Di ufuk timur, mentari perlahan mulai bersinar. Di sanalah cerita tentang kita mulai kususun. Cerita tentang kehidupan, cerita yang menggambarkan pertemuan dan ketetapan Tuhan, yang pada akhirnya orang akan berata "hanya tinggal kenangan".

Hidup di zaman modern, bukan berarti kita bisa menghilangkan tradisi lama. Karena dengan tradisi itu setidaknya akan jadi penuntun kita untuk sigap menyikapi semua cerita yang akan terulang kembali. Tradisi anak gadis harus dipersunting seorang pria karena telah memasuki usianya, menjadi saksi dari akhir semua cerita kita.

Advertisement

Ucapan selamat yang tersusun rapi pada hari itu, masih indah di pandang mata. Namamu dan namanya yang baru disahkan menurut syari'at, masih layak untuk didengar dari telingaku yang setiap hari selalu mendengarkan suaramu, dulu. Namamu kini abadi bersama namanya, yang dibingkai dengan rangkaian bunga kebahagiaan.

Sudah tiga hari rangkaian bunga itu masih tersusun rapi, sudah tiga hari pula hati kita bersepakat untuk tidak bersama. Meskipun hati ini enggan untuk melepaskan kesetiaan yang telah lama bertahta di dalamnya, namun dengan keadaan ini pula yang membuat hatiku teguh untuk mengihklaskan kepergian hatimu bersamanya.

Bulan lalu, kita masih bersua. Di bulan itu pula kau mempertanyakan kesiapanku, kau katakan "keluarga sudah tak sabar untuk menunggu", lalu kau bertanya: "ingin menemaniku saat ini, atau tidak selamanya?" Tak ada Opsi jawaban yang dapat menunda, hanya kata IYA atau TIDAK SAMA SEKALI. Sementara aku lebih memilih untuk diam, karena aku tak ingin membuat hati kita terluka.

Advertisement

Apakah kau tahu, di saat tidak ada jawaban yang bisa aku berikan, aku hanya berharap Allah yang memiberikan kekuatan untuk menentukan pilihan yang telah kau tanyakan. Di pertiga malam, kedua tanganku terangkat untuk berdoa bagi kebaikanmu serta menyerahkan rasa yang ada di hati ini pada-Nya. Dengan secercah harapan, agar Tuhan masih mau untuk meneguhkan rasa cinta diantara kita yang ada di dalamnya .

Waktu juga yang menjawab dari sebuah penantian panjang. Limit jawaban sudah ditunggu oleh keluargamu. Kau datang kembali dengan sejuta harapan untuk mempertanyakan cintaku. Di saat itulah mulutku terkunci untuk mengatakan kepadamu tentang apa yang menjadi pilihan yang telah ditetapkan-Nya. Hanya air mata suci yang dapat kau lihat sebagai jawaban atas pertanyaanmu.

Sungguh, ini adalah pelajaran yang diberikan Tuhan yang maha dahsyat bagiku. Tuhan menginginkanku untuk belajar mengikhlaskan semua tentang perjalanan hati kita. Aku sadar, jika kuceritakan kondisiku yang sebenarnya saat itu, kau juga tak akan percaya. Bahkan akan membuat kita larut dalam hati yang kian terluka.

Aku hanya manusia biasa yang juga memiliki mimpi-mimpi, yang dibaluti oleh seribu keinginan. Termasuk juga mimpi untuk hidup bersamamu. Namun dalam suatu waktu, aku harus merelakan mimpi-mimpi itu untuk berlalu, di saat Aku dihadapkan pada suatu pilihan yang saling bertentangan.

Kini hanya untaian maaf yang dapat kuutarakan padamu.

Maafkan aku, yang telah memilih untuk tidak hadir dalam kehidupanmu lagi. Bahkan terkesan sangat egois, ketika aku tak datang dalam hari bahagiamu, walaupun hanya sekedar untuk mengucapkan kata selamat menjalankan kehidupan yang baru. Aku harus relakan hatimu untuk terus hidup bersama hatinya. Aku ikhlaskan cerita tentang kita sebagai bagian dari indahnya masa laluku dan masa lalumu.

Satu hal yang selalu kuingat, bahwa perjalanan sepasang hati tak bisa diterka di awal cerita. Ia akan melewati dimensi ruang dan waktu, yang terkadang berubah sesuai dengan ketetapan Tuhan. Bahkan kita yang di hari lalu saling mencinta, kini terpisah oleh dan karena KetetapanNya juga.

Kau yang hadir dalam Doaku, telah terpisah dengan ketetapan Tuhanku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya