Mitos dan Fakta Déjà Vu: 7 Klaim Misterius yang Ternyata Punya Penjelasan Ilmiah

Pernah merasa mengalami momen yang sama? Ini penjelasan ilmiah di balik déjà vu.

Pernah nggak kamu tiba-tiba masuk ke sebuah tempat, ngobrol dengan seseorang, atau mengalami kejadian tertentu lalu muncul perasaan, “Eh, kok aku kayak pernah mengalami ini sebelumnya, ya?”

Padahal setelah dipikir-pikir lagi, kamu yakin belum pernah berada di situ. Sensasi seperti inilah yang disebut déjà vu. Istilah dari bahasa Prancis tersebut secara harfiah berarti “sudah dilihat”.

Ternyata, fenomena ini cukup umum loh! Sebuah analisis mendalam dari Frontiers in Neurology (2024) mencatat sekitar 74% orang sehat setidaknya pernah mengalaminya sekali, meski angkanya bisa berbeda-beda di setiap studi.

Karena rasanya begitu nyata, nggak heran kalau déjà vu kemudian dikaitkan dengan kehidupan masa lalu, mimpi yang menjadi kenyataan, bahkan kemampuan melihat masa depan. Tapi, mana yang benar-benar punya dasar ilmiah?

Mitos dan fakta déjà vu yang perlu kamu tahu.

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu membedakan antara apa yang terasa benar dan apa yang benar-benar didukung penelitian. Beberapa anggapan tentang déjà vu ternyata punya penjelasan yang lebih masuk akal jika dilihat dari cara kerja memori dan otak.

1. Mitos: Déjà vu berarti kamu benar-benar pernah mengalami kejadian itu

Mitos dan Fakta Déjà Vu (1)

Perasaan familiar di pameran lukisan-canva via canva.com

Fakta: Perasaan familiar tidak selalu berarti kamu benar-benar mengingat kejadian sebelumnya. Salah satu hal paling membingungkan dari déjà vu adalah rasa yakinnya. Saat mengalaminya, kamu bisa merasa sangat familiar dengan situasi yang sebenarnya baru.

Namun, rasa familiar dan ingatan tentang sebuah kejadian bukanlah hal yang sama. Dalam penelitian tentang memori, para ilmuwan membedakan antara “familiarity”, yaitu perasaan bahwa sesuatu terasa dikenal, dan “recollection”, yaitu kemampuan mengingat kembali detail pengalaman tersebut.

Déjà vu diduga berkaitan dengan munculnya rasa familiar tanpa adanya ingatan yang jelas mengenai kapan atau di mana pengalaman itu pernah terjadi. Sejumlah penelitian kognitif menggambarkan déjà vu sebagai pengalaman ketika sinyal familiar muncul, tetapi sumber dari rasa familiar tersebut tidak berhasil diidentifikasi.

Jadi, ketika kamu merasa, “Aku pernah mengalami persis kejadian ini,” bukan berarti otak sedang memutar ulang rekaman masa lalu secara harfiah.

Advertisements

2. Mitos: Déjà vu adalah bukti kamu pernah hidup di kehidupan sebelumnya

Mitos & Fakta Déjà Vu (2)

mitos pernah hidup di masa lalu-canva via canva.com

Fakta: Belum ada bukti ilmiah bahwa déjà vu membuktikan reinkarnasi

Ini salah satu penjelasan yang paling menarik secara spiritual. Sebagian orang menganggap déjà vu sebagai tanda bahwa jiwa pernah mengalami kejadian yang sama di kehidupan sebelumnya.

Masalahnya, pengalaman déjà vu sendiri tidak dapat membuktikan klaim tersebut. Penelitian psikologi dan neuroscience justru banyak mengeksplorasi déjà vu melalui mekanisme memori, persepsi, familiarity, serta aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan pemrosesan memori.

Artinya, kalau kamu mengalami déjà vu, pengalaman tersebut memang nyata sebagai sensasi psikologis. Tetapi penyebabnya tidak otomatis berarti kehidupan lampau. Sains saat ini belum memiliki bukti yang cukup untuk menjadikan déjà vu sebagai bukti reinkarnasi.

3. Mitos: Déjà vu berarti kamu bisa melihat masa depan

Mitos & Fakta Déjà Vu (2)

Gambaran bisa melihat masa depan-canva via canva.com

Fakta: Déjà vu bisa terasa seperti firasat, tetapi penelitian tidak menemukan kemampuan memprediksi masa depan

Nah, ini yang sering bikin pengalaman déjà vu terasa makin menyeramkan.

Saat déjà vu muncul, beberapa orang merasa seperti sudah tahu apa yang akan terjadi beberapa detik kemudian. Seolah-olah otak sedang membuka “spoiler” untuk kejadian berikutnya.

Peneliti Anne M. Cleary dan Alexander B. Claxton menguji hal ini melalui eksperimen navigasi. Hasilnya menarik: peserta memang merasa lebih yakin mengetahui arah yang akan mereka lalui ketika sedang mengalami déjà vu, tetapi kemampuan mereka untuk menebak arah berikutnya tidak lebih akurat daripada kebetulan.

Jadi, perasaan “aku tahu apa yang bakal terjadi” bisa muncul bersamaan dengan déjà vu, tetapi perasaan tersebut tidak sama dengan kemampuan memprediksi masa depan.

Dengan kata lain, déjà vu bisa membuat kamu merasa tahu, tanpa benar-benar membuat tebakanmu menjadi lebih tepat.

4. Mitos: Déjà vu hanyalah ingatan palsu

Mitos & Fakta Déjà Vu (4)

Ingatan/Memori-canva via canva.com

Fakta: Déjà vu memang berkaitan dengan memori, tetapi mekanismenya tidak sesederhana “salah ingat”

Menyebut déjà vu sebagai “ingatan palsu” sebenarnya terlalu menyederhanakan fenomenanya.

Penelitian  menunjukkan adanya beberapa kemungkinan mekanisme. Salah satunya adalah ketika suatu situasi baru memiliki kemiripan tertentu dengan pengalaman sebelumnya, tetapi kamu tidak secara sadar mengingat pengalaman tersebut.

Dalam eksperimen menggunakan virtual reality, peserta melihat lingkungan baru yang memiliki konfigurasi ruang mirip dengan lingkungan yang pernah mereka lihat sebelumnya. Ketika kemiripan tersebut ada tetapi peserta gagal mengingat adegan sebelumnya, laporan tentang rasa familiar dan déjà vu meningkat.

Jadi, bisa saja yang terasa familiar bukan kejadian secara keseluruhan, melainkan pola tertentu di dalamnya.

Misalnya, susunan ruangan, posisi benda, pencahayaan, atau konfigurasi tempat terasa mirip dengan sesuatu yang pernah kamu lihat.

5. Mitos: Semua déjà vu berarti ada masalah pada otak

Mitos & Fakta Déjà Vu (5)

Test mengingat memori-canva via canva.com

Fakta: Déjà vu sesekali merupakan pengalaman yang umum pada orang sehat.

Kalau kamu sesekali mengalami déjà vu, kamu nggak perlu langsung berpikir ada sesuatu yang salah dengan otakmu.

Penelitian dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry menunjukkan bahwa secara fenomenologis, pengalaman déjà vu pada orang sehat dan penderita epilepsi lobus temporal sebenarnya hampir sama (continuum). Sensasi ini dipicu oleh letupan saraf ringan (minor glitch) yang merupakan keanehan biologis biasa.

Jadi, mengalami déjà vu saja tidak bisa dijadikan tanda diagnostic bahwa seseorang mengidap penyakit neurologis.

Yang membedakan déjà vu biasa dengan déjà vu akibat kejang epilepsi bukanlah sensasi déjà vu itu sendiri, melainkan letupan saraf pada penderita epilepsi menyebar lebih kuat sehingga disertai gejala pendamping atau fenomena neurologis lainnya.

6. Déjà vu tidak ada hubungannya dengan aktivitas otak

Mitos & Fakta Déjà Vu (6)

Ilustrasi aktivitas otak-canva via canva.com

Fakta: Area otak yang berkaitan dengan memori dan familiarity memang terlibat dalam fenomena déjà vu

Walaupun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, penelitian neuroscience  menunjukkan bahwa déjà vu berkaitan dengan sistem otak yang terlibat dalam memori dan pengenalan.

Salah satu hipotesis yang banyak dibahas melibatkan struktur pada medial temporal lobe, termasuk area parahippocampal yang berkaitan dengan rasa familiar. Penelitian pada pasien epilepsi juga membantu ilmuwan memahami hubungan antara déjà vu dan aktivitas di area temporal otak.

Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa ada satu “tombol déjà vu” di otak. Apalagi pengalaman déjà vu cukup kompleks dan kemungkinan melibatkan interaksi beberapa proses memori dan monitoring pengalaman.

7. Mitos: Kalau déjà vu terjadi saat kejang, berarti setiap déjà vu adalah tanda epilepsi

Mitos & Fakta Déjà Vu (7)

Cek memori otak-canva

Fakta: Déjà vu memang bisa menjadi gejala kejang lobus temporal, tetapi kebanyakan déjà vu pada orang sehat bukan berarti epilepsi

Hubungan antara déjà vu dan epilepsi memang nyata dan sudah lama diteliti. Pada temporal lobe epilepsy, déjà vu dapat muncul sebagai aura atau gejala awal kejang fokal.

Epilepsy Foundation  juga mencantumkan déjà vu sebagai salah satu aura yang umum pada temporal lobe epilepsy.

Namun, konteksnya penting. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang mencakup 46 studi membedakan déjà vu pada orang sehat dari déjà vu yang berkaitan dengan kejang. Peneliti menemukan bahwa keduanya tidak bisa dianggap sebagai pengalaman yang sama persis.

Jadi, jangan langsung panik hanya karena pernah mengalami déjà vu ya! Yang lebih patut diperhatikan adalah jika pengalaman tersebut sangat sering, terasa ekstrem, atau muncul bersama gejala lain seperti kehilangan kesadaran, kebingungan, sensasi aneh yang berulang, gerakan otomatis, rasa takut mendadak, atau sensasi tertentu seperti bau dan rasa yang tidak biasa. Dalam situasi seperti itu, pemeriksaan medis bisa membantu mencari tahu penyebabnya.

Jadi, sebenarnya déjà vu itu apa?

Makna déjà vu

Periksa aktivitas otak & ilustrasi otak-permisi via canva.com

Kalau diringkas, déjà vu adalah sensasi kuat bahwa situasi yang sedang dialami terasa familiar meskipun kita sadar bahwa situasi tersebut seharusnya baru.

Penjelasan yang paling banyak didukung penelitian saat ini mengarah pada mekanisme memori dan familiarity. Salah satu kemungkinan adalah otak menangkap kemiripan antara pengalaman sekarang dengan sesuatu yang pernah tersimpan dalam memori, tetapi kita tidak berhasil mengingat sumber kemiripan tersebut secara sadar.

Itulah sebabnya déjà vu bisa terasa begitu meyakinkan. Perasaan familiar muncul lebih dulu, sementara otak tidak menemukan “file” memori yang jelas untuk menjelaskan dari mana rasa familiar itu berasal. Di situlah sensasinya terasa misterius.

Tapi yang harus diingat, belum ada bukti ilmiah bahwa déjà vu merupakan tanda kehidupan masa lalu atau kemampuan melihat masa depan.

Jadi, kalau lain kali kamu tiba-tiba merasa, “Kok aku pernah mengalami ini, ya?”, Nggak perlu menganggapnya sebagai pertanda mistis ya! Bisa jadi otakmu sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik: mempertemukan rasa familiar dengan pengalaman baru, meski kamu sendiri tidak tahu persis dari mana rasa itu berasal.

Gimana? apakah artikel ini menarik? Share ke teman atau keluarga yang sering cerita soal déjà vu ini ya! Siapa tahu mereka juga penasaran dan baru tahu fakta di balik pengalaman yang satu ini! Penasaran soal mitos dan fakta yang lain? Kamu bisa baca mitos dan fakta gravitasi bumi di sini ya!

FAQ

Apakah déjà vu itu normal?

Ya. Déjà vu sesekali merupakan pengalaman yang umum pada orang sehat. Meta-analysis 2024 memperkirakan sekitar 74 persen individu sehat pernah mengalaminya, meski angka tersebut bervariasi antarpenelitian.

Apakah déjà vu berarti kita pernah mengalami kejadian tersebut?

Belum tentu. Rasa familiar tidak selalu disertai kemampuan mengingat kapan, di mana, atau bagaimana pengalaman sebelumnya terjadi. Penelitian menunjukkan kemiripan antara situasi baru dan pengalaman yang pernah dilihat dapat memicu rasa déjà vu meskipun pengalaman sebelumnya tidak berhasil diingat secara sadar.

Apakah déjà vu bisa menjadi tanda epilepsi?

Bisa, terutama ketika déjà vu merupakan bagian dari aura pada kejang lobus temporal. Namun, déjà vu biasa pada orang sehat jauh lebih umum dan tidak otomatis berarti epilepsi.

Apakah déjà vu bisa memprediksi masa depan?

Bukti eksperimen tidak mendukung kemampuan tersebut. Penelitian menemukan bahwa orang dapat merasa lebih yakin mengetahui apa yang akan terjadi saat mengalami déjà vu, tetapi tebakan mereka tidak menjadi lebih akurat daripada kebetulan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.