwa yang malas tersebut juga akan berpengaruh kedalam kreativitas kita dalam membuat dan melakukan sesuatu. Semua yang instant membuat kita tidak lagi berpikir inovasi yang dapat kita kreasikan melainkan mengikuti template yang ada dan ala kadarnya. Hal ini tentu sangat berpengaruh kepada diri sendiri, orang-orang disekitar kita, hingga bangsa. Kreativitas yang sangat berguna untuk memajukan bangsa kini tidak lagi ada karena kita cenderung apa adanya dan tidak mau berpikir mengenai inovasi. Padahal, inovasi dan ide-ide dapat secara tidak langsung menjual nama baik Negara.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah upaya dalam budaya ini. Kita perlu sadar bahwa kita tidak dapat selamanya mengandalkan hal-hal yang berbau instant atau cepat saji ini. Kita perlu melatih otak kita untuk hal yang berliku-liku. Dengan begitu, kita tidak hanya memperoleh hasil namun juga menghargai proses dari hasil tersebut. Maka dari itu, penggunaan hal-hal yang mempermudah kita harus diminimalisir.

Namun, kita dapat menggunakan hal-hal tersebut untuk mempermudah kita dalam melakukan sesuatu. Sebagai contoh, kita dapat seminggu sekali mengabari teman-teman dan sanak saudara kita supaya kita tidak lost contact dengan mereka. Tinggal bagaimana kita pintar-pintar mengatur diri kita untuk tidak terlalu bergantung pada hal-hal yang instant tersebut.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya