Kadang aku merindukan para tokoh yang hidup dalam novel. Mengikuti kisah hidup yang luar biasa dan pengalaman-pengalaman baru membuatku ingin tahu seperti apa kisah selanjutnya. Mungkin aku akan selalu merindukan mereka, atau kecewa karena tak kan pernah tahu bagaimana akhirnya.

Mungkin itu karena ruang hati yang kosong, yang hanya bisa diisi oleh cinta. Kau bisa pergi ke mana saja, bertemu siapa saja, atau menikmati keajaiban dunia dengan pemandangan indah yang menenggelamkan jiwa dalam haru. Sampai kau menemukan seseorang yang kau sebut belahan jiwa, kebahagiaan akan jadi nyata saat dibagikan.

Advertisement

Selalu ada cinta, bahkan saat hati hancur berserakan. Cinta tak bisa dimusnahkan karena Sang Pencipta yang menciptakan cinta itu kekal.

Tapi pada malam seperti ini, sepi seperti ini, keterasingan menyudutkanku. Aku rindu kalian, teman-temanku, atau siapa saja yang bisa kurindukan. Para sahabat yang pernah menjadi bagian hidupku. Meski kita tak pernah mengenal hingga tingkatan tertentu, tapi aku tahu ada saat-saat kita disatukan dalam ruang dan waktu. Di dalamnya kutemukan arti persaudaraan.

Aku rindu masa yang telah lalu seperti juga kerinduan pada Kota Pontianak. Bahkan saat aku berbaring sendirian atau saat menatap langit malam, pikiranku selalu kembali. Aku ingat dan selalu membayangkan menyusuri jalanan yang dipenuhi kendaraan atau pasar sayur yang menggeliat ketika sebagian orang masih tertidur. Kota yang selalu diterangi cahaya dan aktifitas yang tak pernah tidur. Aku bisa merasakan hangat mentari saat menyusuri Jalan Tanjung Sari, atau lalu lalang mahasiswa di Sepakat 2, dan hiruk pikuk suasana warung kopi di Jalan Gajah Mada pada malam hari.

Advertisement

Kota itu, yang pernah menjadi tempat bagi mimpi-mimpi yang kini terbunuh, menyimpan berjuta kenangan yang tak terlupakan. Kau bisa bermimpi di mana pun kapan pun. Tapi ada tempat-tempat tertentu di mana separuh hatimu tertinggal.

Aku tak ingin memilikinya. Bila itu terjadi, tak kan ada lagi kerinduan. Maka aku akan selalu menyimpan rindu dalam hati hingga suatu hari nanti mimpi-mimpi itu hidup kembali.

Aku akan selalu merindukan kota itu. Kota yang pernah menjadi rumah bagi tubuhku, rumah bagi hatiku.

Menulislah saat kau tertawa, saat kau bersedih, atau saat kau rindu. Bila hal itu tak bisa mengobati, setidaknya kau bisa pergi sejenak meninggalkan semua di belakang dan kembali. Kau akan baik-baik saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya