Aku berpikir untuk sekian kali apakah aku harus menuliskan kisah ini? Setelah bergumul dengan pikiranku yang runyam, mungkin tidak ada salahnya untuk berbagi.

Oktober 2012, adalah bulan di mana aku merasa bahagia karenamu, karena akhirnya aku bisa bertemu, walau aku hanya meresponmu dengan wajah tertunduk dan malu. Sebelumnya aku hanya mengenalmu bukan dengan nyata alias hanya mendengar suara dan menerima chatmu saja. Kita sering berkomunikasi dan bercanda tawa via telepon atau chat, tapi pertemuan kita yang pertama bagaikan dua orang asing yang akhirnya saling diam dan asik dengan pikiran masing-masing. Pertemuan kedua dan selanjutnya pun demikian, kamu datang mendekat kepadaku tapi hanya diam dan tidak berkata apa-apa, aku sendiri bingung harus merespon apa. Terkadang teman-teman meledekmu supaya kamu memulai pembicaraan terlebih dulu, tapi pada akhirnya saat kita berdekatan tidak seorang pun dari kita memulai.

Waktu terus bergulir, dan kita masih saja seperti ini, tertawa di dunia maya tapi diam dalam dunia nyata. Kita tidak terlalu sering bertemu, tapi kita tetap berkomunikasi di dunia maya. Seiring berjalannya waktu, pekerjaan membuatku harus pergi jauh darimu dalam waktu yang belum bisa kupastikan untuk aku kembali. Aku tidak pernah menceritakannya padamu hingga akhirnya kamu mengetahuinya dari temanku saat berkunjung ke kantorku.


"Apakah sulit untuk memberitahuku jika kamu pergi jauh?" Kalimat itu terpampang jelas di pesan yang kamu kirimkan padaku.


Apakah kamu tahu? kalimatmu itu sampai dengan saat ini masih bermakna ambigu bagiku. Di satu sisi aku menganggap jika aku berarti bagimu dan kamu kecewa karena aku tidak memberitahumu, tapi di sisi lain aku juga merasa aku tidak harus memberitahumu, karena kamu tidak menganggapku apa-apa. Aku berpikir untuk membalas pesanmu, dan hanya terlintas kata "Maaf".

Advertisement


"Setidaknya, kamu bisa memberitahuku agar aku tidak tahu dari orang lain. Aku tidak akan melarangmu untuk pergi jauh, tapi aku merasa apakah selama ini aku tidak ada di matamu ?"


Cukup lama aku menunggu respon hingga balasanmu ini membuatku semakin bingung dengan jalan cerita kita selama ini. Bukan maksudku untuk tidak memberitahukanmu, tahukah kamu bahwa kepergianku juga membuat hati dan pikiranku bertengkar tentangmu? Aku mencoba berdamai dengan diriku dan pergi. Mungkin terdengar seperti alasan klise jika aku sebenarnya tidak ingin pergi karenamu, mungkin itu hanya satu dari sepuluh alasan lain yang bisa membuatku tidak pergi. Tidak lama setelah pesanmu kuterima tanpa respon, kamu membuat status di media sosial 'Dia telah pergi'. Sungguh kali ini ingin rasanya datang kehadapanmu dan mengatakan 'Aku di sini'. Dan lagi, keraguan itu hadir dalam benakku, apakah sungguh kata-kata itu untukku ?


"Aku tidak pernah tahu isi hatimu, dan kamu juga tidak tahu isi hatiku. Mungkin itu salah kita karena tidak pernah mencoba untuk saling jujur dan terbuka. Tapi, mungkin itu juga cara Tuhan untuk mempertemukanmu sesuai pilihanNya."


Aku mengingat kembali obrolan kita sebelumnya tentang usia kita terpaut 7 tahun berbeda, kamu memberitahuku jika diriku seusia dengan adik perempuanmu. Saat itu aku ingin merespon, jika demikian apakah kamu menganggapku sama seperi adikmu? Namun, hatiku tidak berani untuk mengatakannya dan hanya sanggup untuk katakan "Ooohh". Entahlah, mengapa aku tidak berani mengatakannya padamu, padahal aku adalah tipikal orang yang suka berbicara dengan 'ceplas-ceplos'.

Setengah tahun sudah aku jauh darimu dan cukup mengubah keadaan kita. Kita masih berkomunikasi melalui dunia maya, tapi tidak pernah lagi berbicara melalui telepon. Entahlah, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku tidak yakin bagaimana reaksiku saat mendengar suaramu yang sudah lama tidak kudengar. Rindu? pasti jawabnya iya. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan rasamu padaku, bahkan sejak kata-katamu saat itu aku masih tidak mengerti apa arti hubungan kita. Apalagi saat ini aku tahu jika kamu sudah memiliki kekasih yang cantik, jujur saja saat aku melihat statusmu berpacaran dengannya membuat diriku tidak terima. Sakit hati? Cemburu? Apakah begini rasanya? Aku mencoba mengendalikan pikiran dan hatiku untuk tidak hancur, aku tetap berkomunikasi denganmu walau kamu tidak pernah menceritakan tentang kamu dan kekasihmu, hingga suatu waktu kekasihmu mengirimkan pertemananan di media sosial padaku dan mengirimkan pesan terlebih dahulu dan memperkenalkan dirimu sebagai kekasihnya. Kamu tahu bagaimana reaksiku? Aku menertawakan diriku sendiri untuk meredam rasa sakit hatiku dan kemudian membalas pesannya "Selamat ya, semoga kalian langgeng sampai di pelaminan".


"Tuhan tidak menciptakan hati manusia terbuat dari baja karena hati membuatmu peka terhadap rasa."


Akhir tahun aku memutuskan untuk cuti dari pekerjaan dan memilih untuk kembali. Aku merindukan keluargaku dan kamu. Aku datang ke kantormu untuk bertemu, rasanya jantungku ingin keluar saat melihatmu ada di hadapanku, dan lagi kita terdiam dengan pikiran kita masing-masing. Aku membuka pembicaraan terlebih dulu dan menanyakan kabarmu dan mengatakan jika dirimu saat ini terlihat lebih bahagia dan kamu tersenyum menjawabku. Kamu tidak terlalu banyak bicara, kamu lebih sering menatapku sambil tersenyum sampai terkadang aku mengalihkan pandanganku. Apakah aku terlalu berlebihan? Aku mencoba mengecek penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang berlebihan. Bahkan aku tidak suka menggunakan make up, aku hanya menggunakan celana jeans hitam panjang dipadukan kemeja abu-abu lengan pendek dan rambut panjang hitam yang bergelombang aku gerai. Pertemuan kita saat itu singkat karena waktu istirahatmu sudah habis. Aku pamit untuk pulang agar kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu lagi.

Waktu cutiku tinggal beberapa hari lagi dan aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan keluargaku. Saat aku asik berbincang-bincang dengan keluarga, aku menerima pesan dari kekasihmu "Carikan aku kekasih", sungguh ini adalah pesan konyol yang seakan mengejekku untuk dicarikan kekasih. Namun, aku tetap bertindak sopan dan menanyakan padanya tentang lelucon konyol ini, hingga pada akhirnya dia mengatakan jika telah putus dan kamu tidak ingin kembali padanya karena dia telah mencoba memintamu untuk kembali. Dan menurutnya jalan terakhir untuk membuatmu kembali adalah melalui aku. Dan ini adalah lelucon lain yang kuterima, apa hakku untuk memintamu kembali padanya? Kalian putus bukan karena diriku bukan? Bahkan aku sendiri tidak tahu, apakah aku punya posisi itu?

Setelah pertemuan kita terakhir, aku tidak pernah lagi bertemu denganmu dan komunikasi di antara kita juga sudah benar-benar berubah. Kita tidak pernah lagi berkomunikasi via telpon, chat, ataupun media sosial. Dan aku berpikir ini sudah berakhir, jangan berharap untuk sesuatu yang lebih lagi. Aku pun tidak pernah mencoba untuk menghubungimu lagi. Aku berdoa agar kita sama-sama menemukan kebahagiaan dengan dipertemukan dengan pasangan yang dipilihkan Tuhan untuk kita.

Doaku terkabulkan untukmu, kurang lebih tiga tahun sudah kita tidak berkomunikasi hingga akhirnya kamu muncul di media sosial dengan kekasihmu yang baru dengan caption prawedding. Jujur saja, masih ada rasa sakit yang muncul saat aku melihatnya, tapi kali ini aku benar-benar mengikhlaskanmu untuk bahagia dengannya.


"Cinta itu perlu diungkapkan, jika tidak, mungkin akan banyak terjadi kesalahpahaman yang membuat cinta itu menjauh darimu. Katakan sekarang atau ikhlaskan dia untuk pergi darimu."