Perjalanan hidup semenjak akil baligh sudah terlalui cukup panjang dan kita sudah mulai menapaki fase dewasa yang tentunya hidup ini sudah sepatutnya untuk diperhatikan dengan sangat serius. Kita sudah semestinya lebih ketat dalam membuat perhitungan terhadap hidup dan tiada lagi kelonggaran ataupun toleransi untuk hal-hal yang sejatinya hanya melenakan, kesenangan sesaat, dan tiada hal berharga yang bisa diambil. Telah tiba masanya kita hidup di dalam idealisme yang kokoh beserta prinsip-prinsip yang pada nantinya akan menjadi pondasi di dalam menjalani kehidupan yang diinginkan.

Namun, adakalanya ketika seseorang sudah mulai memiliki prinsip dan idealisme, ia cenderung lemah dan bahkan terkesan bermain-main dengan urusan hati dan perasaan. Akibatnya, ia yang seharusnya bernilai dengan apa yang ia miliki, maruahnya jatuh lantaran tidak bijaknya ia menata urusan yang sejatinya hanyalah perkara kecil jika dibandingkan dengan berbagai persoalan yang ia hadapi di dalam kehidupannya. Ibarat kata, seperti yang dikatakan oleh para pendahulu “ yang menjatuhkan itu bukan batu besar, namun batu sandungan yang kecil”. Lantaran karena mengedepankan persepsi atau mempertahakan sudut pandang yang sejatinya sudah sangat salah, orang rela mempertaruhkan nilai-nilai yang ada demi sebuah pemenuhan harapan dari sebuah janji, atau demi sebuah anggapan tentang bukti yang dianggap begitu nyata. Namun, pada akhirnya, hanya hidup tanpa nilai yang ia peroleh, dan kemudian ia pertahankan itu demi segala macam bentuk drama membosankan yang tidak begitu dihiraukan.

Advertisement

Lantas, bagaimanakah semestinya manusia berhadapan dengan cinta yang sesungguhnya? Apakah dengan mempertaruhkan harapan terhadap sebuah janji yang terkadang dipersepsikan sendiri? Atau demi sebuah bukti yang dianggap nyata, namun sejatinya hanyalah kesemuan yang membuaikan pikiran ? Tentu tidak, kawan! Cinta tidak berbicara tentang dua hal itu saja. Cinta memiliki makna yang cukup mendalam dan tidak bisa dipersepsikan dengan sesuka hati. Cinta memiliki Nilainya sendiri dan dengan nilai itulah, manusia bisa mencapai titik kehormatannya sebagai makhluk.

Namun, bisakah cinta itu dipersepsikan saja? Dalam artian, kita kembalikan saja semuanya kepada prinsip kesepakatan, suka sama suka, dan kenyamanan? Karena sungguh membicarakan tentang nilai dan kehormatan itu sangatlah sulit rasanya, karena cinta tidak bisa diatur dengan berbagi macam bentuk aturan dan norma, cinta itu alami, ia datang dan tumbuh begitu saja. Tidak peduli ia datang dari orang yang baik, buruk, atau dari sudah saling mencintai dengan orang lain. Cinta itu perkara alami, ia bebas nilai, dan tidaklah mungkin jika kita masukkan perkara nilai dan kehormatan padanya.

Mungkin, sebagian dari kita akan bertanya demikian. Bagaimana mungkin terhadap sesuatu yang sejatinya tumbuh tanpa keinginan, bisa diatur dengan sedemikian rupa dan tidak sepatutnya dibatasi dengan segala prinsip, nilai, atau idealisme. Karena cinta berangkat dari hal-hal yang sifatnya empiric ( bukti), dan sudah sepatutnya segala sikap dan penilaian berangkat itu semua? Persetan dengan nilai, dengan prinsip, jika cinta sudah datang dan menyelimuti hati, tidak ada satupun yang berhak membatasi!

Advertisement

Bisa saja kita mengutarakan pandangan yang demikian, namun jika kita kembalikan kepada hakikat dari cinta itu sendiri, yakni sebuah perkara yang merupakan bagian dari harmoni kehidupan yang mengkokohkan ikatan kemanusiaan dan menjaga kehormatan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan ditinggikan. Jika kita masih berpedoman pada bukti, sepatutnya kita juga harus melihat bukti nyata lainnya yang menegaskan bahwa banyak yang dibuat jatuh lantaran terlalu mempercayai bukti yang berangkat dari persepsi, atau yang berharap pada janji yang semu.

Nah, sudah jelaslah bagi kita bahwa ketika sudah menapaki usia dewasa ini, kita sepatutnya menyelaraskan segalanya dengan hal-hal yang lebih rasional dan realistis. Jika memang cinta yang kita miliki saat ini akan memberikan kekuatan dan kehormatan bagi kita, maka pertahankan dan perjuangkanlah. Namun, jika sebaliknya, cinta yang kita miliki hanya membuat kita menderita, terlihat mengenaskan karena harapan konyol yang kita miliki, atau karena memperatahankan persepsi terhadap bukti, lantas kemudian mengabaikan seseorang yang sejatinya bisa memberikan hal nyata, bernilai, dan mempertahankan kehormatan kita, maka lepaskanlah segera! Jika terasa sulit, dibuat mudah! Jika terlihat begitu menyakitkan, biarkan. Karena sakit yang dirasakan itu hanyalah sementara, ia ibarat orang berobat saat ingin melepaskan penyakitnya, terasa begitu sakit saat melepaskan, namun setelah itu terasa sehat dan menyenangkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya