Kupu-kupu versus Kura-kura: Make Your Choice!

Berikut beberapa pertimbangan mahasiswa untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura

Kalian pernah mendengar istilah kupu-kupu? Atau mungkin istilah Kura-kura?

Nah, Hal yang akan Aku bahas kali ini bukan hewan ya, melainkan istilah. Istilah ini pasti tidak asing lagi di telinga mahasiswa. 

Yaps, kupu-kupu adalah singkatan dari kuliah pulang kuliah pulang sedangkan kura-kura adalah singkatan dari kuliah rapat kuliah rapat.

Mungkin dari kalian ada yang semasa SMA aktif dalam organisasi sekolah antara lain OSIS, Pramuka, dan PMR. Nah, siswa-siswa seperti inilah sudah muncul bibit-bibit menjadi mahasiswa kura-kura sejak dini.

Dulu aku termasuk aktif diorganisasi, baik di sekolah dan di luar sekolah. Banyak hal yang Aku dapatkan dari berorganisasi. 

Dari banyak hal itu, hal yang paling berkesan adalah punya banyak pengalaman dan bertemu banyak orang baru yang bahkan sebelumnya belum pernah kutemui yang kemudian menjadi teman dan akrab.

Disamping banyaknya benefits yang aku dapatkan dalam berorganisasi ada hal-hal yang perlu aku korbankan juga, salah satunya adalah waktu, baik waktu untuk istirahat, bermain, hobby, dan juga waktu bersama keluarga.

Ibuku sempat mengeluhkan mengenai waktuku untuk keluarga. Dimana weekend yang seharusnya libur dan menjadi waktu bersama keluarga, terkadang menjadi waktu untuk menghadiri suatu acara organisasi. 

Masalah waktu inilah yang membuat mahasiswa baru sepertiku bingung, memilih mengukuti organisasi dan menjadi mahasiswa kura-kura atau menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Relasi? Pengalaman? Gabut di kosan? Ingin punya banyak temen?

Mungkin itu beberapa alasan yang kutemui dari kakak tingkat yang memilih menjadi mahasiswa kura-kura.

Mahasiswa kura-kura pastinya harus memiliki pembagian waktu yang baik antara kesibukan dalam perkuliahan dan kesibukan kegiatan organisasi agar keduanya berjalan dengan baik.

Berdasarkan observasiku melihat kakak-kakak tingkat, menjadi mahasiswa kura-kura tidaklah mudah, karena pasti ada-ada saja acara di hari sabtu dan minggu.

Harus menyiapkan acara, menyelesaikan tugas-tugas dari dosen, dan tak lupa juga tugas utama mahasiswa untuk kuliah. Belum lagi jika terjadi bentrokan antara jadwal kuliah dan organisasi.

Terkadang untuk mencegah terjadi bentrok yang sering, tak jarang rapat organisasi dilaksanakan pada malam hari atau hari weekend. Akibatnya, mahasiswa menjadi tidak mempunyai waktu untuk istirahat.

Namun, mahasiswa kura-kura dapat memperoleh pengalaman luar biasa dan belajar problem solving, kemampuan dalam memecahkan sebuah masalah dan mencari solusi dengan baik.

Menjadi mahasiswa kura-kura pastinya juga belajar berdiskusi. Di organisasi, mahasiswa akan belajar berdiskusi bisa saling mengungkapkan pendapat dan bisa menghargai pendapat satu sama lainnya.

Tidak hanya itu, mahasiswa kura-kura juga cenderung punya banyak relasi teman. Tidak heran, mahasiswa yang mengikuti organisasi pasti memiliki banyak teman dari berbagai jurusan.

Aktif berorganisasi memang bisa memperluas pergaulan, tetapi tidak menutup kemungkinan malah bisa bikin kita kurang pergaulan.

Karena sibuk dengan jadwal rapat, kita jadi enggak punya waktu buat kumpul bareng teman sekelas atau seangkatan.

Itulah hal yang aku amati dari kakak-kakak tingkat yang menjadi mahasiswa kura-kura. Banyak positifnya namun juga tidak sedikit weaknessnya.

Banyak hal yang aku pertimbangkan, mengingat masa SMA sangat berbeda dengan masa kuliah. Pada waktu SMA mungkin Kita diperhatikan guru, diingatkan apabila belum mengerjakan tugas bahkan ada yang menagih tugas. 

Namun, semasa kuliah yang tadinya sering diperhatikan jadi apa-apa sendiri. Dosen hanya menjalankan kewajibannya mengajar, terserah mahasiswa ingin masuk kelasnya atau tidak.

Memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu supaya lebih fokus ke kuliah dan pendidikan supaya cepat lulus bisa saja kupilih.

Aku bisa lebih fokus kuliah saja seperti mengerjakan tugas-tugas kuliah dan mengikuti jadwal kuliah dengan baik dan teratur.

Banyak waktu yang bisa aku habiskan diluar kampus, untuk explore diriku untuk kegiatan di luar kampus dan hobby. 

Namun, ada banyak stigma negatif tentang mahasiswa kupu-kupu misalnya ‘‘Jadi mahasiswa kok cuma berangkat pulang doang manfaatin dong dengan ikut organisasi biar bisa berkembang.’’

Nah, stigma ini bisa kita bantah dengan melakukan kegiatan produktif, misalkan dengan mengikuti pelatihan softskill atau hardskill yang kita punya. 

Bisa dengan cara kursus atau belajar sendiri dengan referensi media sosial mengingat pada masa ini perkembangan teknologi digital terus semakin canggih dan memudahkan penggunanya untuk mencari tau apa yang ingin kita dapatkan.

Pandangan diriku tentang mahasiswa kupu-kupu produktif terkadang dipatahkan dengan pandangan teman-temanku yang menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Mager? Introvert? Takut kecapean? Gaminat sama organisasi kampus? Anak laju? Atau pengen cepet-cepet pulang?

Mungkin itu alasan-alasan yang pernah terdengar olehku mengapa mereka menjadi mahasiswa kupu-kupu. 

Menjadi mahasiswa kupu-kupu tidak selalu buruk pastinya, mereka yang memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu mempunyai alasan yang tersendiri. 

 Namun, banyak hal yang perlu ditekankan, jangan sampai kalau kita menjadi mahasiswa kupu-kupu, kehidupan kita hanya seputar kampus dan rumah saja, namun untuk explore diri di luar kampus.

 Dari banyaknya pertimbangan tersebut, hanya kamu yang tau seberapa siap kamu menjadi mahasiswa kura-kura atau seberapa siap kamu menjadi mahasiswa kupu-kupu.

Pilihan kita sekarang menentukan kita dimasa depan, So make your choice!!

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang perempuan yang menyibukkan diri dengan kesibukan dan kegabutan