Memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu adalah suatu tekad bulat dari diriku yang mencintaimu. Setelah beberapa lama kita saling mengenal akhirnya di hari itu kau menyatakan cinta padaku. Di awal hubungan romansanya begitu kental terasa hingga terkadang kau membicarakan masalah pernikahan padaku meski usia kita baru menginjak 20-an. Ku kira itu hanya canda belaka atau bahan pembicaraan iseng ketika kita berada di posisi merasa kehabisan pembahasan. Namun, semakin lama kau justru sering membahasnya.

Advertisement

Penuh semangat kau gambarkan indahnya pernikahan kita. Memintaku agar menghiraukan usia yang masih belia. Kau bilang dewasa dan kesuksesan akan tumbuh dan mengiringi. Finansial dan kedewasaan mu mungkin sudah terasa cukup matang hingga kau sering mengatakan itu. Tapi, entah mengapa aku masih tak bisa memberimu jawaban. Hal itu membuatku semakin ragu bahkan pada diri ku sendiri atau aku justru menjadi takut ketika kau mengatakan hal itu.

Advertisement


Benarkah? tentu.


Ada banyak hal yang harus ku pikirkan, mulai dari kelanjutan masa depan terutama bidang pendidikan sampai urusan keluargaku. Terikat oleh suatu adat menjadikan ku ragu untuk menerjang dan memilih mengiyakan permintaanmu. Apalagi keluargaku yang memegang adat bahwa aku harus menikah dengan suku yang sama menjadikan ku tak yakin pada hubungan yang harus langsung melangkah sejauh ini. Ketraumaanku menjadikanku semakin takut.

Kini, kau lebih memilih untuk menjauh dari ku bukan memilih untuk menyelesaikan semuanya dengan baik seperti yang kupinta. Mungkin, ini jalan yang terbaik untuk dirimu maupun diriku. Terima kasih atas segala pengertian, kenangan dan segala ppembelajaran yang menjadikanku semakin dewasa. Ku harap kelak kau akan bersanding dengan wanita yang lebih baik dariku. Terimakasih, Mr. In

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya