#KompetisiYoungMom-Meramu Jemu Menjadi Candu

Menuntaskan rasa jemu mengurus anak perlu dilakukan sesegera mungkin agar hidup dapat terkendali.

Menjadi seorang ibu tentunya adalah momen yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi setiap perempuan, termasuk diriku. Mengurus rumah tangga, memantau pertumbuhan dan perkembangan si kecil, menemaninya bermain setiap hari, dan memastikan kesehatan si kecil dan keluarga selalu terjaga menjadi rutinitas yang tidak bisa dihindari oleh seorang ibu rumah tangga. Bahagia memang, tetapi dikarenakan monotonnya aktivitas yang dikerjakan setiap hari, terkadang membuat kita merasa jemu. Apalagi jika jauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat sepertiku.

Sejak menikah pada September 2019 lalu, aku ikut suami merantau ke Pulau Jawa. Tinggal berdua saja dengan pasangan –apalagi kerap ditinggal pergi kerja—cukup membuatku merasa bosan. Ditambah lagi kami masih tinggal di kos-kosan pada awal meniti kehidupan pernikahan. Hanya di kamar kecil yang sumpek. Bersyukurnya Tuhan segera meniupkan ruh dan menitipkan bidadari  salihah di rahimku, hingga kamu memutuskan untuk pindah ke rumah kontrakan agar lebih legah.

Tibalah saatnya aku berjumpa dengan buah cinta, setelah berbulan-bulan sebelumnya hanya bercengkerama lewat tendangan dan layar USG saja. Kini aku dapat merengkuh si Kecil dengan lebih intim. Namun, karena jarak antara Pulau Sumatra tempat kelahiranku dengan Pulau Jawa, membuat orang tuaku tidak bisa mengunjungi. Ditambah situasi pandemi yang makin mempertebal dinding pemisah di antara kami, memaksaku mengurus buah cinta pertama ini hanya bersama suami.

Banyak masalah yang kuhadapi selama merawat si Kecil di awal kehidupannya, tetapi rasa bahagia juga turut menyertai, karena aku dapat selalu membersamai di periode emasnya. Namun ada kalanya, rasa jemu dengan aktivitas yang itu-itu saja kerap menyergap tanpa aba-aba. Ditambah saat mengasuh anak menemui kendala, misalnya anak susah makan, anak tidak bisa ditinggal hingga pekerjaan rumah terbengkalai, dan lain sebagainya. Tidak ada keluarga yang dapat membantu meringankan beban, serta sahabat tempat meluapkan sambat membuat jalan pikiran kian buntu.

Nah, jika sudah begini apa yang harus dilakukan? Ya, tentunya diri sendirilah yang dipaksa semesta untuk mengatasi segalanya. Tidak ada sesuatu yang bisa kita buang begitu saja, melainkan mencari jalan agar situasi dapat diajak kompromi sesegera mungkin.

Beberapa poin inilah yang kulakukan agar rasa jemu menjadi candu. Yuk, simak!


  • Beryukur dan Berdoa. Tidak mudah memang, di situasi sulit seperti ini untuk bersyukur. Namun aku berpikir banyak di luar sana yang mungkin mendambakan posisi sepertiku. Misalnya saja teman-temanku yang ingin menikah, tetapi belum menemukan jalan dan jodohnya. Begitu pula temanku yang lain, bertahun-tahun menantikan momongan. Lalu banyak berdoa, karena doa adalah senjata orang mukmin.

  • Turunkan Ekspektasi. Rumah sedikit berantakan jangan dibuat masalah. Aku melakukan sapa yang benar-benar penting saja, karena itu dapat meloloskan sedikit beban di dada.

  • Komunikasikan dengan Pasangan. Berbagi pekerjaan rumah dengan suami sedikit banyak dapat membantu melepaskan penat buatku. Meminta pengertian agar suami dapat memahami posisi kita tidaklah salah, karena rumah tangga adalah berdua bukan seorang saja.

  • Menghubungi Keluarga dengan Video Call. Berbicara dan meluapkan rasa lelah pada orang tua dan saudara juga cukup membantu. Walaupun mereka tidak bisa membantu, setidaknya mendapat nasihat sudah dapat menenangkan.

  • Me Time/Melakukan Hobi. Sangat perlu buatku untuk me time/sejenak melakukan hobi yang membuatku senang. Mengikuti event atau giveaway di media sosial saja sudah membuatku merasa senang, atau skincare-an setelah anak tidur.  

  • Bergabung di Komunitas Online. Mencari tempat yang bisa saling berbagi juga bisa untuk mengurangi beban bagiku, aku pun mengikuti beberapa komunitas online yang dapat membantu jika ada yang ingin ditanyakan.

  • Meluapkan Emosi. Berteriak dan menangis, aku pun melakukannya. Tidak ada salahnya, karena aku pun manusia. Namun setelah itu, tenangkan diri dengan menarik napas panjang dan embuskan.

  • Sabar. Sesuatu yang paling mudah diucapkan , tetapi sulit untuk dilakukan. Namun aku harus tetap berusaha melakukannya, karena masa bersama anak tidaklah berlangsung selamanya. Anakku akan terus bertambah besar dan memiliki dunianya sendiri. Jadi, aku harus menikmati setiap detik momen bersamanya, agar tidak menyesal di kemudian hari. Tentu saja, ketika dia sudah dewasa atau bahkan menikah, aku pasti akan merindukan tubuh mungilnya yang dapat kurengkuh. Hal inilah yang membuat jemuku berubah menjadi candu. Candu ingin terus mendekapnya dalam pelukanku.

Nah, beberapa poin itulah caraku meramu jemu menjadi candu. Rasa bosan, jenuh, lelah, bahkan marah adalah manusiawi karena kita sebagai ibu juga adalah manusia biasa. Namun, kita selalu dapat mengambil kendali apa yang bisa kita kendalikan, yang lain-lain jangan dipikirkan. Sungguh, masa bersama anak begitu singkat, hanya sampai ia mengerti kehidupan dan mengambil alih dirinya sendiri, menikah misalnya. Jangan sampai disia-siakan.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Nona embun yang merindukan dekapan sang surya 💧