"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim."

Pa,

Advertisement

Senja tadi, kupikir kau datang menemuiku. Raut wajah dari kejauhan yang ku pikir adalah dirimu. Lambat laun semakin dekat, rupanya raut wajah itu berasal dari kakak tertuamu.

Ya, kau memiliki raut wajah yang sama dengannya, Pa. Aku terhibur sebentar karenanya. Setidaknya aku sedikit bahagia bisa berharap jumpa meski hanya sekilas dari raut wajah kakak tertuamu yang tampak sama.

Pa,

Advertisement

Ramadhan akan sebentar lagi hadir, pun lebaran. Menandakan kepulanganku setiap tahun ke rumah. Pun kepergianmu yang hampir setahun sudah.

Rupanya waktu tidak pernah kompromi pada satu hal yaitu perihal rindu. Acapkali kutemui perih hingga ngilu pada ulu hatiku yang tak mampu aku lisankan. Acapkali aku menjadi ragu, bahkan kata-kataku gagu. Apakah aku boleh rindu?

Pa,

Maafkan anakmu yang dengan lancang mengetuk-ngetuk ruang dan waktumu lagi. Bukankah rindu selalu membawamu ke arah yang paling ingin kau jumpai? Tahukah engkau, setiap kali kulisankan rinduku perihalmu yang kudapati adalah penolakan-penolakan untuk tidak rindu.

Lalu, apa yang salah dari rindu? Bukankah ia kerap kali tak meminta izin untuk mampir? Bukankah ia juga kerap tak meminta penuntasan atas dukanya? Kenapa mereka mengira bahwa aku sedang menangisi hal-hal yang hanya membuatmu semakin sedih di sana.

Bukankah rindu tidak selalu menghadirkan Isak tangis saja. Bukankah dalam rindu selalu terselip doa-doa? Dunia tetap sama Pa.

Kegiatanku pun sama, yang berbeda hanyalah handphone-ku tak menghadirkan suara yang paling ingin kuperdengarkan. Sebuah suara yang mengetahui ketika aku rindu. Sebuah suara yang menghadirkan kasih tak terkira tanpa aku pinta sekalipun.


Ya. Dunia memang masih sama, Pa. Hanya hatiku saja yang tiada.


Tahukah engkau, Pa. Kehilangan paling besar bukan karena langit malam yang pekat tanpa bintang-bintang. Kehilangan paling besar juga bukan karena patah hatiku ketika mengenal cinta pada manusia.

Kehilangan paling besar adalah ketika tak lagi ku temukan arti dari kasih sayang sesungguhnya yang kau berikan pada kami dari kecil hingga waktu menjemputmu pulang. Pulang ke rumah yang sesungguhnya.

Tahukah kau, Pa. Ketika usiaku yang menurut orang-orang telah mampu menggenap. Ketika aku bermimpi suatu hari menghadirkan seseorang yang akan memintaku padamu.

Namun rupanya waktu tak mampu bersabar, Pa. Atau mungkin takdirku yang mengharuskanku untuk lebih banyak bersabar. Waktu tak mengijinkamu untuk terus bertahan dan menemani anak perempuanmu menemukan pangerannya. Memberikan tanganku pada lelaki yang kau percayai.


Ya.


Hatiku lebih hancur, ketika melihatmu terbaring lemah diranjang itu. Menahan rasa sakit yang tak mampu kau suarakan. Permintaanku untuk mendapatkan perawatan lebih baik pun kau tolak. Aku tahu, kau hanya tak ingin merepotkanku.

Segala hal akan kukorbankan waktu itu, pa. Bahkan telah ku pinta nyawaku sebagai penggantimu. Asalkan kau kembali seperti dulu. Penuh tawa dan canda. Namun apa daya, Pa. Daun kehidupanmu rupanya tidak setabah hatiku. Takdir ku rupanya tak menginginkanku untuk menggantikan sakitmu.

Satu hari yang merubah hidupku selamanya. Ketika hatiku hancur bersama kepergiaanmu selamanya.

Pa,

Meski aku berharap bisa menemukanmu dalam seluruh bunga-bunga tidurku. Aku sengaja tak melanjutkan harapan itu, sebab aku tak ingin menyita waktumu. Membuatmu kerepotan mengurus suasana hatiku yang kadang tak terencana.

Pa,

Aku berdoa untuk semua kebahagiaanmu disana. Selalu dalam hangat dekapan kasih sayang-Nya. Tahukah engkau jika waktu sungguh berlalu dengan teramat cepat. Kini, Aku bukan lagi putri kecil dengan langkah-langkah kecilnya. Waktu telah membuatku tumbuh bersama dengan ribuan kenangan dan ratusan rindu untukmu. Waktu pun juga telah membawaku berlari lebih kencang. Menggapai apa-apa yang paling kuinginkan.

Kehidupan mengajarkanku untuk terus menggapai dan mempersembahkan hal-hal baik untuk sesama. Sebab, kebaikan akan melahirkan kebaikan yang sama untukku di dunia dan untukmu di surga.


Terima kasih telah mencintaiku dengan cinta yang tak pernah bertanya balasan apa yang aku terima karenanya. Dan kasih yang tak pernah berharap adanya pamrih. Terima kasih telah mengajarkanku perihal cinta yang berharga seperti yang kau beri. Tanpa syarat hanya memberi.


Terimakasih untuk setiap kenangan manis bersama denganmu. Atas Masa kecil yang kulalui dengan hati yang penuh suka cita. Atas Masa remaja yang kulalui dengan hati yang penuh cinta. Serta atas Masa-masa indah yang mematri dalam bingkai kenanganku perihalmu.

Seperti yang selalu kukatakan ketika kita masih beratapkan langit yang sama. Anak perempuanmu akan mewujudkan keinginanmu yang tertunda. Sebuah rumah yang semula akan kita tempati bersama. Kini giliranku yang membangun Rumah untukmu dan mama. Berkat izin Allah dan doa-doa pengharapan kita, Rumah itu telah berdiri kokoh di sebelah rumah barumu, Pa.

Anak perempuan memang tak pernah menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya, Pa. Bahkan hingga saat ini, hancurnya hatiku tetap harus menghadirkan senyuman baik-baik saja.

Salam rindu, 

dari anakmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya