Manusia bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi juga akibat mengasup makanan yang tercemar logam berat.

Daging dan produk hasil ternak merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki banyak penikmat, namun di dalamnya mungkin membawa sejumlah substansi toksik. Walaupun jumlahnya cukup kecil di dalam daging, namun pada bagian tertentu pada tubuh ternak yang juga sering dikonsumsi misalnya pada organ hati dan ginjal, sering menunjukkan konsentrasi substansi toksik yang cukup tinggi yang berasal dari logam berat.

Advertisement

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menguji keberadaan logam berat dalam makanan terutama pada daging dan olahannya. Hasilnya menunjukkan adanya kandungan logam berat seperti cadmium dan alumunium di dalam susu segar , susu pasteurisasi , bakso sapi , ginjal domba , hati ayam dan hati babi. Kandugannya rata-rata tidak melebihi batas keamanan cemaran logam berat, tetapi ada beberapa produk seperti bakso yang kandungan cadmiumnya telah melampaui batas aman.

Pencemaran logam berat terhadap pangan hasil ternak maupun terhadap organ ternak tidak lepas dari kondisi lingkungan air dan tanah yang tercemar. Air yang tercemar logam berat akan dikonsumsi oleh ternak, sementara tanah yang tercemar akan ditumbuhi rerumputan yang nantinya akan diolah menjadi pakan ternak.

Penggunaan pipa ledeng sebagai saluran air menjadi salah satu alasan cemaran logam berat pada air yang nantinya akan dikonsumsi ternak. Hal ini terjadi akibat pengikisan cadmium dan timbal yang berasal dari pipa air . Selain itu , penggunaan rempah-rempah yang ditanam di tanah yang tercemar juga bisa menjadi faktor pencemaran logam berat pada daging.

Advertisement

Keberadaan logam berat di dalam makanan tidak hanya ditemui di Indonesia. Inggris yang merupakan negara maju dengan teknologi yang lebih canggih dan sistem pengelolaan ternak yang lebih baik juga menemui masalah yang sama. Di dalam daging , olahan daging , susu dan olahan susunya ditemui kandungan alumunium, arsen, cadmium, timbal dan merkuri. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan global telah tercemar oleh logam berat.

Permasalahan keamanan pangan ini seringkali disepelekan oleh masyarakat karena tidak semua kasus pencemaran keamanan pangan memberikan respon negatif bagi tubuh yang dapat langsung diamati satu atau dua hari setelah mengonsumsinya.

Bahan kimia tambahan maupun bahan kimia asing seperti logam berat yang terkonsumsi tidak menunjukkan respon buruk bagi kesehatan yang dapat teramati pada selang waktu satu atau dua hari setelah konsumsi, namun gangguan kesehatan yang diakibatkan akan tampak dalam jangka waktu yang cukup panjang setelah mengkonsumsinya. Logam berat merupakan senyawa asing dapat masuk melalui makanan kemudian terakumulasi di dalam tubuh dalam kurun waktu tertentu dan menimbulkan gangguan kesehatan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya