Pernakah merasa ditiadakan di dunia ini? Meski sesungguhnya cairan itu telah membentukmu menjadi benih yang konkret. Padahal, antroposentrisme juga menyatakan bahwa pusat alam semesta adalah manusia. Tapi mengapa sebagian dari mereka merasa ditiadakan dan terasingkan?

 


Advertisement


Mereka hanya manusia yang dikatakan sebagai makhluk homo sapiens. Mereka tidak meminta lahir dalam khauf, ketakutan berlebihan, keraguan diri, dan bahkan menentang kehadiran diri mereka sendiri. Mungkinkah dunia yang merubah prilaku mereka seperti ini, atau apa?



 



Pernakah diantara kita mendengar istilah Social Anxiety Disorder, Bipolar Disorder, Asperger’s Syndrome, dan sebagainya? Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar meski tidak memahami betul, atau tidak tahu sama sekali. Mereka adalah istilah untuk gejala gangguan kecemasan, mental, dan autisme.


Advertisement


 



Gangguan mental seperti ini kurang bisa diterima di masyarakat, dianggap garib, dan dijauhi dari pergaulan. Ada yang mengatakan, memiliki gangguan ini dianggap suatu perangai yang menjijikan dan tak layak menjadi manusia. Pernyataan itu tidak sepenuhnya saya benarkan.

 



Orang di sekitar pengidap mungkin tidak memahami apa yang sebenarnya diderita. Mereka cenderung berceloteh mengenai abnormalitas yang mereka lihat, tanpa mengulik latar belakang si pengidap gangguan tersebut. Itu sepenuhnya tidak adil. Padahal banyak faktor dan komponen kompleks yang terlibat sehingga mempengaruhi seseorang mengidap gangguan ini.



 



Kali ini saya ingin mengulas tentang mental illness, mungkin masyarakat kita masih memandang penyakit ini dengan sebelah mata. Atau mungkin mereka menganggap ini bukan penyakit, melainkan kutukan, atau bahkan masalah yang terlalu di dramatisir.



Menurut saya, manusia memiliki tingkat depresinya masing-masing, tergantung dari beberapa faktor. Ada banyak hal yang bisa membentuk sikap seorang anak manusia. Pertama masa lalu, kedua keluarga, dan ketiga lingkungan. Kalau dari kadar stresnya sendiri, itu tergantung dari permasalahan yang sedang dia hadapi, dan bagaimana dia menyikapi suatu masalah.



Kita tidak bisa menyamakan satu manusia dengan manusia lainnya. Anak kembar saja memiliki sifat yang berbeda meskipun wajah mereka serupa.



Begitu juga tentang gangguan mental yang dihadapi sebagian orang di muka bumi ini. Kita memiliki masa lalu dan permasalahan yang berbeda, menurut saya wajar-wajar saja jika sebagian manusia mengidap mental illness. Dan ingat, itu bukan aib atau pun sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.



Karena banyaknya pengidap gangguan mental ini karena mereka tidak pernah didengar, dan merasa sendirian. Sebab masyarakat menganggap masalah ini sebagai suatu hal yang buruk, padahal permasalahan mental itu penyebab seseorang melakukan tindakan diluar nalar, seperti percobaan bunuh diri.  Dan menurut saya ini bukan masalah yang sepele.



Memang, kita semua pasti pernah terluka, tersakiti, dan tidak merasa mendapatkan keadilan. Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki keyakinan, misalnya saja sangat agamis, mereka akan melarikan masalahnya dengan shalat dan berdoa yang dibanjiri dengan air mata.



Lalu, bagaimana mereka yang istilahnya sudah teracuni oleh gangguan kesehatannya itu? Yang menganggap Tuhan sebagai dalang dari penderitaan hidupnya? Lalu ke mana mereka akan mengadu? Jawabannya tidak ada. Mereka sendirian.



Ini yang jadi permasalahannya, penderita gangguan mental ini cenderung enggan bercerita dengan siapapun, dan menganggap semua permasalahan tidak ada jalan keluarnya.



Sebenarnya yang mereka butuhkan adalah seseorang yang peduli kepadanya. Mereka tidak membutuhkan seseorang yang dapat mengerti dirinya, karena mereka tahu hal itu adalah mustahil. Sebab mereka menganggap kalau diri mereka sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.



Belum lagi jika kelurga pun mengasingkan si penderita ini dengan menganggapnya sebagai aib keluarga. Menjelek-jelekannya dengan kerabat atau tetangganya sendiri. Sudah pasti, mereka yang mengidap mental illnes ini semakin terkubur dalam pemikirannya sendiri. Berjuang sendirian di dalam kotak pikirannya. Inilah yang menyebabkan pikirannya terkurung dan tidak bisa mendapat asupan positif dari orang di sekelilingnya.



Mungkin masyarakat kita ini memang terlalu kuat kali ya, terkadang mereka yang mengetahui jika orang terdekatnya menderita gangguan kesehatan ini justru digurui dan dicaci maki, seolah-olah si penderita yakin kalau dirinya tidak normal seperti orang kebanyakan. Ini yang membuat si penderita memiliki krisis kepercayaan kepada orang lain, belum lagi mereka malu karena mereka berbeda dan aneh.



Itu sebabnya kenapa ada si psikolog dan psikiater, sebab ini menjadi masalah serius.mGangguan mental itu tidak bisa memilih ingin menyerang siapa, si miskin, si kaya, si pasif, si tenar atau pun si tak terlihat sekalipun bisa diserang oleh penyakit ini.



Contoh banyaknya kasus selebritis Korea dan Holywood yang harus dilarikan ke pusat rehabilitas, atau mereka yang berakhir tragis di dalam kamarnya dengan keadaan tidak bernyawa. Ini membuktikan kalau penyakit ini merupakan masalah yang serius dan harus dipandang dengan kritis oleh masyarakat kita.


 


Jalan keluarnya adalah lari ke seseorang yang profesional. Namun, lari ke psikolog ataupun psikiater sekalipun jika tak di motivasi dengan orang terdekat, semua akan percuma. Karena yang dibutuhkan penderita itu dukungan positif dari orang terdekatnya, bukannya hujatan atau keterasingan. Si penderita juga ingin diakui dan dilihat oleh orang lain, dan bukan sebaliknya.



Tapi kebanyakan dari masyarakat kita ini justru cenderung apatis dan menganggap si penderita gangguan mental ini sebagai orang yang aneh yang harus dijauhi. Seakan-akan mereka sampah masyarakat.

 



Sepatutnya, kita sebagai masyarakat yang mengetahui atau memiliki orang terdekat yang abnormal, sebaiknya jangan dijauhkan. Kita bisa saja merangkul dan memotivasinya agar ia mendapatkan bentuk penghargaan bagi dirinya. Jangan pernah membiarkan mereka sendiri, apalagi melukai perasaannya. Terkadang, seseorang tidak pernah benar-benar bisa mengerti kecuali dia yang merasakannya sendiri.



 



So, mulai sekarang ada baiknya kita saling merangkul orang yang kita kenal.  Tak peduli seberapa parahnya dia sebagai si penderita, asalkan kita bisa menjadi rumah yang nyaman untuk mereka agar tak berjatuhan lagi nyawa-nyawa dengan sia-sia. 



 



No bully! No persecution! And say “We care!”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya