Dua bulan yang lalu aku masih duduk sambil bercengkrama santai denganmu di sebuah kedai kopi pojok kota. Betapa semangatnya kita saat itu, membicarakan tentang bagaimana konsep yang akan kita usung pada hari ini. Kamu akan datang ke rumahku bersama segenap keluargamu. Dua bulan yang lalu kita masih merasa bahwa hari ini akan menjadi salah satu hari bersejarah bagi kehidupan kita berdua.


"Gimana ya besok saat aku harus memintamu langsung kepada Ayahmu?" katamu saat itu. 


Advertisement

Kemudian beberapa hari kemudian, kamu dengan tergesa menemuiku. Kamu mengatakan bahwa hari itu juga aku harus bertemu denganmu. Tidak dapat ditunda, harus hari itu juga. 


"Kalo kita undur pertunangan kita gimana?" sebuah pertanyaan janggal  yang keluar dari mulutmu. 

"Kenapa?" tanyaku.

Advertisement

"Mama belum ingin aku menikah," begitu ujarmu.

"Kok tiba-tiba," ucapaku spontan.

"….." kamu diam.

"Apa mama kamu berubah pikiran lagi tentang aku?"

"Iya," jawabmu lirih.


Sejak saat itu, di tempat itu pula, aku memtuskan untuk tidak melanjutkan hubunganku dengan kamu. Tidak ada penolakan sama sekali darimu. Kita berdua sama-sama terdiam, kemudian kamu memelukku. Itu adalah pelukan terakhirmu. Pelukan terlamamu. Pelukan dengan air mata yang jatuh ke pundakku. Saat itu aku paham bahwa ini bukan keinginan kita untuk mengakhiri semuanya, namun dari awal kita sudah sepakat tentang satu hal.


Jika suatu hari nanti, ternyata orangtuamu tidak bisa menerimaku dan atau orangtuaku tidak bisa menerimamu, maka kita sudahi saja. Jangan kita paksakan. 


Aku sakit, mungkin kamu juga sakit. Namun kita sudah sepakat bahwa tanpa ridho orang tua, kita tidak akan melaju lebih jauh.  Semenjak hari itu, perlahan aku menghilang dari hidupmu. Bukan hal yang mudah menerima kenyataan ini setelah 4 tahun kita menjalani suka duka bersama-sama. 


Namun ternyata orangtuamu memang tak seyakin itu untuk menerimaku masuk dalam keluargamu – maka saat itu juga aku memilih untuk berhenti dan mundur. 


Meski aku yakin bahwa setelah pernikahan terjadi, kamu akan menjagaku sampai maut memisahkan. Namun hidup tanpa restu orang tua bukanlah sesuatu yang aku cari. Aku tidak akan pernah membecimu dan keluargamu, tidak akan pernah. Kalian adalah orang-orang baik hati yang pernah aku kenal. Aku sangat menghargai keberanian ibundamu untuk mengatakan keberatannya atas aku. Aku sangat lega atas hal itu.


Setidaknya kita tidak terlambat untuk tahu.


Walau hari ini kamu gagal datang ke rumahku, semoga sampai kapanpun kita tetap bisa bersilaturahmi. Doakan aku, semoga aku lekas segera menemukan penggantimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya