Aku masih berharap dari sebuah pertemuan, dan aku masih ingin ada kelanjutan dari sebuah perkenalan. Hingga akhirnya aku memilih mencintaimu dalam diam sampai aku mendapatkan kesengsaraan. Kini aku terjebak dalam jurang keraguan dan kegelisahan di saat otak berkata "cukup", tetapi hati ini berkata "sabar".

Ketika senja tak lagi orange seperti biasanya, kini ia merah merona menuju gelap. Dingin, menusuk tulang rusukku. Seperti hujan katamu "akan selalu ada pelangi setelah hujan turun" Tetapi aku hanya melihat gumpalan awan yang ingin menikamku.


Aku benar-benar terjebak dalam diam, menjerit dan menangis dalam diam.


Perlahan pisau-pisau itu mulai melucuti kulit hatiku dan perlahan pula pisau itu mulai mencabik isi hatiku.

Pagi pun tiba dan aku masih tidak dapat menyembunyikan bayangmu. Seolah otak ini telah teracun oleh sosok anggunmu, hingga kopi yang kubuat menjadi dingin. Aku tertipu oleh sosok anggunmu, angkuhmu, membuat aku memuai. Seolah raga ini tak ingin melanjutkan.

Advertisement

Aku berjalan menuju kehancuran, sedangkan kau masih asik menari di padang rumput hijau. Aku benar-benar berada di gerbang kehancuran untuk bersamamu, tetapi aku masih berjalan dengan sisa rasaku untuk bersamamu.

Terimakasih untuk sebuah kesempatan, untuk dapat mencintaimu dalam kebisuanku. Hingga akhirnya aku hancur dalam keheninganku.