Teruntuk kamu di sana…

Kuharap kau membaca tulisan kecil ini.
Aku pernah bertanya bagaimana seseorang jatuh cinta bisakah ia memilih kepada siapa ia harus jatuh cinta. Mampukah ia menahan sakitnya saat cintanya telah usai. Ataukah bagaimana ia bertahan saat sakit itu datang. Namun, semua hanya mengatakan bahwa cinta kelak akan menguatkanmu.

Advertisement

Aku pernah mencintaimu sangat dalam hingga aku bahkan tak peduli dengan rasa sakit itu karena aku yakin dan percaya kau pun juga begitu. Aku dengan begitu sederhana, seserdehana kata yang tidak dapat kuungkapkan. Dan aku juga mencintaimu dengan sederhana, seserdehana hujan yang jatuh menimpa bumi.

Aku pun pernah berada di sisimu, menemanimu saat kau lelah hingga kau lelap dalam dunia mimpimu. Aku juga pernah bersamamu, menapaki tiap anak tangga kehidupan yang kau lewati. Aku pernah menemanimu bermimpi dan merangkai mimpi itu. Aku juga pernah menemanimu dan menyembuhkanmu saat kau terluka.

Aku melewati setiap hari denganmu, berjalan beriringan pada jalan setapak yang licin itu. Bersenandung riang melewati senja yang tergelincir diujung barat. Atau sekedar bercengkrama dibawah pohon akasia itu hingga angin membawa kita ke dunia fantasi. Aku pun pernah bersamamu menikmati tetes – tetes hujan yang berjatuhan atau sekedar berteduh warung tenda pinggir jalan itu sembari menunggu hujan reda. Aku pernah tersenyum denganmu menikmati setiap waktu yang bergulir.

Advertisement

Aku pernah menikmati setiap kenangan akan dirimu. Mengingatmu adalah hal yang menyakitkan bagiku. Membuat luka itu kembali tergores. Rasa sakit yang sama saat kuucap kata perpisahan itu. Aku pernah menunggumu hingga aku bahkan tak tahu waktu sudah berlalu. Aku menunggu dalam kesia-siaan. Aku pernah bersabar menantimu di ujung senja. Namun, hingga aku tersungkur lelah kau entah dimana.

Aku berterimakasih padamu, untuk waktu yang entah bagaimana berlalu begitu saja. Terus berjalan tanpa mengasihaniku yang tertatih dan terseok-seok karenamu. Aku berterimakasih padamu untuk terus menunggumu meski kau tak pernah kembali. Dan aku berterimakasih padamu untuk luka terindah yang kau ciptakan.

Mencintaimu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. Membuatku terlihat seperti gadis bodoh yang menyedihkan. Mencintaimu adalah kesalahan terindah untukku dan membuatku menjadi gadis yang menyedihkan. Dan menunggumu adalah hal sia-sia yang telah kulakukan. Terkadang aku bertanya, haruskah aku terus berjalan dengan rasa sakit itu atau berhenti cukup sampai di sini.
Kepada senja yang berlabuh di ujung sana.

Sampaikanlah salam perpisahanku padanya. Selamat tinggal dariku yang pernah terluka karenanya. Mengucapkan selamat tinggal adalah hal yang sulit. Butuh waktu dan juga persiapan. Aku pun juga begitu, bukan menyerah tetapi untuk apa bertahan jika hanya saling menyakiti. Bukankah lebih baik menyerah agar tidak banyak hal yang tersakiti lagi.

Kepada senja,
Kisah dan dongeng kita telah usai. Aku telah sampai pada penghujung kata dan berakhir pada titik. Tak ada lagi hal indah yang dikenang, tak akan ada kisah untuk ditulis. Kita tak lagi sama seperti saat kita berjalan pada jalan setapak yang sama. Aku bukan lagi rumahmu untuk kembali. Terimakasih untuk kisah dan dongeng indah kita selama ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya