Boas adalah seorang anak yang lahir dari keluarga terkaya di daerahnya setelah pindah dari kota besar, namun kekayaannya tersebut tidak membuatnya selalu bahagia. Orangtuanya selalu sibuk bekerja, bahkan sampai tidak pulang sehingga membuat Boas kesepian, bahkan dia tidak punya teman. Anak-anak sebanyanya selalu membuat jarak dengan Boas.
Hey lihat itu Boas, dia sendirian lagi. Kata Andi pada sahabatnya Rudi.Â
iya, mentang-mentang kaya, dia selalu menjauh dan ndak pernah berbicara dengan kita.Â
Heh bukannya kita ya yang seharusnya mengajaknya berteman, kan dia anak baru disini. Sahut Hadi pada percakapan dua temannya itu. Ngajak berteman gimana, dia aja kelihatan seperti merendahkan kita gitu. Kedua temannya berpikiran seperti itu.
Kalian duluan saja, aku mau mampir ke warung dulu. kata Hadi pada dua temannya. Oke, kita duluan. jawab Rudi sambil bejalan berlalu dengan Andi.
Saat di warung Hadi melihat Boas yang sedang menunggu penjual warung tiba. Hadi mendekati Boas dan berkata, Hei, kamu mau beli apa? Boas yang duduk melamun kaget, lalu menoleh dan melihat wajah yang tidak asing baginya, itu karena dia sering melihat wajah anak-anak di kelasnya tapi tidak berani untuk memulai obrolan. Boas menjawab, Kku mau beli indomie.Â
Heh, kamu ternyata juga makan indomie? tanya Hadi.Â
Memangnya kenapa?Â
Ndakpapa, hanya saja aneh, kamu kaya tapi makan indomie.
Hahaha. Ibuku jarang memasak. jawab Boas sambil murung. Memang Ibumu kemana?Â
Ibuku kerja, pulangnya malam, jadi kalau Ibu ndak memasak aku biasanya beli telur atau mi instan.Â
Wah, terus kamu ngapain aja habis sekolah? Tanya Hadi lagi. Aku ndak ngapa-ngapin. Percakapan mereka berhenti beberapa menit, dalam beberapa menit tersebut Boas berusaha berkali-kali untuk memulai percakapan agar dapat menjadi teman Hadi, akhirnya Boas memberanikan diri untuk bertanya, Kamu mau beli apa?
Oh aku juga mau beli indomie. jawab Hadi santai. Mendengar itu Boas bahagia dan langsung mengajak Hadi untuk kerumahnya. Kalau gitu, mau masak bareng dirumahku ndak?Â
Waa, boleh tuh, aku sebenernya gak dibolehin ibuku makan mi instan, makanya aku kewarung buat beli mi yang mateng, tapi kalau masak dirumahku kan lumayan bisa hemat uang, hahaha. jawab Hadi sambil tertawa kecil. Anu, nama aku Boas, kamu siapa?, Maaf aku susah ingat nama. tanya Boas dengan sedikit takut. Oh iya ya, harusnya aku perkenalkan diri dulu sebelum ngobrol, maaf-maaf, namaku Hadi, salam kenal. Hadi mengulurkan tangan setelah berucap demikian. Mereka pun menghabiskan waktu sampai Maghrib berkumandang.
Keseokan harinya di sekolah. Rud, UAS tinggal  seminggu lagi nih, gimana? Tanya Andi pada Rudi. Apanya gimana? Jawab Rudi malas. Nilai kita nanti gimana? Oh iya ngomong-ngomong nilaimu kok bagus-bagus sih Had? Ajarin dong. kata Andi dengan memelas. Oh, minta ajarin Boas, aku aja diajarin Boas. jawab Hadi.
Yah, itu sih gara-gara dia kaya terus sewa guru les makanya pintar. kata Andi kesal.
Mendengar itu Hadi sedikit kesal dan berkata, Heh kalian kok berpikir gitu sih? Kenapa kalian pikir kalau dia dari keluarga kaya dia gak usaha sama sekali? Si Boas itu setiap pulang sekolah selalu belajar giat, gak seperti kalian yang malah main layangan, jangan karena dia kaya terus kamu ndak akuin kerja kerasnya, kalu mau lihat, ayo nanti pulang sekolah kita kerumahnya.
Ndak mau, canggung Had, dia loh gak pernah ajak bicara kita, masa kita langsung ke rumahnya. jawab Andi. Bener Had. tambah Rudi.
Bukannya dia ndak ingin buat ngajak bicara atau berteman dengan kalian, coba kalian bayangin kalian jadi Boas yang baru pindah dan karena kaya kalian selalu dipandang berbeda, kalian tau ndak, bukannya Boas yang sombong, tapi sebenarnya kalian saja yang tidak percaya diri. Aku yakin Boas pasti senang kalian datang main kerumahnya. kata Hadi pada Rudi dan Andi.
Bener tuh? Tanya andi dan Rudi.Â
Setelah pulang sekolah Hadi, Rudi, dan Andi pergi ke rumah Boas, Boas senang sekali karena Rudi dan Andi datang bermain kerumahnya. Setelah melihat keseharian Boas yang sepi tanpa mereka, Andi dan Rudi sadar bahwa Boas bukanlah orang yang menjauh karena sombong, melainkan karena dia tak tahu mau berbuat apa untuk berteman. Sejak hari itu sampai sekarang mereka tepat menjadi teman, dan sekarang tidak hanya Boas saja yang kaya, tapi mereka semua.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”