Kisah ini berawal dari sebuah pdf online berupa lembaran ta'aruf yang saling kirim satu sama lain antara aku dan dia, jodohku. Dalam waktu satu bulan, akhirnya kami menikah dan hijrah ke pulau Jawa meniti kehidupan bersama jauh dari orang tua dan mertua.
Tepat pada Januari 2020, akhirnya kami memulai hidup sebagai pasangan suami-istri di tanah rantau. Betapa bahagianya menjalani kehidupan rumah tangga yang sedang berusaha saling kenal, adaptasi, dan memahami satu sama lain. Pernikahan kami tidak dimulai dari pacaran sehingga harus saling mengenal lebih dalam dimulai sejak menikah.
Qodarullah, ternyata di bulan Maret 2020 aku positif hamil. Saat itu, aku sebenarnya penasaran mengapa haidku telat. Lalu aku memutuskan untuk tes urine dan aku sempat terkejut saat melihat hasilnya. Akhirnya aku menangis sebab merasa aku belum siap dan masih ingin menikmati masa-masa pacaran setelah menikah. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin aku menyalahkan takdir yang sebenarnya rezeki dari Sang Khaliq.Â
Keterkejutanku itu juga membuat aku sadar bahwa calon buah hati ini memang anugerah Tuhan. Mengapa? Karena sebelum aku tahu bahwa aku hamil, aku sempat terjatuh di toilet posisi terduduk tetapi aku tak mengalami pendarahan. Oleh karena itu, aku merasa aku belum hamil. Namun, kenyataannya aku fix hamil.Â
Aku pun akhirnya menjalani kehamilan dengan tenang dan menerima pemberian Sang Ar-Razaq. Aku selalu berusaha menjaga janinku semampuku. Tetapi kejadian tak terduga terjadi lagi. Di masa trimester pertama aku jatuh pingsan saat sholat Zuhur. Di kala itu, aku berdiri takbir, kepalaku pusing tiba-tiba dan dalam hitungan detik akhirnya aku jatuh ke lantai. Beberapa menit kemudian, aku terbangun dan menyaksikan di pinggir bibirku luka berdarah, dahiku benjol cukup besar, dan mataku bengkak sebelah. Tiada hal lain kulakukan, aku pun menangis dan meminta suamiku untuk pulang ke rumah dan segera memeriksa janinku. Aku khawatir dengan keadaan janinku akibat aku jatuh. Aku juga malu dengan keadaan wajahku tak karuan akibat luka, bengkak, dan benjol. Saat aku jatuh, nampaknya menabrak pintu di posisi dekat sajadah saat ketika hendak sholat.
Di rumah sakit, dokter memeriksa janinku dan hasilnya Alhamdulillah aman aman saja. Tetapi, aku disarankan untuk dirawat di RS dan diinfus akibat pingsan tersebut. Dokter memberikan pilihan apakah mau diinfus di RS atau makan dan minum yang banyak di rumah agar aku kuat menjalani kehamilan. Aku dan suami memilih pulang ke rumah dan menjaga pola makan yang benar agar kejadian tersebut tak berulang. Ini demi sang buah hati. Aku juga tak bisa membayangkan bila harus dirawat di RS sendirian karena suami tak diizinkan menjenguk sebab Corona melanda alam.
Hari demi hari pun dilalui hingga akhirnya terlewati trimester pertama, trimester kedua, dan menuju trimester ketiga. Di trimester akhir ini, kebingungan pun aku alami. Mendekati HPL, bayi belum mau keluar ke dunia baru, tidak ada tanda kontraksi sama sekali.Â
Berbagai usaha sudah dilakukan baik induksi alami maupun buatan. Hasilnya nihil, tak mempan. Bidan pun bingung karena beliau sudah menginduksi sejak pukul 9 pagi, tetapi hingga 9 malam tidak ada kemajuan pembukaan, hanya mentok di pembukaan satu. Akhirnya, bidan bicara padaku bahwa jalan lahirku akan dibuka paksa agar memicu kontraksi dan pembukaan. Sesaat setelah bidan selesai melakukan itu, tiba-tiba ketubanku pecah dan airnya berwarna hijau. Aku sangat khawatir karena air ketuban sudah berubah warna. Hanya bisa berdoa agar bayiku sehat walafiat.
Kontraksi berkepanjangan pun dimulai. Sungguh sakit dan tak tahan diri ini menahan kontraksi berulang sekian detik mulai pukul 9 malam hingga pukul 4 pagi. Tak bisa tidur, tak bisa tenang, rasanya lebih baik sesar saja daripada kesakitan seperti itu.Â
Aku selalu bertanya ke bidan, Teh, kapan ya bayinya lahir? Aku tidak tahan. Aku mau sesar saja kalau si bayi belum keluar keluar. Tolong buatkan rujukan ke RS saja sekarang. Saat itu sekitar pukul 4 pagi. Bidan hanya bisa berusaha menenangkanku dan memintaku bersabar. Aku benar-benar sudah mulai tak kuasa dengan rasa sakit kontraksi dan jadinya malah emosi.Â
Tiba-tiba, mulai pukul 5 pagi kontraksi makin dahsyat. Bidan segera memeriksa jalan lahirku dan ternyata si bayi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan menyapa kami segera. Akhirnya, pembukaan lengkap berlangsung dan aku berusaha mengejan semampuku dan lahirlah putri cantikku dengan tangisan khasnya. Alhamdulillah, dia sehat walaupun tadinya aku sempat khawatir. Aku dan suamiku pun mulai merawat tanda cinta kami bersama tanpa keluarga terdekat.Â
Perjuangan ternyata belum selesai juga. Seminggu pasca persalinan, jahitan periniumku dinyatakan infeksi dan lepas. Sontak aku syok dan air mataku tak terbendung seharian semalaman. Aku hanya membayangkan bagaimana aku merawat bayiku jika kondisi periniumku saja belum membaik. Akhirnya kami menitipkan bayi kami ke paraji dengan menyewanya untuk merawat bayi kami sementara. Aku dan suami pergi ke RS untuk menjahit ulang luka periniumku. Namun, dokter bilang bahwa luka periniumku tak bisa dijahit ulang dan kalaupun dijahit, maka akan lepas lagi dan percuma saja. Aku hanya bisa menerima kenyataan itu dan berusaha ikhlas. Dokter hanya memberi antibiotik dan bubuk peka untuk merendam luka periniumku. Beliau juga menyarankan agar kembali lagi ke RS setelah 3 bulan untuk memeriksa periniumku.
Tiba waktunya setelah tiga bulan, aku malah memeriksa periniumku ke klinik. Bidan mengatakan bahwa luka periniumku sudah sembuh. Akhirnya, aku dan suami lega dan tenang karena penantian tiga bulan membuahkan hasil. Aku pun bisa beraktivitas lebih leluasa.
Ternyata, mendapatkan gelar ibu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Banyak sekali proses, perjuangan, pengorbanan, dan air mata yang harus dibayar untuk menaiki tapak demi tapak tangga menuju posisi sebagai ibu. Tak bisa dipungkiri pula bahwa menjadi seorang ibu ialah hal yang luar biasa istimewa.
Sesungguhnya Sang Maha Kuasa tahu apa yang terbaik untuk kita dan kita hanya merencanakan tapi Dia-lah yang menentukan.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”