Aku menghentikan langkah kakiku di penghujung jalan itu. Berdiam diri dan memejamkan mata sejenak. Sederet gambaran tak nyata berlari melintasi kepalaku. Menghantam setiap dinding nadiku. Dan memompa seluruh denyut jantungku. Bukan, bukan sebuah momen yang bisa kubanggakan. Tapi, mungkin perlu aku lukiskan.

Aku menghelas napas yang panjang. Menoleh. Memandang ke lintasan jalan berkerikil di belakangku. Ya, banyak yang terjadi dalam satu tahun ini.

Kamu jelas tahu bahwa aku bukanlah pribadi yang bisa mengupas habis setiap lembaran kisah hidupku. Namun, biarlah aku berbagi sedikit kepadamu. Jangan mengecapkan stempel padaku terlebih dahulu. Karena kamu tak tahu apa saja yang berkecamuk dalam pikiranku. Dan pergumulan apa yang sedang mengoyak batinku.

Tapi apa yang sudah aku lalui ini, memang sesuatu yang harus aku hadapi.

1. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya. Kisah cinta ini bukanlah impianku.

Aku berdiri dalam diam. Melayangkan pandang ke arah cermin di depanku. Menangkap bayangan diriku yang terpantul secara sempurna. Aku melihatnya. Guratan luka dan beberapa simpul noda biru menghiasi wajah dan lenganku dengan begitu indahnya. Ya, aku jauh dari sempurna. Aku jauh dari indah. Begitu pula dengan kisah cintaku tahun ini.

Advertisement

Apakah hubungan ini yang aku inginkan? Bukan! Sebuah hubungan yang melibatkan emotional abuse dan physical abuse. Apakah aku benar-benar bahagia? Apakah rasa ini sebegitu layaknya diperjuangkan, jika harga inilah yang harus aku bayar?

Kamu bilang sayang. Kamu bilang cinta. Tapi, tak bisakah kamu sedikit menahan emosimu? Aku bukanlah bantalan tempat tanganmu beradu ketika kamu sedang marah. Aku tak sekuat itu, sayang. Dan aku tak selemah yang kamu kira. Kamu bilang aku tak mampu jika tak ada dirimu. Serendah itukah kamu menilai diriku? Kakiku tak bisa menopang penghinaan ini lebih jauh lagi.

Aku sudah lelah. Aku ingin menyerah. Haruskah sekali lagi aku merasakan pahitnya patah hati? Perlukah aku sekali lagi mengubur rasa ini? Meletakkannya di lubang terdalam dan meninggalkannya terbengkalai hingga jadi bangkai?

2. Aku tahu dia telah pergi dan tak akan pernah kembali. Namun, jika waktu bisa diputar ulang, aku akan membahagiakannya tanpa jeda antara ruang.

Alunan musik syahdu menggelitik saraf pendengaranku. Mengalun begitu lembut seolah ingin memanjakan nurani ini. Aku menyeka air yang menggenangi kedua mataku. Bola mata ini terpaku pada satu titik. Kain putih yang menyelimuti sebuah peti yang hanya bergeming di tengah ruangan ini.

Kupandangi sosok wajah itu. Wajah yang tak lagi merefleksikan berbagai ekspresi. Wajah yang tak akan pernah lagi tersenyum atau merengut. Ibu, semoga kau tenang di sana. Aku membatin tanpa bunyi.

Sudahkah aku membahagiakan ibu? Apakah ibu bangga memiliki diriku? Ataukah aku lebih banyak mengecewakan ibu? Bisakah aku diberikan kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada ibu lebih dalam lagi? Pertengkaran dan segala perselisihan itu, izinkanlah aku untuk menghapusnya.

Ah.. Semua ini jelas sia-sia. Aku harus bisa merelakannya pergi. Menyisakan rantai kenangan yang akan aku simpan dengan rapi di dalam lubuk hati. Dengan segala penyesalan yang masih tersisa di diri. Sampai kapankah kesedihan ini akan terus datang menghantui?

3. Hidupku serasa hancur. Fondasiku runtuh. Mata pencaharianku terbakar dan tersapu bagai debu.

Aku duduk sendiri di sini. Menatap setiap goresan tinta berbentuk angka yang terpampang sepanjang helai kertas. Sekarang, nominal-nominal besar itu seperti sebuah ilusi yang menipu hati. Dadaku bergejolak. Ragaku memberontak. Jiwaku menyayat. Aku telah kehilangan semuanya. Usaha yang telah aku rintis selama ini, sekarang sudah rata dengan tanah.

Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup? Segala yang aku punya hampir tak bersisa. Api semangat yang dulu berkobar, sekarang sudah hampir padam. Aku tak lagi percaya diri untuk membangun kembali dari bawah. Apa aku sanggup? Apa aku mampu?

Segala jerih payahku. Seluruh peluh keringatku. Yang sudah tertampung dalam kendi hingga penuh. Telah menjadi mata air penyubur hidupku. Namun kini, kendi itu retak. Pecah terbelah dua.

Membantingku hingga ke dasar. Tanpa ampun. Tidak memberiku kesempatan untuk bernapas sedetik pun.

Lalu, bisakah aku bangkit? Berjuang dari nol untuk kembali menata hidupku? Takutkah aku? Atau aku akan berhenti dan bersembunyi saja di sini?

Kini kamu tahu apa yang sudah aku hadapi. Bukan kisah cinta. Bukan kisah yang bahagia. Hanya sebuah coretan untuk penguat asa. Mungkin memang cerita ini bukan yang aku rencanakan di tahun ini. Karena ada kalanya kuasaku terbatas untuk menentukan apa yang boleh terjadi.

Sekarang aku memalingkan wajahku dari jalan di belakangku itu. Aku menatap ke depan. Ke sebuah kanvas putih tanpa corak, tanpa noda. Apapun yang tergambar nanti di sana. Halangan apapun yang akan aku temui kelak. Jemari inilah yang menggenggam tangkai kuas.

Aku ingin melupakan semuanya, termasuk kecup manis darimu. Aku ingin meninggalkan penyesalan dan kesedihan yang telah berlalu. Aku ingin bangkit dan terus melangkah ke depan.

Hei, kamu! Ya, kamu! Kamu mungkin punya kisah sendiri. Kisah yang berbeda denganku. Tapi, maukah kamu berjalan ke depan bersamaku? Saling membakar semangat dan menyulut percaya diri.

Biarlah kita terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terlepas dari segala kesulitan yang telah kita temui di tahun ini. Risiko akan tetap ada, rintangan akan tetap membentang. Tapi berjalan tegak dengan gagah berani, menjadi satu-satunya solusi yang harus dijalani. Karena apa yang sudah kita lalui sekarang, akan membentuk sosok kita di masa mendatang…

Apapun yang terjadi di tahun ini, bersyukurlah selalu. Happy New Year 2016 everyone! đŸ˜€

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa kisah hidup dari berbagai sumber.