Tatyana Hadi

Kota yang terkenal karena kotak telefon merah dan juga Big Ben, kota tersebut adalah London. London adalah salah satu kota di Eropa yang mempunyai banyak sejarah. Jika ditanya, orang Inggris memang beda dengan bule lainnya. Orang Inggris mempunyai gaya berbicara yang berbeda seperti Orang Eropa lainnya. Menurut saya, gaya berbicara orang Inggris sangat classy.

Pada Desember tahun lalu, saya berkesempatan untuk pergi ke ibu kota Inggris. Sebelum bersenang-senang mengeksplor London, diharuskan untuk naik pesawat dan menghabiskan 13 jam bersama awan-awan. Sesungguhnya, saya gemar pergi dan menjelajahi negara baru, namun, saya sangat tidak suka menghabiskan waktu 13 jam di pesawat. Di pesawat, mau tidur, nggak bisa, mau lari-lari, juga ngak bisa. Pilihan yang saya punya hanya menikmati in-flight entertainment yang disediakan oleh maskapai penerbangan tersebut.

Advertisement

Sesampainya di London, jet lag pun menghantam saya. Di London waktu sudah menunjukan pukul 6 sore dan saya sudah tidak tahan untuk tidur, karena perbedaan waktu Jakarta dan London adalah sekitar 6 jam, dan di Jakarta sudah jam 12 malam. Saya butuh 2 hari untuk membiasakan badan saya pada time zone London.


Salah satu tempat yang turis luar ingin kunjungi di London adalah Piccadilly Circus.


Tentu, saya mengunjungi Piccadilly Circus. Yang pertama saya lihat adalah sebuah layar LCD yang sangat besar. Layar LCD tersebut menutupi sebagian besar dari gedung. Layar LCD tersebut menampilkan iklan-iklan. Iklan yang ditampilkan adalah dalam bentuk video dan sering kali berubah warna yang membuat tempat ini unik. Lampu LCD dari Piccadilly Circus lebih terang dari lampu jalan pada malam hari.

Advertisement

Dahulu, Piccadilly Circus hanyalah sebuah penghubung diantara dua jalan yaitu Regent Street dan Piccadilly. Piccadilly Circus dibuat pada tahun 1819 oleh John Nash. LCD yang sekarang ada di Piccadilly Circus dulunya hanya sebuah gedung berwarna coklat ke abu-abuan. Nama dari persimpangan ini Piccadilly Circus karena kata “Circus” dalam bahasa Latin berarti circle atau lingkaran. Piccadilly Circus adalah sebuah persimpangan yang mempunyai lingkaran terbuka yang lumayan besar.

Di tengah open space Piccadilly Circus terdapat sebuah monumen air mancur kecil. Monumen tersebut adalah Shaftesbury Memorial Fountain. Monumen ini bertujuan untuk mengingat jasa Lord Shaftesbury yaitu seorang politisi dan dermawan. Bentuk dari monumen tersebut adalah salah satu dari dewa Yunani, yaitu Eros.


Selain menjadi penghubung, Piccadilly Circus juga adalah salah satu central location di London. Karena lokasinya yang di West End, Piccadilly Circus jadi salah satu pusat perbelanjaan di London.


Salah satu tempat yang mempunyai sejarahnya sendiri adalah Harrods. Harrods adalah sebuah toko perbelanjaan di London yang menjual barang-barang mewah. Kata orang-orang jika ke London tidak ke Harrods, mereka tidak ke London sama sekali. Harrods terletak di Brompton Road. Untuk menuju Harrods, bisa mengunakan transportasi umum yang disediakan. Saya ke Harrods menggunakan London Underground, yaitu semacam MRT. Jika naik London Underground, berhenti di stasiun Knightsbridge dan jalan sekitar 2 meter dan gedung megah tersebut sudah keliahatan.

Harrods ditemukan pada tahun 1834, yang membuat umurnya sekitar 184 tahun. Perusahaan ini tadinya dimiliki oleh Mohammed Al Fayed, lalu, Al Fayed menjual perusahaanya sebesar £1.5 miliyar atau sekitar 30 trilliun kepada Qatar Invesment Authority. Pada saat Perang Dunia II, Harrods tidak menjual barang-barang mewah tersebut, namun Harrods menjual seragam untuk perang dan parasut.

London benar-benar adalah sebuah kota yang mempunyai sejarah sejauh mata memandang. Sampai tempat perbelanjaan pun mempunyai sejarahnya tersendiri. Memang kami harus mencintai negara sendiri dan coba mengeksplor negara sendiri terlebih dahulu. Namun, tidak ada salahnya kan jika ingin melepaskan diri dari perundang-undangan Indonesia untuk sementara?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya