#KompetisiYoungMom-Pulau Cinta, Perjuanganku Meng-Asihi

Bunyi peralatan dokter terdengar mencekam. Hawa dingin di ruangan 3×3 m terasa menusuk hingga tulang. Aku menatap langit-langit ruangan yang serba putih, menambah kecepatan denyut jantungku. Baru kali ini aku ada di ruangan operasi. Baru kali ini pula aku akan bertemu dengan buah hati yang sudah 9 bulan lamanya di kandungan. Hatiku campur aduk, rasa takut juga sumringah tidak sabar akan bertemu dengan anakku.

Selang beberapa menit datang dokter-dokter yang hendak melakukan tindakan operasi terhadapku. Tak henti-hentinya aku melantunkan dzikir dalam hati. Bersyukur, dokter mengajak bercanda hingga aku tidak lagi setegang tadi. Kemudian aku dibius lokal. Aku masih sadar, membuka mata, hanya saja tidak merasakan apa yang terjadi dengan perutku. Pandanganku terbatas pada selembar kain yang diletakkan di depanku, hingga aku tidak bisa melihat jelas bagaimana proses tindakan itu dilakukan. Tak membutuhkan waktu lama, suara tangis bayi itu terdengar nyaring di telinga. Aku menangis haru.

Air mata bahagiaku terus mengalir. Hari yang tak pernah kulupakan seumur hidupku. Setahun lalu, menjadi hal yang paling berat bagi hidupku. Melahirkan bayi tidak dengan tangisan, sungguh mengiris hati. Saat itu aku diinduksi kemudian melahirkan secara normal bayi yang sudah tidak bernafas itu. Aku tahu bayi tersebut meninggal saat pemeriksaan USG, tidak ditemukan detak jantungnya. Kali ini aku mendapatkan hadiah terindah dari Allah. Aku merasakan bagaimana bahagianya saat melahirkan bayi dengan suara tangis. 

Kuberi nama Muhammad Ismail Alfarizqy. Ismail, karena lahir menjelang Idul Adha. Idul Adha menjadi momen yang penting bagi hidupku, karena saat menjelang Idul Adha pula bayi pertama yang meninggal itu lahir untuk dimakamkan.

Rumah sakit tidak membolehkan kami untuk bertemu langsung karena pandemi yang sedang merajalela. Sepulang dari rumah sakit, tak ingin kulewatkan sedetikpun kebersamaanku dengan Fariz, panggilan bayi mungil itu. Ketika menyusui, aku menatap matanya lekat-lekat. Mendekap erat dan berharap bayi itu jangan lekas besar. Aku masih ingin terus bersamanya.

Namun hari keempat bersama Fariz di rumah, aku mendadak panas tinggi. Tubuhku serasa sangat tidak bertenaga. Bersyukur suami sangat membantu dalam keperluan mengurus bayi. Ketika hari keenam menyusui Fariz, aku dan suami berinisiatif memeriksakan diri untuk memastikan saya terjangkit Covid-19 atau tidak.

Air serasa membendung kedua bola mataku. Hatiku tersayat memegang selembar kertas berisikan hasil Covid-19. Aku positif. Suami membantu menenangkanku. Langkahku lunglai. Tangisku pecah. Ah, baru saja aku mendapatkan kebahagiaan tak terkira setelah mengalami kehilangan buah hati sebelumnya, tapi mengapa aku harus terjangkit Covid-19 yang membuatku tidak berani menyentuhnya sembarangan. 6 hari yang sangat berkesan saat kubisa bebas memeluk, mencium, dan mendekap erat tubuh mungilnya.

Singkat cerita, aku dan bayiku dirawat oleh orang tuaku. Tentu saja kamar kami terpisah. Aku tidak berani menyusui Fariz langsung karena takut membuatnya tertular. Karena gejala varian Delta yang membuatku tak sanggup mengurus diri sendiri, aku pun tidak memikirkan tentang memompa asi. Fariz sementara ini meminum susu formula dengan botol dot. Ketika aku bangun tidur, aku mendapati rembesan asi yang begitu banyak membentuk pulau cinta. Aku menyebutnya pulau cinta karena memang bentuknya seperti pulau dan menyerupai waru yang sering disebut sebagai simbol cinta. Begitu pula asi yang merupakan bentuk cinta luar biasa seorang ibu pada anaknya.

Sudah banyak obat dan vitamin yang kuminum, tapi tak kunjung menghilangkan demam tinggi, sesak nafas, dan berbagai gejala lainnya. Saturasi oksigenku menurun hingga 88-89, jauh dari yang seharusnya. Aku dibawa ke RSUD, namun semua kamar penuh. Di IGD sudah ada 30 pasien yang menunggu. Kamipun pulang ke rumah, dan melanjutkan isolasi mandiri. Kemudian ayah mendapat kabar ada temannya yang merupakan penyintas Covid-19 bisa sembuh dengan pengobatan herbal. Pengobatan itu didampingi oleh dokter yang ternyata rumahnya tak jauh dari rumah kami.

Setelah menjalani pengobatan herbal tersebut, Alhamdulillah gejala-gejalaku perlahan menurun. Semangatku berangsur kembali. Ada harapan besar untuk bangkit dan sembuh. Terutama selepas aku melakukan video call dengan Fariz walau dalam satu rumah. Rindu yang tak tertahan, ingin sekali segera menggendongnya. 18 hari setelah gejala Covid-19, aku memberanikan diri melakukan tes swab ulang. Jantungku berdegup kencang, persis seperti hendak melakukan ujian skripsi dengan dosen-dosen killer. Negatif. Setelah penantian lama, akhirnya aku negatif juga dari penyakit itu. 

Sesampainya di rumah, aku segera mencuci tangan dengan sabun dan berlari mendekap Fariz. Aku memeluknya erat.

Ayo coba langsung disusuin. Mumpung lagi minta susu itu! Saran Ibu. Aku mengangguk semangat. Sudah terbayang bagaimana nikmatnya menyusui Fariz, momen saat menatap kedua matanya, mendekapnya, juga suara gleg saat menelan asi.

Namun semua bayangan itu sirna saat Fariz menangis histeris dan menolak asi yang kusodorkan langsung. Mukanya memerah. Fariz benar-benar tidak mau meminum asi langsung dari ibunya. Aku patah hati. Fariz lebih memilih botol dot dan bisa tidur tenang setelahnya.

Aku mencoba menggali informasi dari berbagai sosial media, juga bertanya pada teman-teman komunitas ibu menyusui. Aku mencoba melakukan relaktasi, menyusui kembali setelah sekian lama tidak menyusui. Namun berkali-kali gagal. Aku terus berusaha memompa asi kemudian memberikan asi lewat botol dot. Tapi karena suatu hal yang membuat jadwal memompa berantakan, asiku kembali merosot drastis dan membutuhkan waktu lama untuk memperbanyak asi. Namun aku tak boleh patah arang. Aku harus terus berjuang memperbanyak asi agar Fariz tetap bisa mendapatkan asi.

Aku menyadari, semua Ibu itu hebat dengan cerita, keunikan, dan perjuangannya masing-masing. Semangat ibu-ibu, kalian luar biasa!  

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini