Kesedihan Itu Fana, Di Masa Pandemi Ini Mari Bergandengan Tangan Untuk Menghadapinya

Memahami kesedihan sebagai hal positif

Sama seperti rasa senang, kesedihan adalah perasaan alamiah yang wajar dialami oleh setiap orang. Pernah tidak, ketika merasa sedih, kita cenderung membuat banyak status di media sosial lebih melankolis? Karena itu, tak jarang juga kita mendapat komentar nyinyir dari status kesedihan yang dianggap berlebihan. Tenang, kamu nggak sendirian.

Di masa pandemi ini, perasaan sedih terasa lebih dekat. Di tengah situasi pandemi yang tidak pasti, banyak hal membuat kita lebih mudah bersedih. Seperti banyak rencana yang tertunda, bisnis macet, duka kehilangan orang tersayang, hingga insecure karena susah mendapat pekerjaan.

Kesedihan hadir sebagai respon kekecewaan karena kita kehilangan hal-hal normal yang biasa dilakukan. Selain itu, perasaan ini bisa juga terjadi karena kenyataan yang tak sejalan dengan ekspektasi hingga membuat kita terguncang.

Apapun penyebabnya, bersedihlah jika ingin bersedih. Meskipun kesedihan seringkali membuat kita jadi terpuruk dan tidak bergairah dalam menikmati hidup, ternyata perasaan ini memiliki manfaat, lho. Jadi, nggak papa bersedih.

Dilansir dari Greater Good Magazine, Joseph P. Forgas, peneliti dari University of New South Wales, Sydney, menemukan bahwa perasaan sedih yang ringan dapat memberikan kita beberapa keuntungan penting.

Kesedihan membuat kita memiliki tekad lebih besar untuk mengubah kondisi buruk yang terjadi

Perasaan sedih bisa berlangsung singkat, meski tak sedikit pula yang memahami perasaan tersebut dengan durasi waktu lebih lama. Ketika bersedih, pikiran kita akan cenderung untuk mempertanyakan kenapa dan bagaimana jika ini semua tidak terjadi.

Bergumul dengan penyesalan membuat kita berproses untuk berpikir bahwa segala yang terjadi, bisa dijalani lebih baik lagi. Bahkan, penelitian juga mengatakan jika kesedihan seperti peringatan dalam tubuh yang mampu mendorong kita untuk lebih bersemangat dan berani menghadapi tantangan ke depan.

Meski tak mudah, memahami perasaan sedih membutuhkan proses perdamaian yang berbeda dalam diri setiap orang. Jadi, take your time in enjoying your sadness. Pahami dan rasakan perasaan sedih itu hingga pada waktunya, kita bisa bersiap untuk berdamai dan menjadi lebih tangguh.

Seperti kata Jack Ma, Jangan menyerah, hari ini keras dan besok akan semakin berat, tapi lusa akan indah.

Meski kesedihan selalu membuat kita untuk menarik diri dari lingkungan, beberapa kasus kesedihan ternyata dapat meningkatkan interaksi

Kesedihan seringkali dianggap sebagai perasaan negatif dan problematik. Bahkan, untuk mengekspresikan kesedihan seringkali membuat kita ragu karena takut dipandang sebagai orang bermasalah.

Menurut Amy B. Sullivan, psikolog dari Cleveland Clinic, kesedihan adalah hal yang wajar dirasakan oleh banyak orang di tengah kondisi pandemi saat ini. Terutama ketika kita mengalami kehilangan orang yang dicintai maupun kehilangan aktivitas normal.

Meski berliku, justru perasaan sedih secara tidak langsung dapat membuat seseorang menjadi lebih persuasif. Mereka lebih mudah membuat argumen yang efektif dan konkret untuk mendukung posisinya. Bahkan, perasaan ini juga dapat membuat kita sebenarnya dapat lebih mudah meyakinkan orang lain.

Perasaan sedih cenderung membuat kita banyak berpikir. Di masa pandemi ini, kesedihan yang muncul nyatanya membuat kita terdorong untuk merasa terhubung dengan orang lain di tengah situasi pertemuan fisik yang terbatas.

Oleh karena itu, pertemuan virtual atau daring mulai meningkat selama pandemi. Ruang maya tersebut menjadi alternatif untuk tetap saling terhubung bertegur sapa, berbagi cerita, dan menuntaskan rindu.

Berinteraksi dengan orang lain, meski secara virtual, mampu memberikan energi untuk tidak larut dalam kesedihan. Sehingga, semakin banyak interaksi yang kita lakukan ketika berada dalam fase kesedihan, semakin cepat pulih juga perasaan kita untuk lebih berdamai menerimanya.

Validasi setiap perasaan yang sedang terjadi membuat kita lebih fokus. Termasuk kesedihan yang ternyata dapat meningkatkan daya ingat

Pandemi membuat sejumlah orang terjebak dalam rutinitas yang terbatas dan cenderung menghadirkan kebosanan. Hal itu bisa menjadi salah satu pemicu kesedihan. 

Meski tak mengenakan, perasaan sedih ternyata dapat membuat kita cenderung lebih fokus dalam memperhatikan sesuatu dengan detail. Dalam eksperimen penelitian  yang dilakukan oleh Joseph P. Forgas, kesedihan mampu membuat seseorang lebih baik dalam mengingat kejadian di masa lalu. 

Kebahagiaan dapat menghasilkan ingatan yang kurang fokus, sedangkan suasana hati yang negatif meningkatkan perhatian terhadap detail dan menghasilkan memori lebih baik, ungkapnya.

Jadi, nggak heran jika kesedihan karena pandemi seringkali membuat kita flashback pada kehidupan tanpa masker dan bebas berinteraksi sebelum digemparkan oleh persebaran virus yang dapat menular melalui udara ini.

Selain mampu meningkatkan fokus pada detail kejadian di masa lalu, kesedihan juga harus diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh dalam hidup. Meski terasa menyakitkan, ingat kembali apa yang telah dilewati. Masih bertahan hingga saat ini adalah pencapaian hebat. Good job!

Kesedihan dapat dipahami sebagai proses pendewasaan yang membuat kita bisa lebih rasional dalam memberikan penilaian

Ketika menghadapi perasaan bahagia, tanpa sadar kita seringkali memberikan prasangka terhadap orang lain maupun situasi secara bias. Sebaliknya, ketika sedang bersedih, penilaian secara bias tersebut dapat diminimalisir dan meningkatkan kemampuan judgmental lebih akurat.

Menjadi lebih rasional ketika berada dalam keadaan sedih bukan perkara instan. Setelah melewati tahapan bersedih yang cukup menguras energi, seperti penyangkalan, putus asa, dan marah, berdamai dengan diri sendiri  mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih welas asih.

Meskipun perasaan sedih seringkali membuat kita cenderung menyalahkan keadaaan, pikiran kita akan cenderung lebih rasional dalam memahami dan menilai keadaan yang sedang dialami ketika mencapai tahap penerimaan ini.

Coba bandingkan kembali bagaimana pikiran kita ketika bersedih dan setelah melalui proses penerimaan yang tak mudah ini.  Pada akhirnya, semua ini bisa dilalui kan?

Setiap orang memiliki versi kesedihannya tersendiri di masa pandemi ini. Apalagi, situasi pandemi yang terus berkepanjangan, membuat perasaan ini lebih sering datang ketika menghadapi keadaan tidak pasti. 

Jadi, ingat ya kalau kita tidak sendirian dalam merasakan kesedihan. Mengekspresikan kesedihan adalah perasaan yang wajar.  Bahkan, manfaat kesedihan yang telah dijelaskan di atas, secara tidak langsung juga bisa membantu kita untuk lebih berkembang. 

Lihat sekeliling kita, banyak yang menyayangi dan merasakan hal sama. Di masa pandemi ini, mari bergandengan tangan dalam menghadapi kesedihan.  Semangat!

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini