Suara riuh menulikan kedua indra pendengaranku. Gedung tua berdinding hijau sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa baru ini membuat kepalaku pening dengan segala ocehan dan aturannya. Terlebih saat itu suasana panas menyelimuti tubuh dan dehidrasi kurasakan menyapa kerongkonganku –entah puasa hari keberapa–. Di gedung ini, mahasiswa baru dikotak-kotakkan sesuai jurusannya. Lho?

Aku duduk dan terpaku di antara orang-orang yang belum kukenali. Aku ingin menepi, tapi sekelilingku orang-orang duduk saling merapat. Kupegang kedua lututku. Aku melirik ke kanan-kiri dan menoleh ke belakang, tapi hasilnya nol. Siapa mereka? Orang asing. Tak lama kemudian, suara cekikikan dari belakang memikat rasa penasaranku. Siapa dia? Dia adalah orang yang sejak saat itu sampai detik ini kupanggil sahabat.

Ternyata pertemuan kita diawali dari hal yang sangat sederhana. Namun, kebersamaan kita menapaki hari-hari cukuplah dibilang luar biasa.

Tidak terasa sudah empat tahun kita menjalani persahabatan ini. Tak disangka pertemuan sederhana itu membawa kita untuk saling mengikat rasa dan raga. Kita satu jurusan, bahkan satu kelas. Pertemuan yang selalu kusyukuri sampai detik ini. Suka dan duka tak perlu ditanyai seberapa besarnya. Perlu berbangga diri, kah? Ataukah ini adalah awal dari semua awal yang menggelisahkan?

Kalian yang sampai saat ini kupanggil sahabat, pernahkah kalian berpikir bagaimana perjalanan masing-masing dari kita tanpa "kita" nanti? Akankah kalian merindukan sosok "aku" ini? Dalam satu ruang kelas yang sama dan barisan tempat duduk yang sama pula, kita menguntai persahabatan kita. Dari ruang 7 sampai ruang 12 jurusan kita, tak pernah barang sebentar pun kita berjauhan.

Advertisement

Dari satu tempat ke tempat lain, awalnya kita diam –sibuk dengan gadget masing-masing– tak lama kemudian kita saling menertawakan kebodohan masing-masing. Haruskah kebersamaan kita tersita hanya karena gadget semata?

Kehilangan akan terasa sangat menyakitkan saat dia yang kita sayangi tak lagi berada di samping kita.

Kita sering satu kelompok dalam suatu MK. Kita adalah geng. Ya, kita adalah geng yang pernah membuat iri mahasiswa lain di jurusan kita. Kita membanggakan diri saat itu. Masih ingatkah? Saat kita memakai baju yang sama? Kita memakai baju lengan panjang dengan motif belang-belang sampai dipanggil Cerrybelle bahkan napi. Masih ingatkah? Saat kita memaksa panitia field trip agar kita duduk bersebelahan di bis? Atau sekamar di penginapan?

Sahabat, kita pernah mengecap dan mencumbui malam hanya untuk menyelesaikan laporan praktikum yang harus dikumpulkan esok hari. Kita harus bangun lebih awal dari biasanya, memeluk kampus yang masih sepi untuk mengikuti praktikum pagi hari. Kita pernah tertatih menaiki tangga, berlari agar tidak ketinggalan masuk MK. Kita pun pernah berlari menapaki tangga untuk sampai ke laboratorium atas, di lantai 3, agar diizinkan mengikuti praktikum.

Kita juga pernah dihantam deraian air hujan saat akan mengikuti mata kuliah Fisika. Hingga, saat tiba di kelas pakaian kita basah kuyup. Masih ingatkan kenangan-kenangan itu? Atau yang mungkin paling kalian ingat adalah saat kita mengeluhkan banyaknya tugas kuliah yang menyita waktu kita.

Kenangan-kenangan yang telah dibuat menjadi alasan kita untuk menengok masa lalu dan mengajak kalian bergenggaman tangan lagi di masa depan.

Sahabat, empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Kita telah mengeluarkan banyak keringat dan airmata. Kita pernah saling berselisih. Kita berjauhan. Namun, akhirnya kita kembali saling bergenggaman tangan. Aku tidak akan lupa pedasnya omongan kalian menasihatiku karena sifat keras kepalaku. Aku tidak akan lupa saat kalian mengulurkan tangan, menggenggam tanganku, lalu memelukku saat aku berada di titik terpuruk kehidupan.

Aku juga tidak akan lupa begitu sabarnya kalian memahami sifatku yang amat menyebalkan ini. Kalian tetap menyemangatiku meski terkadang aku pernah mengabaikan kalian. Ketulusan hati kalian membuatku percaya bahwa sahabat sejati itu ada.

Aku menyadari kalianlah sahabat terbaik yang kupunya. Aku munafik jika tak mengakui bahwa kalian sosok berarti dalam hidupku.

Namun, waktu membawa kita pada sebuah kenyataan bahwa kita tak selalu bersama. Di suatu waktu di masa depan, kita punya masa sendiri, kita punya kehidupan sendiri. Dan, di semester akhir inilah kerenggangan persahabatan kita dimulai. Kita sibuk masing-masing. Kita punya tanggung jawab sendiri. Kalian sibuk dengan tugas akhir kalian, begitupun denganku. Aku berjuang. Tak kubiarkan kesempatan bertemu dosen pembimbing berlalu begitu saja.

Meski napas terkadang terengah dan keringat bercucuran dari kening, itu tak masalah. Menunggu dosen dari pagi sampai sore pun pernah kujalani. Kehilangan satu kesempatan bertemu dosen pembimbing begitu menyesakkan untukku. Kalian merasakan itu?

Sahabat, langkah terakhir untuk mendapat gelar sarjana sudah di depan mata. Bahagiakah kalian? Aku sangat bahagia. Namun, ada satu hal yang selalu kutakutkan. Langkah terakhir semasa kuliah ini akan membawaku untuk berjauhan dengan kalian. Kalian tahu, hal yang paling menyakitkan untukku adalah berpisah dengan kalian. Berpisah dengan sahabat seperti kalian sudah terpikirkan sebelumnya.

Namun, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, untuk kehidupan kalian. Di mana pun kalian berada nanti, aku tetaplah aku yang kalian kenal. Tolong jangan melupakan si "aku" yang menyebalkan ini.

Semoga kelak, waktu mempertemukan kita kembali entah di mana dan dengan siapa kita nanti.

Salam sukses untuk kalian para sahabatku.