Sekitar awal tahun 2020 Indonesia digemparkan dengan adanya virus COVID -19 yang merambah masuk ke negara tercinta ini. Dengan sangat berat hati maka pemerintah terpaksa meliburkan para pelajar juga mahasiswa dalam menempuh pembelajaran dari yang awalnya tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh. Awalnya hanya diliburkan untuk beberapa waktu yang tidak lama. Tetapi ternyata sampai berbulan-bulan lamanya tidak kunjung sekolah tatap muka lagi. COVID-19 justru semakin merebak.
Selama pandemi COVID-19 pembelajaran jarak jauh atau biasa disebut dengan daring, saya yang saat itu masih berada di bangku SMA kelas Kesulitan tidak hanya dirasakan oleh pelajar dan mahasiswa tetapi oleh ibu saya juga. Beliau bekerja di salah satu pabrik di Magelang. Jam kerja harus dikurangi karena pada masa itu sering kali diberlakukan PPKM darurat. Gaji juga berkurang karena jam kerja berkurang. Harus hemat-hemat dalam membelanjakan uang. Tetapi saya bersyukur bapak saya tidak mengalami hal tersebut.
Tiba di saat waktunya saya dan teman-teman melaksanakan Ujian Sekolah. Sejujurnya saya sangat tidak memahami pelajaran yang saya dapatkan. Tetapi karena ujian dilaksanakan daring maka tentu ada kesempatan untuk open book. Saya sadar bahwa kualitas hasil belajar tidak sepenuhnya murni dari otak masing-masing anak. Walaupun berakhir dengan nilai yang baik, itu tidak akan berguna jika hanya mencontek saja. Pembelajaran jarak jauh yang tidak efektif telah memperlebar ketetertinggalan hasil belajar murid terutama mereka yang berasal dari keluarga tak mampu.Â
Sempat terpikir oleh saya bagaimana dengan kualitas pendidikan anak di pelosok daerah yang juga tekena dampak COVID. Sinyal yang susah, pemahaman yang minim ditambah lagi harus mengeluarkan kocek tambahan untuk membeli kuota untuk belajar daring. Bisa dianggap diskriminatif memang. Bagaimana tidak. Tentu tidak semua orang tua mampu untuk membeli semacam itu karena banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya juga masih kesulitan untuk makan sehari-hari
Hingga saatnya harus memasuki perkuliahan pun tak kunjung duduk di kursi kampus. Â Penelitian mengungkapkan bahwa ada beberapa indikator terkait penyebab stres pada mahasiswa di masa pandami. Salah satu penyebab stres mahasiswa selama pandemi COVID adalah banyaknya tugas perkuliahan.Â
Penyebab stress pada mahsiswa di masa pandemi juga disebabkan akibat akademik, akibat masalah intrapersonal, akibat kegiatan pembelajaran, akibat hubungan sosialnya dan masih banyak lagi. Data mengejutkan dari Riskedsas (2018) sebanyak 19 juta penduduk di Indonesia dengan umur di atas 15 tahun  mengidap gangguan mental emosional dan lebih dari12 juta penduduk di usia tersebut mengalami depresi.
Tidak sedikit anak sekolah yang juga memutuskan untuk menikah dini di masa pandemi. Tidak di sangkal lagi teman sekampus saya juga mengakui bahwa semenjak pembelajaran daring tugas menjadi lebih sering diberikan dan menumpuk oleh dosen. Di tambah akses jaringan yang sulit mengakibatkan beberapa masswa dengan daerah terpelosok kesulitan untuk mengakses internet.Â
Beberapa orang mengaku dari yang awalnya sering berinteraksi kepada keluarga dirumah atau bahkan dengan tetangga menjadi jarang berinteraksi atau bahkan tidak sama sekali. Seorang mahasiswi yang saya tanyai mengaku kesulitan dan stres terumana di keadaan jaringan dimana setiap ingin memasuki kelas online selalu tidak bisa. Hal tersebut juga berlaku saat mengerjakan tugas yang notabene semua perngerjaan membutuhkan sinyal. Kuota yang di pakai pun tidak sedikit bahkan ada banyak kampus yang tidak menyediakan subsidi kuota bagi mahasiswanya.
Kesehatan mental memang sangatlah penting bagi setiap orang tidak hanya mahasiswa saja. Manusia membutuhkan kesehatan mental untuk tetap bisa melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Sama halnya dengan pikiran, manusia terutama mahasiswa membutuhkan pikiran yang sehat untuk memecahkan maslah dan mengatur waktu.Â
Sering kali mahasiswa banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas hingga larut malam dan menjadi jarang berolahraga. Entah mentalnya bisa disebut atau tidak, entah pikiranya bisa dikatakan sehat atau tidak yang jelas kebiasaan tersebut tentu akan merusak sistem kekebalan tubuh. Maka dari itu penting bagi setiap manusia untuk tetap menyeimbangkan jasmani dan rohani mereka agar semua aktivitas bisa terselesaikan dengan baik tanpa kecemasan berlebih.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pemberian tugas selama masa pembelajaran daring adalah metode yang tepat bagi pembelajaran mahasiswa di Indonesia? Apakah mereka menjadi paham seperti layaknya kuliah offline, atau apakah hanya ketidaksehatan mental yang didapatkan?
Implementasi pembelajaran online mempunyai banyak sekali kekurangan, tetapi bukan berarti bentuk pembelajaran online ini harus dicabut, terutama ketika masa pandemi COVID. Untuk menangani tugas sebagai ancaman kesehatan mental mahasiswa, maka dibutuhkan strategi untuk mengurangi dampak buruk tersebut. Hal yang paling penting dalam mengurangi dampak stres adalah melalui support dari orang-orang terdekat (Cohen & Wills, 1985). Oleh karena itu, terdapat beberapa pihak yang diharuskan untuk turut serta dalam mengurangi dampak buruk terutama bagi kesehatan mental mahasiswa.
Pihak pertama adalah keluarga. Sebagai pihak terdekat dengan individu tersebut, keluarga dapat menjadi support system utama bagi mahasiswa. Hal menarik yang terjadi dalam interaksi keluarga dan mahasiswa itu adalah keluarga dapat merasakan dampak yang dirasakan anak akibat tugas yang dimiliki  mahasiswa atau anak tersebut. Dampak ini diakibatkan oleh waktu kebersamaan dalam keluarga yang terganggu akibat tugas yang dimiliki anak dan juga self-efficacy orang tua yang  rendah dalam membantu pengerjaan tugas anak.Â
Pengurangan stres akibat tugas baik pada mahasiswa maupun pada keluarga siswa dapat dilakukan dengan kesadaran akan faktor yang dapat berpengaruh terhadap  stres  akibat tugas, dimana faktor-faktor tersebut berupa banyaknya tugas yang didapatkan serta kemampuan anak dalam pengerjaan tugasnya. Selain itu, orang tua dapat memberikan pengalaman yang positif bagi anak ketika mengerjakan tugasnya dan tidak merasa frustasi dengan tugas mahasiswa yang mana hal tersebut dapat meningkatkan stres pada mahasiswa. Orang tua juga dapat menciptakan keadaan dan suasana rumah yang kondusif.
Pihak kedua adalah guru atau dosen. Kiat yang dapat dilakukan oleh guru atau dosen adalah dengan mengurangi beban tugas yang memakan banyak waktu mahasiswa. Selain itu, dosen juga dapat membantu mahasiswanya untuk menentukan goals apa saja yang ingin dicapai dalam pengerjaan tugas dan memberitahukan bagaimana cara mengurangi distraksi ketika mengerjakan tugas. Guru juga dapat mengarahkan mahasiswa untuk fokus pada pembelajaran dengan mengarahkan siswa untuk aktif dalam berdiskusi dan mengeluarkan pendapat dalam kelas.Â
Hal ini dilakukan agar pemahaman mahasiswa terhadap materi meningkat sehingga mahasiswa dapat lebih mudah dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Dosen juga dapat berperan sebagai informational support yang mampu membantu siswa untuk memahami permasalahan mahasiswa dan membantu mahasiswa untuk bisa coping terhadap masalah tersebut.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”