Hai lelaki yang kerap kali ku harapkan untuk berdiri denganku di masa nanti. Rasanya masih tak mampu ku hapus rasa ini. Maaf, maksudku tentang apa yang pernah kita rangkai. Merangkai kisah yang kau bilang tak ingin berakhir, menyulam senyum di bawah jarum jarum matahari yang berganti dengan senja. Menatap masa depan bersama, disinari senja, pertanda segala masalah hari ini telah sirna. Begitu juga dengan hubungan kita.

Kisah yang ku sebut sempurna mengapa harus berakhir, bukan karena aku tak ingin terus bersamamu, namun aku tersadar bahwa secara perlahan kau sudah mengusirku dari kehidupanmu, dengan sifatmu yang membuatku jatuh bangun dalam rasa. Ku pernah abaikan warasku hanya untuk mengimbangimu, nyatanya kau hanya menjanjikan manis di awal dan pertengahan. Hingga akhirnya kau biarkan aku menanggung rasa sayang yang teramat berlebihan padamu, yang kau sendiri tak bisa membalasnya dan hanya bisa mengabaikanku. Abaimu yang kini telah menyakitiku.

Advertisement

Lalu, untuk apa dulu kau berani mendekati lalu memberikan janji bahwa apa yang kita jalani nanti akan berakhir manis? Kurasa sudah cukup perjuanganku selama ini, hingga di titik akhir aku harus mundur. Tapi, percayalah kau tetap yang terindah meski kini meninggalkan duka. Kau akan tetap menjadi kenangan manis dalam hidupku. Terima kasih sudah menjadi memori yang tak akan pernah kulupa. Maaf, aku hanya ingin berkata:


Selamat kehilangan kasih sayang yang besar, yang mungkin tak akan kau dapatkan lagi.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya