Kekasih yang selalu kubanggakan,

Dari awal kita memutuskan menjalin kasih bersama, aku selalu mencoba menerka-nerka. Benarkah kekagumanmu padaku senantiasa bertahan jika kamu memahamiku seluruhnya? Bukannya aku berprasangka buruk. Namun aku sungguh ingin menguji seberapa besar dan tinggi kadar cintamu, yang mana bisa jadi patokanku untuk memilihmu sebagai teman hidup yang abadi.

Kamu selalu memujiku dengan hal-hal baik. Tapi aku hanya bisa tertawa dalam diam. Suatu saat nanti, mungkin kamu bisa terkecoh melihat yang sesungguhnya.

Di awal dahulu, kamu selalu berkata jika aku adalah gadis paling cantik dan baik sedunia. Benarkah itu? Memang benar aku jadi tersipu mendengarnya. Tapi dalam hati, aku terkikik. Mungkin kamu belum tahu diriku yang seutuhnya. Ada kebiasaanku yang belum kamu ketahui. Pun aku yang belum mengetahui bagaimana persisnya karaktermu.

Namun persetan dengan itu semua. Sebagaimana pasangan yang sedang dimabuk asmara, aku memilih menyimpannya dalam hati saja. Kujadikan itu sebagai hiburan diam-diam. Sebab setiap kamu memujiku, ada diriku yang lain yang sedang tertawa. Dia bergumam kalau kamu harus tahu aku yang sepenuhnya. Dan itu hanya bisa kamu ketahui kalau kamu mau berjanji menatap masa depan bersamaku saja.

Ketika waktu semakin berjalan, diriku yang sesungguhnya mulai tersingkap. Lantas, kamu tetap saja bertahan.

Dahulu, kamu yang berinisiatif mengatakanku sebagai gadis tercantik sedunia. Setelah hubungan ini berjalan cukup lama, lantas kamu enggan mengucapkannya lagi. Kamu tahu aku juga adalah gadis yang terkadang ceroboh dan jorok. Aku sama saja dengan gadis-gadis lain yang bersahabat dengan iler di pagi hari sebangun tidur. Tapi, kamu tak lantas pergi karena kecantikanku tak seanggun bayanganmu. Menurutmu, ini adalah kewajaran yang sangat manusiawi.

Advertisement

Tak cukup itu saja. Kamu memaklumi segala karakter burukku. Misalnya ketika aku sedang keras kepalanya, kamu memilih mengalah. Sepertinya, kamu cukup memahami pepatah yang mengatakan bahwa wanita selalu benar. Ketika aku sedang ngambek-ngambeknya, kamu memaklumi dengan menggodaku agar aku tersenyum kembali. Saat aku marah, kamu lebih memilih diam dibandingkan turut membuat kegaduhan.

Ketika akhirnya aku jatuh dan gagal meraih impian, kamu hadir di garda terdepan untuk memberi harapan.

Sebagai kekasihmu, kadang aku kerap termenung dan mengutuki diri. Kamu adalah pria yang sedari awal memujiku cantik dan baik. Begitu tahu segala kekuranganku, kamu pun tak lantas pergi. Tapi kadang-kadang, diri ini masih saja sering tak mensyukuri dengan mengomeli orang sebaik dirimu. Namun jika tak begitu, mana mungkin aku mengetahui kalau kamu begitu berarti untuk dipertahankan?

Saat aku menangis dan merasa rendah diri karena impianku gagal teraih, kamu tak juga mau pergi dari hati ini. Kamu selalu hadir untuk memberi kata manis demi semangat optimis. Kamu selalu ada sebagai garda terdepanku dan melindungi dari segala ancaman yang mungkin membuat aku merasa luka. Harapan itu lantas bangkit kembali. Harapan membangun masa depan bersamamu, khususnya.

Untuk kamu yang tetap ada dalam keadaan sesulit apapun, kuhaturkan segala terima kasih. Kumohon tetaplah begitu hingga usia senja.

Sebab pernah kudengar sebuah pepatah yang agaknya begitu relevan dengan dirimu, priaku.

A man who truly loves you will never let you go, no matter how hard the situation is.