Takdir yang Kau beri
menguji hatiku
terasa menyesakkan
kehilangan ini..

tangis yang Kau beri
membuka mataku
bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada SATU

karena kehilangan ini
ku mampu mendekat kepadaMu

(*penggalan lagu pengantar by Anindito Dwi S – Mencintai Kehilangan )

Dengan keberanian dan sorot mata tulusmu kau katakan bahwa kau mencintaiku. Kala itu tahukah kamu aku merasa menjadi wanita paling bahagia. Bisa memilikimu. Orang yang aku cintai. Mimpi tentangmu kian menjadi nyata. Tak ada yang lebih membahagiakan ketika cinta berbalas dengan cinta,pikirku. Kau telah memiliki tempat di hati ku jauh sebelum kau nyatakan perasaanmu sekarang ini. Namamu telah terpatri di dalamnya. Bersemai. Membahagiakanku…

Advertisement

Cinta menyelaraskan kisah asmara kami berdua. Saling menjalin kasih dan sayang. Saling melempar perhatian dan dukungan. Menjadi pendengar yang terbaik satu sama lain. Saling mengungkap rindu saat jarak mulai terasa sendu. Saling mengerti kebiasaan satu sama lain. Bahkan mulai menyukai segala hal tentang dirinya. Pertengkaran-pertengkaran kecil juga kadang menyertai namun berhasil terlerai. Saat itu mulai muncul keyakinan ,dia lah yang terbaik untuk diriku. Dia yang paling memahami aku dan dia adalah hati yang terpilih untukku. Hingga akhirnya..

Dia mulai abai padaku, Perhatian yang dulu selalu diberikannya,hampir tak pernah ada lagi. Ada apa sebenarnya,tanyaku. Naluri keperempuananku mulai berjalan. Aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Apa yang salah denganku. Apa kurangnya aku. Segala perhatian telah aku berikan padanya, Dan ternyata…

Dia sudah jenuh padaku, Dia bosan, Sudah hambar rasanya, Mulailah dia memberikan "salam perpisahannya" untukku, Alasannya karena dia ingin sendiri, dia ingin menata masa depannya. Glek..

Advertisement

Jadi selama ini aku hanya mengganggu kehidupannya. Aku menjadi penghalang bagi dirinya untuk meraih mimpi-mimpinya. Aku tak bisa berguna bahkan sedikitpun untuk dirinya. Aku bodoh. Menyesalkah dia telah mengenal ku. Menyesalkah dia telah mencintai orang bodoh sepertiku.

Rutukan demi rutukan terus kolantarkan untuk diriku sendiri. Aku berusaha mempertahankan, namun dia tetap kekeuh pada keputusannya. Aku menyerah. Perasaan memang tak bisa dipaksakan. Seribu kali pun aku memohon tetap tak akan bisa. Sia-sia saja menjalani hubungan jika sudah tak ada cinta didalamnya.

Belum lama kita berpisah,ku lihat dia sudah berhasil melupakanku. Dia telah bersama dengan perempuan lain. Itukah alasan sebenarnya dia meninggalkanku ? Itukah yang disebutnya "mempersiapkan masa depan?" Bahkan yang lebih menyakitkan,di akhir perpisahan pernah dia mengatakan.

Biarkan saja jika saat ini aku bersama cinta yang lain. Jika memang aku ditakdirkan untukmu, aku pasti akan kembali lagi padamu. Aku pun juga merasa cuma dirimu yang paling mengerti aku. kamu orang paling baik yang pernah aku miliki.

Kalimat itu yang selalu terngiang di pikiranku dan membuatku bingung. Hatiku sudah dipermainkannya. Rapuh. Beku. Mati rasa.

Tak ingin lagi rasanya aku mengenalmu. Perlahan aku menjauhimu. Ku hapus semua kontak mu. Aku benar-benar sudah kecewa padamu. Aku sakit hati karenamu. Kamu bisa bosan denganku,aku pun juga bisa membencimu. Bukan salahku jika aku membenci orang jahat sepertimu. Dan bukan salahku jika aku dendam padamu. Semua ini karena luka yang sudah kau torehkan.

Sembari menata kembali serpihan hati yang lantak,sembari aku perbaiki diri. Sudah lama rasanya aku tidak menangis dalam sujudku. Sudah lama rasanya aku tak bermunajat, mengadu pada Tuhan-ku. Perlahan mulai kembali kutata hidupku. Aku ingin menjadi lebih baik.

Yaa Allah ampuni aku yang telah lalai kepada Mu. Ampuni aku yang terlalu terbawa perasaan karena cinta kepada makhlukMu. Ampuni aku yang telah mengagung-agungkan cinta kepadanya dan bukan kepadaMu. Ampuni aku yang belum bisa taat kepadamu Yaa Allah.

Awalnya,aku mendekatkan diri pada Allah agar aku tak ingat lagi padanya. Setiap hari aku berdoa agar tak diingatkan lagi padanya. Aku minta dijauhkan dari segala pikiran tentang nya saking tak kuatnya lagi aku menahan kepedihan. Namun, Allah menjawab doaku dengan yang lebih baik. Aku mulai tersadar bahwa aku telah bertindak bodoh. Tak seharusnya aku bersedih hanya karena putus cinta, Bukan cinta seperti yang sudah kujalani sebelumnya yang menjadi perintah Allah. Bukan cinta yang hanya karena nafsu.

Allah sudah menyiapkan hati yang Dia pilih untuk masing-masing diri kita dan akan dipertemukan di waktu yang tepat. Itu janji Allah. Dan janji Allah itu nyata, Tak mungkin Allah mendatangkan jodoh untuk kita ketika kita belum siap. Belum siap dalam arti kita belum bisa memaknai cinta yang sebenarnya karena cinta dibangun diatas janji suci penikahan.

Itulah yang setidaknya menguatkan kembali diriku. Allah akan menjagaku selama aku juga terus menjaga ibadahku kepada-Nya. Tak ada cinta sebesar cinta Allah kepada hamba-Nya. Itulah yang aku rasakan sekarang. Sebesar apapun dosa kita,tetap Allah ampuni. Allah tak pernah lupa memberi kita nikmat,tak peduli sebesar apa dosa yang kita perbuat. Coba bayangkan begitu baiknya Allah sama kita. Kenapa kita tidak bisa mencintai Allah yang sudah menjaga kita dan memberi kita nikmat?

Allah memberiku cinta sebagai ujian. Akhirnya aku kecewa dan terluka dibuatnya. Tapi Allah kembali datang kepadaku,Allah menguatkan ku,Allah menyadarkanku bahwa cinta tak sesempit itu maknanya, Bagilah kasih dan sayangmu kepada seluruh makhluk di muka bumi dengan cara ynag benar, jangan saling menyakiti. Sungguh besar Kuasa Allah. Allah melapangkan hatiku. Allah yang Maha membolak-balikkan hati. Tak ada lagi rasa dendam,tak ada lagi rasa sakit hati seperti dulu. Yang ada hanya rasa damai.

Damai karena memaafkan…

"Dan sebagian dari dari tanda-tanda kebesaran Nya adalah Dia menciptakan pasangan–pasangan bagi kalian dari jenis kalian, agar kalian merasa tenang pada pasangan kalian dan Dia menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang dan cinta. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda bagi orang-orang yang berfikir." (QS. Ar-Ruum: 21)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya