Baru kali ini aku naik kereta jalan terasa pelan. Entah perasaanku atau sungguh pelan. Entah perasaanku atau jarak Jogja-Bandung yang semakin panjang. Baru tiga bulan yang lalu, di stasiun itu aku melepasmu. Kini aku sudah rindu, kini aku menuju ke kamu, ke Bandung.

Kamu tahu saat di stasiun Tugu, tiga bulan yang lalu. Kamu memeluk erat seolah takut akan sangat rindu. Pelukan tererat yang pernah kurasa darimu, seperti enggan terlepas. Aku ingat dengan baju kuningmu, warna kesukaanmu. Kamu tanpa rasa canggung pada ayah ibumu, lebih memelukku erat. Bahkan saat panggilan untuk kereta ke Bandung, pandangamu seolah takut merindu. Kamu tahu, itu tiga bulan lalu di stasiun Tugu.

Advertisement

Keretaku kini menuju bandung, entah sampai mana aku tak tahu karena aku terbangun dari tidurku. Ada perasaan rindu setiap melihat foto wajahmu, ada perasaan cinta menggebu ingin bertemu. Gelapnya di luar jendela kereta di hiasi lampu-lampu, ada putih, kuning, merah dan sesekali biru atau hijau. Kamu tahu itu lampu-lampu yang menghantarkan rinduku.

Taman lampion yang tidak pernah rencana kita main ke sana, tapi kamu tiba-tiba mengajak ke sana. Aku ingat itu bulan ke delapan kita pacaran, atau lebih tepatnya lima bulan yang lalu. Kamu tahu aku suka lampu-lampu itu, menarik ada orang yang sekreatif itu bisa membuatnya. Kamu waktu itu suka sekali, minta foto sana-sini, pose bergaya berganti. Sesekali kamu mengamati bentuk lampion, mengamati lampu-lampu, kamu ingin memetik yang bentuk bunga itu. Kamu ingat lima bulan lalu kamu memeluk manja, karena begitu sukanya malam itu. Kamu tahu, itu lima bulan lalu di taman lampion.

Keretaku masih melaju, dia tak ragu membawa cintaku yang makin menggebu. Aku baru sadar, di sebelahku ada wanita muda, mirip denganmu. Entah sungguh mirip denganmu, atau hanya perasaanku yang dipenuhi rasa rindu. Parasnya, senyumya, gaya bicaranya mirip kamu. Tidak, aku tidak bicara dengannya, aku memperhatikan saat di bertelpon, suaranya penuh rindu.

Advertisement

Aku ingat suaramu satu bulan lewat dua minggu yang lalu. Suara penuh rindu, suara ingin bertemu. Aku ingat saat kamu menyanyikan salah satu lagu kesukaanmu. Kamu menyanyikan lagu yang berbicara dua orang di tempat berbeda, tapi memandang langit yang sama. Kamu menyanyikan lagu rindu, lagu rindu antara jogja-Bandung. Aku ingat sesekali dalam lagumu kamu berceloteh manja, atau sesekali suara serak dari tangismu, tangis rindu. Kamu suka menyapaku di tiap pagimu, suka dengan pesan-pesan suara. Satu bulan dua minggu yang lalu, kamu begitu rindu.

Stasiun Bandung, keretaku berhenti, rinduku akan kusampaikan. Menjelang pagi, langit sudah disapa oleh belahan senja, sang fajar, jingganya menggodaku, menggoda rinduku. Apakah sungguh rindukah aku, atau karena kekhawatiranku, dua minggu kamu hampir tanpa kabar. Apakah sungguh rindukah aku, atau karena kekhawatiranku, dua minggu tanpa lagu rindumu. Stasiun Bandung antara rinduku dan kekhawatiranku, seminggu yang lalu kamu berkata ingin sendiri.

Stasiun Bandung antara rindu dan kekhawatiranku, seminggu yang lalu seolah ada godam menghantam kepalaku. Aku masih di stasiun Bandung, kakiku belum melangkah keluar namun rinduku kini kalah dengan kekhawatiranku, di pagi fajar belum menyingsing mengantarkanku pada kenyataan tentang kamu. Di media sosialmu, entah siapa lelaki itu, yang kamu peluk erat dengan baju kuningmu. Di media sosialmu, entah siapa lelaki itu, yang kamu peluk erat di bawah lampu-lampu. Aku tahu rinduku dan kekhawatariranku jadi satu, entah mana yang sungguh nyata, karena yang kurasa rinduku tak berarti lagi, kekhawatiranku hanya untuku. Stasiun Bandung, tidak lebih dua puluh menit aku disana, lalu kereta Bandung-Jogja mengantarku bersama patah hatiku. Kamu tahu aku patah hati saat sungguh rindu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya