"Mencintaimu adalah keinginanku, memilikimu adalah dambaanku, meski jarak jadi pemisah, hati kita tidak akan bisa terpisah"

"Terkadang cinta terbentur oleh dinding perbedaan agama. Ironisnya, semua agama mengajarkan kasih dan cinta"

Advertisement

Jika sudah paham tentang 2 kutipan quotes diatas, pasti kalian sudah paham apa maksudku sekarang. Ya. Hubungan antara 2 manusia yang dipisahkan jarak dan dipisahkan rumah ibadah. Terkadang untuk urusan cinta, manusia bisa saja tidak berpikir panjang akan apa yang terjadi didepannya, termasuk urusan agama. Aku merupakan salah satu manusia yang beruntung bisa merasakan keduanya, pacaran beda negara dan pacaran beda agama. Susah? Pasti. Ragu? Pasti. Rindu? Pasti.

Dari awal aku mengenal dia, tidak terbesit sama sekali di pikiranku bahwa hubunganku akan berakhir seperti ini. Sebenarnya kita sudah seringkali membicarakan mengenai masalah perbedaan agama ini sebelum masuk ke jenjang pacaran, dan jawabannya selalu sama "Jalani saja dulu" tanpa menyadari bahwa masalah seperti ini bukan masalah mudah. Ibaratkan seperti anak kecil yang berlatih naik sepeda, lalu terjatuh dan lukanya dibiarkan begitu saja.

Bisa saja ada 2 kemungkinan, yang pertama lukanya sembuh dengan sendirinya, dan yang kedua, lukanya semakin hari bertambah parah. Di Indonesia sendiri, masalah agama merupakan salah satu isu sensitif. Salah bicara saja tentang agama, siap-siap saja kamu di cari dan mungkin saja bisa dilaporkan ke Polisi.

Advertisement

Aku sering berdialog dengan Tuhan akhir-akhir ini, tentang bagaimana langkah yang harus kujalani atau bahkan Tuhan bisa membantuku untuk menentukan beberapa pilihan yang sudah ditentukan oleh-Nya. Aku pernah berharap bahwa suatu saat jika kita memang digariskan oleh Tuhan untuk tetap bersama, aku bisa membangun sebuah istana, lengkap dengan keluarga kecil didalamnya.

Meskipun kita di hadang oleh cara kita berdialog dengan Tuhan, tapi percayalah, aku selalu meminta kepada Tuhan untuk menjagamu dimanapun kamu berada. Kita adalah dua anak muda yang dengan tak tahu dirinya memaksa untuk bersama dan menentang apa yang mereka bilang berbeda. Ditambah memang mungkin dirimu yang makin lama makin jengah dengan sifatku yang semakin hari tidak menunjukkan perubahan sama sekali, sehingga mungkin kamu berfikir memang sudah sepantasnya kamu mengakhiri semua ini.

Setidaknya untuk saat ini aku masih bisa berteman baik dan berbagi ceritaku sehari-hari denganmu. Jujur, terkadang di ujung putus asaku pada tanya yang tak ada habis-habisnya, aku mulai berani untuk memberontak. Akal sehatku serasa hilang, dan mempermasalahkan hal-hal yang tak seharusnya terjadi.

Ya Tuhan, dihadapanMu sekarang, ada dua orang yang sedang berjuang untuk hubungan mereka. Dua orang yang saling mencintai satu sama lain.

Aku tahu kita tidak bisa bersama untuk sementara waktu. Namun jika Kau berkehendak, tolong persatukan kami dan jadikan kami sebagai pasangan yang satu. Amin

Kita memang masih dalam status pacaran waktu itu, dan masih terlalu cepat untuk menyinggung tentang kelanjutan hubungan yang kita jalani saat itu. Disini hanya ada satu kepastian, "Salah satu harus mengalah". Kepastian yang terkadang membuat kita berharap agar kita bisa menjadi satu keyakinan. Ya, walaupun pada realitanya masalah iman seseorang tidak bisa sesimpel itu, meskipun sekarang aku mulai mencoba untuk belajar agama yang kamu anut.

Ya, menjalani hubungan beda keyakinan ini memang berat. Masalah yang kita hadapi memang tak banyak, hanya satu, namun rasanya tidak akan ada pernah ada habisnya. Kita sama-sama sadar bahwa ada permasalahan yang lebih besar, masalah yang bukan sekedar tentang cemburu atau yang lainnya. Kita selalu menunda untuk membicarakannya.

Terkadang aku ingin membicarakannya, namun aku terlalu takut. Aku belum siap jika aku harus melepaskanmu pada waktu itu (bahkan sekarang). Pelukan erat selalu aku berikan padamu seusai membahas masalah yang sedang kita alami ini meskipun kita terpisah jarak ribuan kilometer.

Pada akhirnya, semua orang pasti punya mimpi yang ingin dicapai. Begitupun aku dan kamu, bermimpi untuk bisa terus meneruskan hubungan sampai ke jenjang yang lebih serius dan menjadi pasangan yang satu. Satu atap dan satu agama, tidak terpisahkan oleh jarak dan rumah ibadah. Aku tahu mungkin rasanya terlihat seperti mimpi di siang bolong, tetapi aku tidak ingin memendam harapan ini begitu saja.

Aku percaya setiap doa dan usaha yang kita lakukan ini pasti akan dipertimbangkan oleh Sang Maha Kuasa. Sungguh, aku pun sudah berusaha meyakinkan orang orang bahwa kita bisa menjalani ini walau nanti akan berdoa dengan cara yang berbeda. Tuhan memang hanya satu bukan, namun kita saja yang memujiNya dengan cara yang berbeda.

Jujur, hingga detik ini, aku masih menyimpan api harapan padamu.

Tapi kini aku juga mengerti, bahwa persoalan di masa depan nanti, cinta tidak lagi hanya tentang aku dan kamu. Andaikan memang kita tidak bisa lagi bersama, satu hal yang harus kamu tahu, aku benar-benar cinta. Semua kenangan tentangmu akan selalu tersimpan rapi di kepala. Canda, tawa, dan semua yang pernah kita lalui akan menjadi sebuah kenangan manis. Dan jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, Tuhan pasti akan membuka jalan-Nya untuk aku kembali padamu.

Aku terus berdoa agar kami bisa bersatu dan membangun kembali hubunganku, meski aku tahu sangat kecil kemungkinannya. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, terus berusaha dan berdoa.

Aku yakin, Tuhan akan menjawab doa ku suatu saat nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya