Pernahkah kamu berpikir setelah statusmu berubah dari anak menjadi Ibu? mungkin pernah terlintas, namun mungkin belum dipikirkan secara mendetail. Perubahan status menjadi IBU adalah sesuatu yang ajaib dan luar biasa. Mengapa demikian? Keajaiban dimulai  saat kehidupan baru ada dalam rahim kita. Mendengar degup jantungnya, merasakan tendangan kecilnya, dan merasakan ada yang menemani kita setiap saat adalah hal-hal yang  membuat kita luar biasa bahagia.Â
Itulah keajaiban menjadi seorang ibu, merasakan cinta yang begitu mendalam kepada seseorang yang bahkan belum kita temui. Rela melakukan apa saja demi anak yang dicintai. Bahkan urusan untuk dirinya sendiri menjadi urutan yang ke sekian yang tak berarti. Dalam pikiran dan benaknya hanya ada anak, anak dan anak.
Sangat indah bukan, status IBU memberikan kebahagiaan yang tiada terkira. Namun dibalik itu semua apakah kalian pernah membayangkan, bahwa hal-hal indah itu tidak mudah untuk dijalani? Pengorbanan besar pun perlu dilakukan. Disinilah titik balik diriku. Ketika statusku dari seorang anak berubah menjadi IBU.
Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Seharusnya aku bukanlah anak yang manja. Kasih sayang tunggal dari ayah dan over protektif yang berlebihanlah yang menjadikanku demikian. Aku menjalani hari-hari dengan ayah penuh bahagia, apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginanku ayah selalu berusaha memenuhinya.
Inilah cikal-bakalku menjadi gadis manja. Kemana-mana suka mengikuti ayahnya. Bahkan saat umurku sudah 21 tahun aku masih bisa menangis tantrum seperti anak kecil yang membuatku lupa segalanya dan bahkan tidak malu ketika ada orang lain melihatnya. Perasaan malu dan sedikit menyesal baru muncul ketika aku mulai sadar. Duluku mengira sikap ini adalah wajar dan bakalan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu atau mungkin akan hilang ketika aku menikah nanti.
Lain harapan, lain pula kenyataan, bukannya justru berkurang sifat manja dan tantrum ku malah semakin parah ketika sudah menikah. Aku merasa kasih sayang yang diberikan suamiku tak sebaik dengan kasih sayang yang diberikan ayahku. Setiap diskusi berakhir buntu dan ketika kemauanku tidak bisa dituruti aku menjadi kesal, berteriak dan menangis, persis seperti anak 2 tahun yang merajuk minta mainan pada ibunya. Membayangkannya saat aku menulis ini membuatku tertawa geli. Kok bisa ya aku sebegitunya, jangan sampai deh terulang kembali.
Aku mulai stres dengan sifatku sendiri dan membuat orang lain di sekitarku menjadi tidak nyaman. Aku bingung dan ngga nyaman juga, tapi aku belum bisa berubah. Berbagai cara telah kucoba, namun belum ada yang berhasil, sifat tantrumku hanya mereda beberapa hari saja.
Sifatku mulai sedikit berubah ketika aku hamil anak pertama. Aku mulai mencoba sabar dan sabar. Kali ini berlangsung lebih lama, aku sudah mulai bisa mengontrol emosiku. Sampai akhirnya dalam minggu ke 7 kehamilan, aku mulai lagi seperti sebelumnya. Kesal dengan suami karena masalah sepele yang membuatku menangis dan teriak-teriak lagi.
Takdir pun belum mendukungku, akhirnya aku keguguran di minggu ke delapan. Disinilah aku merasakan kehilangan yang amat sangat. Seperti kehilangan Sebagian dari tubuhku. Mungkin Allah menitipkan kehamilan padaku agar aku belajar bahwa sifatku selama ini salah dan aku harus berubah.
Selama menunggu proses kehamilan berikutnya aku sering bermain ke rumah tanteku untuk mengasuh keponakanku yang masih balita dan saat ia tantrum dengan ibunya karena meminta sesuatu dan melihat ibunya memarahinya. Disitu aku mulai tersadar bahwa menjadi Ibu bukanlah hal mudah. Bukan sekedar untuk lucu-lucu. Posting foto baby dangan caption yang menarik atau sekedar dibilang anak nya lucu ya, gemesin banget deh. Menjadi ibu merupakan tanggung jawab yang besar dan harus memiliki kematangan emosi yang baik agar bisa mendidik anak dengan Spiritual Quotient dan Emotional Quotient baik.
Kiniku telah bertekad untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa dan pengontrolan emosi yang lebih baik. Aku tidak mau anakku mencontoh sikap burukku ini kelak. Alhamdulillah saat ku hamil anak kedua semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah bisa mengontrol emosi dan mengatasi masalah secara dewasa. Terima kasih anakku, kehadiranmu membawa perubahan besar untuk hidupku. I Love You, Son.
#KompetisiYoungMom
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”