Kamu ada dalam bilik masa lalu yang telah ku buang pergi kuncinya, kamu kupenjarakan di hati yang tak mungkin untuk dijamah lagi. Setelah hari itu, 6 tahun yang lalu hari senin, aku masih bisa mengingat nya dengan jelas. Sakit hati masih berkecamuk jadi satu seperti bayangan yang entah kenapa menjadi pengikut setia selama 6 tahun terakhir.

Lebaran ini kau memintaku kembali, kenapa begitu mudah untukmu? tak kah kau fikirkan sakit hatiku, atau setidaknya bagaimana aku menjalani hari ku setelah kau mencampakanku untuknya?

Advertisement

Banyak sekali tanya yang ingin aku lontarkan untukmu sebelum kau sempat berkata apapun. Apa kah dia tak lebih baik dariku sehingga kau memutuskan pulang dari perantauanmu untuk memintaku kembali? Apa kah dia tak mampu kau perdaya seperti dulu yang selalu kau lakukan untukmu? Atau dia tak bisa memberikanmu semua yang kamu mau sehingga kau terpaksa menjilat ludahmu sendiri?

Tau kah kamu, aku ini sudah sangat hidup sekarang, tidak kah kamu melihatku dengan sejatinya aku? aku bukan yang dulu, gadis lugu yang entah kenapa selalu menuruti maumu, menjemputmu, memberikan hp cuma-cuma untukmu. Tak perlu alasan kenapa aku dulu sebegitu bodohnya sampai seperti itu. Sampai-sampai aku bawa ibu ku dalam urusan kita.

Ya ketika kamu mencampakanku, aku masih gadis umuran belasan yang selalu menangis dipojokan kamar, menangisi mu, mungkin jika tak ada ibu sudah ku goreskan pisau ditangganku, aku merasa tak ber iman waktu itu. Namun kini aku sudah mampu tersenyum, sudah mampu membangun berkotak-kotak mimpi indah dan tentu saja tanpamu.

Advertisement

Untuk membencimu dengan segenap hati ku katakan aku tak lagi membencimu seperti dulu. Aku ikhlaskan semua semoga aku mendapat yang terbaik. Dan aku mohon jangan kembali dengan kenangan kita yang sudah tak bisa dijamah lagi.

Berbahagialah dengan selain aku, karena aku tak pernah bisa kembali seperti yang dulu. Aku terlahir dengan diriku yang baru. Ucapan manismu tak lagi meluluhkan hati, rayuan mautmu tak bisa menerbangkanku lagi. Bahkan air mata mu tak mampu membuatku menoleh.

Menikahlah dan berbahagialah, sumpah serapahku tak akan keluar seperti waktu itu, akan kudoakan untuk bahagiamu. Semoga kau tak lagi menyakiti sesiapapun, semoga langkahmu meringan dan kau dimuliakan. Aku tersenyum menengadahkan tangan untukmu, untuk dia selain aku yang akan mengenapkanmu.

dariku,

yang tak bisa kembali, dan maaf ku tutup pintu hatiku untukmu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya