Ragam Ujian Menuju Pernikahan, Hati Harus Teguh Bertahan


"Assalamu’alaikum, Ra besok datang yah ke acara nikahan kita?" Undangan online dikirim dari sepasang jodoh yang dipertemukan di sebuah organisasi tanpa skenario narasi yang rumit. (begitu pula dengan kisah selanjutnya)


Advertisement

Saat itu aku menghadiri pernikahan teman. Ya, banyak yang kutahu mengenai perjalanan mereka hingga akad tiba. Ketika jamuan, aku ngobrol dengan teman, sebut dia Ami. Kita bercerita, bertukar informasi hingga saatnya pulang akhirnya sesi foto dimulai. Kedua mempelai memintaku berdiri di sisi sana bersama mantanku, tapi aku menolak dengan alasan dia sudah memiliki pasangan takut dicap pelakor. Akhirnya teman Ami (Toyo) berdiri di sampingku.

Sesampainya di rumah, tak lama kemudian ada chat dari Ami melanjutkan cerita tadi, yang akhirnya menelepon karena biar lebih jelas dan sampai maksud dan tujuannya. "Ra lu mau ga gue jodohin sama Toyo?!" kata Ami mendadak. Sontak kaget , kok Ami bisa-bisanya menjodohkan aku dengan Toyo sedangakan dia tahu bahwa aku punya mantan dan mantan ku itu teman mereka!

Singkat cerita, akhirnya kita saling bertukar kabar, saling mengenal satu sama lain. Untuk pertama kalinya kita ketemu bertatap muka secara langsung dengan tujuan yang berbeda. Awal ketemu kita ke rumah dosenku yang jauh di sana, pertemuan yang lumayan mengejutkan karena aku juga tidak pernah berpikir bahwa akan bertemu dengannya dengan cara seperti ini. Dosenku menanyakan hal yang sama, kok bisa sama Toyo. "Doakan saja bu, semoga berjodoh" timbalku.

Advertisement

Berjalannya waktu, setiap pertemuan kita selalu ada progres. Pertemuan pertama ke rumah dosen sambil jalan-jalan, kedua kita berkunjung ke rumah kakaknya dia dan kakakku. Setelah itu, kukirimkan foto Toyo ke grup keluarga dan bercerita tentang asal-usul Toyo dan ya mereka setuju.

Setelah dua setengah bulan berkenalan, dia datang mendatangi orang tuaku dan meminta ijin ke ibuku untuk membawa orang tuanya ke rumahku, ibuku mengizinkan. Batinku pun berucap alhamdulillah.

Advertisement

Tidak ada teman kerja atau teman kuliah yang mengetahui rencana besarku ini. Hingga orang tuanya datang dan menetapkan bahwa akad akan berlangsung tiga bulan kemudian. Aku masih tertegun, tak percaya bahwa masa di mana aku akan menikah akan segera datang.

Tibalah masa di mana orang-orang yang tidak ada sebelumnya hadir dengan membawa harapan tersirat, ujian, dan cobaan. Di saat bersamaan datang orang baru, sikap Toyo yang semakin hari semakin membuatku stres dan tertekan. Satu per satu hal yang tak pernah terpikirkan olehku ada pada dirinya muncul, spontan pikiran membandingkan dirinya dengan orang yang baru hadir dan bergumam dalam hati "Belum nikah aja dia udah gini, gimana nanti kalau udah nikah?!"

Kembali kutersadar bahwa tamu pasti akan bersikap seramah dan sebaik mungkin kepada tuan rumah dan tamu hanya singgah dan tidak menetap. Tak kupedulikan lagi orang yang baru hadir dengan membawa segudang kelebihan dibandingkan dengan calon suamiku ini. Karena aku pun tahu bahwa akan menemui kasus yang sama bila aku bersama orang lain, bahkan bisa lebih buruk. Lebih baik memahami dengan lebih lagi pasanganku, menerima dia dengan segala yang ada padanya, dan berunding dengannya apapun yang menjadi masalah untuk kedepannya, karena berumah tangga untuk selamanya bukan hanya singgah dan sekadar menyapa.

Tak mau masalah yang sama terulang hingga rumah tangga terbina, maka kucoba perbaiki dengan komunikasi terbuka dengannya. Menceritakan apa yang aku takutkan dan sering aku pikirkan tentangnya, apa yang aku suka dan hal yang tak ku sukai, pun sebaliknya. Kita membicarakan semua hal dan mencarikan solusi terbaiknya. Hingga…

Hari akad pun tiba, hati ku berdebar. "Hari ini aku berjanji pada diri akan mengabdikan hidupku untuk beribadah, aku menikah untuk beribadah, aku mencintainya karena Allah. Maka, Berkahi dan Ridhoi pernikahan ini Yaa Allah" doaku dalam hati. Debaran semakin kencang ketika dia mulai mengucapkan Saya terima nikah dan…..

Sah!

Hati ku bersorak, Alhamdulillah ya Allah!

Akhirnya kita menikah, Aku dan Toyo. Ujian sebelum menikah benar-benar nyata adanya. Hadirnya orang baru, kekurangan pasangan yang nampak satu per satu, masalah keluarga yang tiba-tiba muncul, dan urusan pranikah yang seharusnya mudah jadi sulit, dan banyak lagi lainnya. Dengan siapapun kamu akan menjalin hubungan berumah tangga pasti akan menemui hal yang sama, dan semua akan berakhir dengan baik sebagaimana kita menyikapinya, menyadari dan memahami pasangan, melihat lagi dari sisi yang berbeda.

Untuk kalian yang sudah terikat dengan seseorang dalam ikatan lamaran, khitbah, atau tunangan, Aku doakan kalian bisa kuat menghadapi derasnya ujian, selalu berpikir positif bahwa semua hal ada baik buruknya, dan terbuka untuk melihat masalah dari sisi yang lain. Pesanku, komunikasi!

Komunikasi adalah kunci rumah tangga.

Tentang jodoh, ketika ia datang maka bukan lagi rupa yang menjadi peran utama. Ketika ia datang dengan kesiapan, kepastian akan masa depan untuk membina bersama dalam rumah tangga, dan memberi kepercayaan akan dirinya untuk menjadi pasangan yang baik, maka seketika itu kamu akan turut merasakan ikatan jodoh, ikatan bahwa kamu yakin akan hidup bersama dengannya di dunia hingga jannah menyapa.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang manusia yang menginginkan nginjakan kaki di Tanah Suci ❤