Money Dysmorphia: Rasa Kekurangan Meski Finansial Aman

Merasa kekurangan, padahal finansial aman? Mungkin kamu mengalami apa yang disebut Money Dysmorphia!

Pernah merasa kondisi keuanganmu sebenarnya baik-baik saja, namun tetap merasa uang yang dimiliki belum cukup?

Misalnya, tabungan sudah ada, kebutuhan bulanan terpenuhi, bahkan tidak punya utang besar. Namun, setelah melihat teman atau influencer di medsos membeli rumah, mobil baru, atau liburan ke luar negeri, tiba-tiba kondisi finansial sendiri terasa jauh tertinggal.

Kalau pernah merasakan hal seperti ini, kamu mungkin pernah berhadapan dengan fenomena yang belakangan dikenal sebagai money dysmorphia. Istilah ini semakin sering muncul dalam pembahasan pengelolaan keuangan di medsos.

Advertisements

Lantas, apa sebenarnya penyebab fenomena sosial ini?

Langsung saja, scroll down untuk menggalinya lebih dalam.

Apa Itu Money Dysmorphia?

money dysmorphia adalah

Sumber gambar: canva.com

Money dysmorphia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesenjangan antara cara seseorang menilai kondisi finansial dirinya dengan keadaan finansial yang sebenarnya.

Contohnya begini. Seseorang memiliki dana darurat, mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, rutin menabung, dan tidak mempunyai utang konsumtif yang besar.

Secara objektif, kondisi keuangannya mungkin cukup sehat.

Namun, ia tetap merasa miskin karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat jauh lebih kaya di medsos.

Masalahnya bukan hanya mengenai berapa banyak uang yang dimiliki, namun juga standar yang digunakan untuk menentukan apakah dirinya sudah cukup kaya atau aman secara finansial.

Sebaliknya, orang dengan penghasilan tinggi juga bisa mengalami kondisi yang berbeda. Ia merasa sangat mampu membeli apapun karena pendapatannya besar, padahal pengeluaran, utang, dan gaya hidupnya sudah berada di luar kemampuan finansial.

Advertisements

Jadi, money dysmorphia tidak selalu berarti merasa terlalu miskin.

Intinya adalah persepsi mengenai kondisi keuangan tidak sejalan dengan realitas finansial.

Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Money Dysmorphia?

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi cara seseorang memandang uang.

Menariknya, masalah tersebut tidak selalu berhubungan langsung dengan jumlah uang yang dimiliki. Cara melihat kehidupan orang lain dan pengalaman finansial di masa lalu juga bisa ikut membentuk persepsi tersebut.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri di Medsos

membandingkan diri dengan orang lain di medsos

Sumber gambar: canva.com

Medsos menjadi salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan money dysmorphia.

Advertisements

Setiap hari, kita bisa melihat orang lain membeli barang mahal, makan di restoran mewah, menginap di hotel bagus, atau pergi berlibur ke luar negeri.

Masalahnya, apa yang terlihat di medsos biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Kita tidak tahu berapa penghasilan mereka, apakah barang tersebut dibeli dengan uang sendiri, berapa besar utangnya, atau bagaimana kondisi keuangannya secara keseluruhan.

Akibatnya, seseorang bisa membandingkan kondisi finansial nyata miliknya dengan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi untuk medsos.

2. Pengalaman Finansial di Masa Lalu

pengalaman finansial

Sumber gambar: canva.com

Cara seseorang memandang uang juga bisa terbentuk dari pengalaman hidup.

Orang yang pernah tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi tidak stabil, misalnya, mungkin membawa rasa takut kekurangan uang hingga dewasa.

Walaupun kondisi finansialnya sudah jauh lebih baik, pengalaman masa lalu tersebut tetap bisa membuatnya merasa tidak aman.

Begitu juga dengan pengalaman kehilangan pekerjaan, memiliki hutang besar, menghadapi krisis ekonomi, atau menyaksikan masalah keuangan dalam keluarga.

Semua pengalaman tersebut bisa mempengaruhi cara seseorang memahami keamanan finansial.

3. Standar “Cukup” yang Terus Berubah

penyebab money dysmorphia

Sumber gambar: canva.com

Advertisements

Pernah merasa tabungan sudah banyak, namun setelah melihat jumlah tabungan orang lain, tiba-tiba terasa sedikit?

Inilah salah satu masalah ketika standar kekayaan terus bergeser.

Seseorang mungkin awalnya merasa memiliki tabungan Rp100 juta adalah pencapaian besar. Setelah melihat orang lain memiliki Rp500 juta, angka tersebut mulai terasa kecil.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Rp500 juta, standar “cukup” kembali bergeser menjadi Rp1 miliar. Kalau terus seperti itu, kondisi finansial bisa semakin baik, namun perasaan tertinggal tidak pernah benar-benar hilang.

Survei Modern Wealth Survey 2025 dari Schwab menunjukkan bahwa generasi milenial di Amerika Serikat menyebut sekitar US$2 juta sebagai angka kekayaan yang mereka butuhkan untuk merasa kaya. Sementara itu, Gen Z menyebut sekitar US$1,7 juta.

Namun, angka tersebut adalah data Amerika Serikat sehingga tidak bisa langsung diterapkan pada masyarakat Indonesia.

Meski begitu, temuan tersebut menarik untuk melihat bagaimana standar kekayaan subjektif bisa berbeda dari kondisi finansial objektif.

Apa Ciri-Ciri Money Dysmorphia?

ciri ciri financial dysmorphia

Sumber gambar: canva.com

Karena money dysmorphia bukan diagnosis medis resmi, tidak ada daftar gejala klinis yang bisa digunakan untuk memastikan seseorang mengalaminya.

Namun, ada sejumlah pola perilaku yang sering dikaitkan dengan konsep tersebut. Seseorang mungkin:

  • Selalu merasa miskin meskipun kebutuhan dasar sudah terpenuhi.
  • Merasa tertinggal ketika melihat pencapaian finansial orang lain.
  • Merasa bersalah ketika membeli sesuatu yang sebenarnya mampu dibayar.
  • Terlalu takut menggunakan uang meskipun kondisi finansialnya sehat.
  • Terus mengejar penghasilan lebih tinggi karena merasa belum pernah cukup.
  • Menghindari investasi karena takut kehilangan uang.
  • Menghabiskan uang secara berlebihan karena merasa harus mengejar ketertinggalan.
  • Mengambil risiko finansial yang tidak sesuai dengan kemampuannya.

Dari pola tersebut, respons seseorang bisa bergerak ke dua arah yang cukup berbeda.

Ada yang menjadi terlalu takut menggunakan uang, namun ada juga yang justru terlalu bebas membelanjakannya.

Apa Dampak Money Dysmorphia?

dampak financial dysmorphia

Sumber gambar: canva.com

Kalau persepsi mengenai kondisi finansial terus tidak sesuai dengan kenyataan, keputusan soal uang juga bisa ikut terdampak.

Orang yang selalu merasa kekurangan mungkin terlalu takut mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan atau tujuan yang sebenarnya penting.

Ia bisa menunda investasi, pendidikan, perjalanan, atau pembelian tertentu karena merasa uangnya tidak pernah cukup.

Di sisi lain, orang yang merasa kondisi keuangannya sangat aman bisa mengambil keputusan yang terlalu berani. Misalnya, mengeluarkan uang secara berlebihan, mengambil utang, atau melakukan investasi berisiko tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial sebenarnya.

Dalam jangka panjang, kedua pola tersebut bisa menghambat kesehatan finansial.

Tekanan psikologis juga tidak boleh dilupakan. Kekhawatiran mengenai uang bisa membuat seseorang sulit tidur, sulit berkonsentrasi, atau terus memikirkan kondisi keuangan.

Bagaimana Cara Mengatasi Money Dysmorphia?

cara mengatasi financial dysmorphia

Sumber gambar: canva.com

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah memisahkan perasaan dari angka.

Daripada terus bertanya, “Apakah saya kaya?”, coba lihat kondisi finansial secara lebih konkret.

Berapa pendapatanmu? Berapa pengeluaran setiap bulan? Berapa jumlah utang? Apakah sudah memiliki dana darurat? Berapa tabungan dan aset yang dimiliki?

Dari sana, kamu bisa membuat ukuran keamanan atau kemerdekaan finansial yang lebih realistis.

Misalnya, daripada menggunakan gaya hidup influencer sebagai patokan, tentukan target tabungan, rasio utang, dana darurat dan investasi sesuai kemampuan, serta tujuan pribadi.

Membatasi konsumsi konten yang memicu kebiasaan membandingkan diri juga bisa membantu. Sebab, semakin sering melihat kehidupan orang lain sebagai standar, semakin mudah merasa bahwa kondisi sendiri belum cukup.

Nilai Kondisi Keuanganmu Dengan Parameter Jelas!

Singkatnya, Money dysmorphia adalah istilah populer untuk menggambarkan ketidaksesuaian antara persepsi seseorang mengenai kondisi finansialnya dengan realitas yang ditunjukkan oleh angka.

Seseorang bisa merasa miskin meskipun kondisi finansialnya relatif aman. Sebaliknya, orang yang berpenghasilan tinggi juga bisa merasa sangat aman meskipun sebenarnya memiliki risiko keuangan yang cukup besar.

Di sini, medsos, pengalaman finansial di masa lalu, tekanan ekonomi, hingga standar kekayaan yang terus berubah bisa ikut menjadi faktor yang membentuk cara seseorang melihat uang.

Untuk menghindari Money Dysmorphia ini, kamu sebaiknya menilai kondisi keuanganmu berdasarkan angka, kemampuan, dan tujuan pribadi, bukan dari kehidupan orang lain yang terlihat di medsos. Sebab, bisa saja kamu memiliki lebih banyak uang namun tetap merasa kekurangan karena standar “cukup” dinamis alias selalu bergerak.

Sebaliknya, memahami kondisi finansial secara realistis bisa membantu membuat keputusan yang lebih rasional dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang. Semoga bermanfaat.

Advertisements

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senior content writer - Wordsmith with 10 years experience. I do write everything; lifestyle, technology, finance, economic, entertainment, business, viral things, etc. Business inquiries: 0895422334529

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.