Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Kau gadis kecilku yang kini beranjak dewasa, yang sudah berani menantang dunia. Aku merindukanmu.


Kau mungkin tak melihatku di sini, di sekitarmu. Mengamati setiap tingkah lakumu, setiap canda, tawa, luka dan lara. "Jangan menangis." Selalu kalimat itu yang berusaha kulontarkan setiap melihatmu tergugu di sunyi malam.

Advertisement

Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, tapi yakinlah bahwa kau tak pernah kehilanganku. Boleh kau menangis, tapi jangan di hadapanku. Karena kali ini aku tak akan pernah bisa menghapus air matamu. Boleh kau menangis, tapi jangan biarkan aku mendengar isakmu. Karena hatiku tersayat setiap mendengarnya.

"Kenapa harus kamu mas? Kenapa bukan aku atau yang lainnya?" pertanyaan itu yang selalu kau lontarkan setiap berada di kamarku. Bertanya pada dinding kamar seolah kau bisa merasakan kehadiranku.

Kenapa harus aku? Karena aku tak akan pernah sanggup bila kau yang harus mengalaminya. Aku tak akan pernah bisa setegar bumi yang diinjak ribuan kaki. Aku bukan kamu Kai, aku hanya langit yang belum mampu melukiskan warna selain kelabu.

Advertisement

***

Kaiya, adalah seorang perempuan yang berbagi rahim bunda bersamaku. Lahir dua menit setelahku menjadikan Kaiya sebagai adikku. Kami saudara kembar, tapi bukan berbeda bagaikan langit dan bumi. Maka dari itu orang tua kami memberi nama Kaiya kepada saudara perempuanku dan Indra kepadaku.

Aku pernah bertanya pada ayah kenapa namaku Indra dan bukannya Langit, karena adikku bernama Kaiya. "Karena kau selalu menangis histeris setiap hujan turun, tak peduli bila itu gerimis sekalipun. Dan Kaiya selalu tenang dan pasrah ketika mendengar pemberontakkanmu." Aku tersenyum mendengar jawaban Ayah. Dan itu benar, Kaiya tak akan pernah berbalik marah bila aku memarahinya.

Tahun berlalu dan mulailah kami tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Tak ada lagi canda tawa kami di rumah, hanya keheningan yang menemani setiap sudut ruang. Kami bahkan tak lagi saling bertegur sapa hingga akhirnya Ayah meminta kami untuk selalu menyisihkan waktu kosong setiap hari minggu di rumah.

Kembali merangkai kata keluarga dan memaknai arti kata keluarga. Maka jadilah kami kembali seperti keluarga seutuhnya. Dan hal itu mampu membangkitkan kadar protektifku pada Kaiya, dan kalian tahu apa yang Kaiya katakan?


"Mas Indra aku tau mana yang baik dan buruk buat hidupku. Mas gak perlu khawatir, I'll be fine. I promise." ucapnya sambil mengecup pipiku, kebiasaannya dari dulu ketika menenangkanku.


***

"Yah, minggu depan aku mau muncak sama yang lain." pamitku pada Ayah.

"Cuaca lagi gak bagus Le, tunda dulu sampai cuaca membaik. Ayah gak akan membatasi kegiatanmu, tapi pertimbangkan lagi keputusanmu."

Tapi Indra tetaplah petir di keluarga ini, maka aku tak akan mengindahkannya dan tetap berangkat bersama kawanku. Malam sebelum keberangkatanku Kaiya menemuiku di kamar, "Mas beneran bakal berangkat? Sekarang musim hujan, kenapa gak tunggu sampe musim kering datang? Kan sebentar lagi Mas."

"Nunggu musim kering gak bakal dapat momennya Kai, Mas bakal tetap pergi dan pasti kembali dalam keadaan baik-baik saja. Jangan khawatir Kai, seperti biasa." Ucapku sambil membelai puncak kepalanya dan mengecup keningnya lembut.

Momen yang kumaksud bukan ini, bukan mewarnai langit dengan warna kelabu dan membiarkan langit menumpahkan hujan. Bukan itu. Tapi kenyataannya yang kulakukan demikian. Petir tetaplah petir yang tak pernah muncul kala langit berwarna biru dan kuning, petir tetaplah petir yang setia berkawan dengan kelabu.


Dan akulah petir itu. Mencambuk hati orang-orang yang kusayangi, menumpahkan air di netra mereka.


Kaiya, bumi kami yang setia menerima tumpahan air dari langit. Setia berada di samping kedua orangtuaku yang tergugu mendengar kabar hilangnya si petir. Putra semata wayangnya hilang ditelan bumi. Aku hanya duduk dan menikmati malam, tapi bumi seakan tak ingin dipijaki olehku. Aku terjatuh dan berguling, bisa kurasakan bau anyir darah di kepalaku. Aku tersenyum, mungkin ini waktunya.

***

Setahun berlalu dan rumahku masih kelabu, Ayah masih saja duduk di kursi dimana dia memberi wejangan, Ibu masih setia menyiapakan secangkir kopi untukku, dan Kaiya berusaha menjadi yang paling waras di sini. Berusaha mengingatkan orangtuaku untuk tak larut dalam kelabu.

Kuikuti langkah kaki Kaiya, masuk dalam kamarku dan tergugu di sana.

"Kenapa harus Mas Indra? Kenapa Mas gak pernah bisa sedikit egois pada keinginan. Harusnya Mas di sini, mendengarkan ceritaku sambil meneguk kopi."

Aku di sini Kaiya, bersamamu. Masih setia mendengar ceritamu sambil meneguk kopi buatan Ibu. Dan masih merindukanmu. Dengar Kaiya, ketika petir menggelegar saat itulah kau akan menerima pesan dariku. Bahwa aku merindukan keluargaku yang tak mengenal warna kelabu. Bahwa aku amat sangat menyayangi kalian semua.


Aku tak kemana-mana, hanya terpisah ruang denganmu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya