Kepada Tuhan, semua tentangmu aku ceritakan.

Sore itu rintik hujan tak kunjung berhenti. Aku melirik jam dinding yang menempel di tembok. Ya, sudah menunjukkan pukul 16.30 saatnya aku berkemas dan pulang. Sore ini aku bergegas pulang, meskipun rintik hujan seakan menahanku untuk tetap berada di tempat kerja. Sama seperti perasaanku kepadamu yang selalu menahanku untuk tetap berada di dalam hati. Entahlah beberapa hari ini rasanya begitu melelahkan. Rasanya ingin selalu bermalas-malasan di atas kasur yang empuk nan tebal. Azan maghrib berkumandang, bertepatan dengan motorku yang mulai memasuki halaman rumah.

Advertisement

Jam menunjukkan pukul 21.00 dan hujan masih belum berhenti. Aku berusaha memejamkan mataku tapi gagal. Aku pejamkan lagi dan gagal. Aku buka smartphone-ku, aku baca beberapa chat yang masuk. Ah, tak ada nama yang aku harapkan. Kembali aku tutup smartphone-ku dan berusaha memejamkan mata. 5 menit, 10 menit hingga 20 menit mata ini masih belum mau terpejam, padahal rasanya tubuh sudah sangat lelah dan tak berdaya. Entahlah, akhir-akhir ini seperti ada sesuatu yang salah dalam diriku. Mulai dari pola tidur yang berantakan, pola makan yang kacau dan bahkan pikiranku hanya dipenuhi dengan satu nama, yaitu kamu. Pagi, siang, malam, nama itu selalu muncul di dalam kepalaku membuat pikiranku menjadi tak karuan, tidur susah dan makan juga tak enak. Tak heran jika aku menatap cermin, aku mendapati lingkaran hitam di bawah mata dan beberapa jerawat besar di dahiku. Wajah kucel dan kuyu bahkan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Entah, aku bingung.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.00. Kupaksakan mata ini terpejam dan pada akhirnya aku tertidur.

bangun..bangun…”, sayup-sayup aku mendengar suara membangunkanku. Perlahan-lahan aku membuka mata, kulirik jam di kamarku, jam 03.00. Hmmm, “alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur “, ucapku seraya bangun. Meski mata masih berat dan mengantuk aku berjalan mengambil air wudhu. Setiap malam aku memang selalu terbangun jam 03.00 pagi mungkin lebih tepatnya dibangunkan tapi siapa yang membangunkan aku tidak pernah tahu. Setiap kali mataku terbuka, aku tak pernah melihat siapapun.

Advertisement

Nyesss…air keran yang dingin mulai membasahi wajahku, tanganku dan kakiku. Lumayan, kantukku sedikit berkurang. Segera aku kembali ke kamar. Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku memiliki janji dengan Tuhanku. Aku ingin menceritakan semuanya tentang kamu, selalu dan selalu. Selesai salam, aku menengadahkan tanganku untuk kembali bercerita tentangmu.


Tuhan, pagi ini hambaMu yang lemah ini berdoa dan masih memohon harapan yang sama seperti sebelumnya. Izinkan aku bersamanya Tuhan. Tuhan, Kau tahu hamba menyukai seseorang, begitu menyukainya. Hamba tidak pernah berharap untuk menyukainya tapi rasa ini hadir dengan sendirinya. Tuhan, jika memang kami berjodoh, berikanlah petunjukMu, berikanlah kejelasan tentang kami. Jika memang hamba harus menunggu dengan kepastian itu akan lebih menenangkan Tuhan. Tuhan, maafkan hamba. Bukan ingin mendahului takdir. Tapi rasa ini semakin subur dari hari ke hari Tuhan, terkadang hamba mampu menahannya dengan senyum tapi tak jarang hamba hanya bisa menangis. Tuhan, berikan yang terbaik untukku. Tuhan, Engkau Yang Maha Membolak-bailkkan Hati, jika memang dia tak menyukaiku, tunjukkanlah Tuhan. Jangan Engkau biarkah hati ini sakit dan sedih Tuhan. Pertemukan hamba dengan seseorang yang memang sudah ditakdirkan untukku. Namun, sebelumnya hilangkanlah rasa suka ini kepadanya Tuhan. Jika memang dialah orangnya, bimbinglah dirinya untuk sekadar memberikan kepastian agar aku tak selelah ini menunggunya. Tuhan, Kau Maha Tahu dan Mengetahui, Kau Tahu apa yang hambaMu ini tidak ketahui. Tuhan, hamba tahu semua yang kebetulan didunia ini bukan kebetulan semata melainkan skenario terbaikMu. Tuhan, tunjukanlah jalan terbaik untuk hambaMu yang lemah dan tak berdaya ini. Aamiin.


Sesaat rasanya begitu tenang dan melegakan. Semua keresahan yang selama ini aku rasakan perlahan-lahan menghilang. Aku melirik jam dinding. Jarum masih berada di antara angka 3 dan 4. Sembari menunggu azan subuh, aku kembali merapatkan selimutku. Rasanya dingin, namun menenangkan. Tak terasa hingga akhirnya aku terlelap.. Azan subuh berkumandang, kembali aku mengambil air wudhu, memohon kepada Tuhanku. Lalu, kembali kepada rutinitasku, yaitu menunggumu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya