Aku bersalah karena sempat berpikir tak ada lagi cinta di antara ke dua orangtuaku setiap kali mereka bertengkar. Mengapa mereka sahut-menyahut menyebutkan kekurangan masing-masing dan semakin menyebar jika tidak ada yang mau mengalah?

Aku juga benci setengah mati ketika mereka dengan mudahnya melontarkan kata cerai berulang, bergantian, dan diakhiri saling diam beberapa waktu. Mengapa mereka bertahan jika alasannya hanya kami? Apakah kami penghalang kebahagiaan mereka? Cinta mereka pada dirinya sendiri?

Advertisement

Aku tak pernah percaya cinta memiliki bentuk beragam nan konyol, sampai aku bertemu denganmu. Aku pikir kita sudahi saja penyakit-penyakit batin yang tampaknya tak kunjung membaik kian harinya.

Kamu pikir kita sudahi saja gairah-gairah tak terarah yang semakin hilang kendali. Kami pikir, kami sudahi saja nelangsa kami yang tak kunjung mampu saling mengisi. Tapi dia benar, keutuhan itu seperti manekin yang belum selesai. Sisakan saja bagian kepala, dan biarkan kaum kami mengindrakanya jauh lebih indah. Tampakkan saja cacatnya agar lebih sempurna.

Aku menjalani hari-hari yang luar biasa dengannya walaupun berat dan sangat rumit. Aku dengan mudah mengatakan "kita akhiri saja", ketika aku tahu setengah mati kamu bertahan. Kamu dengan mudahnya mengatakan "kita akhiri saja", ketika kau tahu setengah mati aku bertahan.

Advertisement

Lalu, kapan kita sama-sama berkata "kita akhiri saja", tanpa saling setengah mati untuk bertahan? Lalu, bagaimana bisa? Aku justru semakin yakin bahwa aku jatuh cinta pada setiap gores yang tak sengaja kau hibahkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya