#KompetisiYoungMom-Tentang Rasa Sepi dan Perjalanan Menemukan Teman Seangkatan sebagai Ibu

Pengalaman Saya sebagai Ibu Milenial di Era Digital yang Mencoba Bersosialisasi di Masa Pandemi

Kadang perjalanan menjadi ibu baru bisa terasa sangat sepi, terutama bagi saya yang pada sebagian besar waktu hanya berdua dengan bayi di rumah sejak saya resign menjelang melahirkan. Selucu apapun tingkah anak saya, kadang rasa sepi itu tetap ada. Karena sebagai manusia dewasa yang tadinya aktif berdiskusi dengan manusia dewasa lain, kini saya hanya bisa berkomunikasi secara terbatas dengan bayi sambil menanti suami.

Keluarga kecil saya tinggal terpisah dari keluarga besar. Pilihan untuk tinggal terpisah ini walaupun kadang terasa sepi dan melelahkan, memberikan otonomi bagi saya untuk merdeka mengatur rumah tangga dan mengasuh anak saya. Karena bagaimanapun juga, kita pasti punya perbedaan cara dengan orang tua, mertua, ipar, serta saudara lainnya, dan perbedaan itu rentan menimbulkan gesekan.

Mungkin juga perasaan sepi ini muncul karena belum tentu ada teman terdekat yang juga hamil dan menjadi ibu di saat yang berdekatan. Tidak seperti waktu kita di sekolah, sebagai ibu kita tidak punya teman angkatan yang terberi begitu kita berstatus ibu. Hampir sepanjang hidup, kita terbiasa untuk punya teman seangkatan di sekolah, teman kuliah, juga teman kerja yang melalui berbagai hal bersama-sama dengan kita. Tapi biasanya begitu lepas SMA atau menjelang usia 20-an, perjalanan hidup kita dan teman-teman tidak lagi sama. Ada yang kuliah dulu, ada bekerja dulu, ada pula yang menikah dan punya anak duluan. Begitulah, karena hidup bukan perlombaan tentang siapa yang duluan atau belakangan, karena jodoh dan rezeki sudah diatur-Nya.

Saya termasuk yang menikah agak belakangan, di akhir usia 20-an, 27 tahun hampir 28 lebih tepatnya. Sebagian sahabat saya ada yang sudah duluan menikah dan punya anak, tapi sebagian lagi ada juga yang belum, bahkan nampak hilal jodohnya saja belum. Perbedaan ini membuat kami tidak lagi bisa terus bersama kemana-mana seperti dulu. Lokasi rumah kami yang dulu berdekatan, jadi terpencar karena sebagian dari kami pindah rumah setelah menikah. Kami jadi agak sulit untuk menyatukan jadwal untuk bertemu dan untuk berbincang-bincang pun topiknya belum tentu bisa sama lagi.

Teman-teman yang sudah duluan punya anak sangat membantu saya soal cara merawat bayi. Tapi kadang ada yang mereka juga lupa, karena jarak umur anak mereka yang sudah agak jauh dengan anak saya. Kebetulan saya juga punya beberapa sahabat yang hamil dan melahirkan dengan jarak yang cukup dekat dengan saya. Tapi, lagi-lagi lokasi rumah yang cukup berjarak, ditambah pandemi yang mempersulit mobilisasi, membuat kami sulit berkumpul lagi. Play date juga tidak terlalu membantu untuk melepas rindu dan berbagi ilmu, karena kami jadi lebih fokus mengejar anak kesana-kemari.

Untuk membunuh rasa sepi dan mencari jawaban atas kebingungan-kebingungan saya sebagai ibu baru, saya pun mulai mencari informasi, baik dari buku maupun dari internet. Beruntungnya jadi ibu milenial yang punya akses terhadap internet dan smartphone, saya bisa belajar banyak dari momfluencers dan akun-akun seputar parenting di Instagram. Sebagian dari akun-akun Instagram inilah yang kemudian membawa saya ke berbagai grup WhatsApp ibu-ibu, termasuk Hipwee Young Mom. Saya menyadari bahwa mereka yang ada di grup-grup WhatsApp inilah teman seangkatan saya sebagai ibu, atau istilahnya momfriends. Dengan menyimak cerita dan ikut berbagi di grup WhatsApp membuat saya tidak lagi merasa sendiri menghadapi proses ini.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini