Bertemu denganmu lagi. Pagi itu, pagi di mana Aku harus bersiap berjuang untuk meraih ilmu. Ya, pertama kali bertemu denganmu. Saat di mana kita berbuka bersama setelah lama kita tak jumpa. Enam Windu sudah, kita tak bertemu. Membuatmu berprasangka bahwa aku dekat dengan sahabatmu. Ah, itu hanyahal biasa. I'm okay, just friend with your friend.

Tak sampai itu saja. Aku dan kamu saling bersemangat dalam meraih impian dan cita kita. Sering bersua, belajar bersama bahkan bermain bersama dengana kawan-kawan kita. Rasaku pun timbul, entah kekagumanku saja atau yang lain. Ku harap hanya kagum, tidak lebih. Oh tidak, tidak, tidak… Seiring berjalanya waktu rasa ini makin menggebu. Apakahkah aku harus pergi meninggalkan rasa dan kenangan itu?

Advertisement

Apakah kamu juga demikian? Engkau juga mempunyai rasa yang sama? Aku harap iya, atau aku yang terlalu berharap. Apa aku yang terlalu menyalahartikan perhatianmu? Ku berfikir sejenak, apakah pertaianmu terhadapku engkau lakukan kepada yang lain? Aku harap tidak… iya aku harap tidak.

Beberapa saat kemudian. Ku jarang bertemu denganmu. Ku jarang bersua dan berimaji bersamamu. Namun sore itu tiba, sore di mana aku mengecewakanmu dengan ketidak hadiranku. Kau seoalah betanya kepadaku, "Mengapa engkau tak datang?" Aku hanya diam dan merenenung . Maafkalanlah aku telah mengecewakanmu…

Dunia seketika hancur dan seoalah tenggelam dalam luka dalam, ketika akau mengecewakan dan terpuruknya cita-citaku. Namund dengan semangatku ku tetap melangkah untuk menghadapai cicta-citaku sepersepuluh dasawarsa.

Advertisement

Ku pergi tinggalkan keterpurukanku. Bukit sejuk nan indah. Bergelayut indahnya senyuman mentari menyambuat hijaunya daun teh di Kota ini. Dimana aku bersinggah menghilangkah gundah dalam jiwa sukmaku. Ku pamitkan kepadamu dan kau seakan berharap aku untuk tak pergi. Oh tidak, ku tak bisa hadir lagi bersua denganmu. Mungkin kau kecewa lagi. Iya kamu kecewa. Oh semakin memuncak kecewamu ketika pesan malammu kujawab pagi.

Maafkan aku mengecewakanmu lagi dan lagi. Dan nada bicaramu mulai berubah,mungkinkah karena aku mengecewakanmu lagi dan lagi? Satu hal mulai kusadari,kiata jarang berkomunikasi. Akhirnya semua terhenti. Kabarku pum tak pasti.

Aku pulang namun kau seolah menghilang. Oh ,aku pulang. Pulang membawa berjuta harapan dan impian untuk kembali membina tali cinta diantara kita. Namun mengapa kau menghilang. Tali kasih yang ku harap kurajut kembali seolah pudar terurai dan menghilang.

Dan benar saja, kau perlahan mulai menghilang. Dan aku tak tahu apa yang terjadi anatara aku dan kau. Aaku pun tak tahu bagaimana mencarimu.Apakah sikapmu sama terhadap orang lain? Itu hanya harapanku. Aku t'lah berharap lebih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya