London, ingin ku kesana… seperti judul lagu The Cangcuters "Hijrah ke London"


Lagi-lagi khayal ini bersemayam di ingatan. Semua tak terencana, secara tiba-tiba merangsang ingatan untuk terus melakukan pijakan. Semua yang ku kagumi saat kanak, hampir ada di negara itu. Dari Sepak bola, band legendaris tahun lampau, hingga aktor dan aktris dari negara sejuta kehormatan itu. Negeri yang penuh sejarah dan berjuta pemikiran hadir dalam setiap oksigen di negeri itu, semua mengalir secara ber-iringan.

Advertisement

Tak hanya kebudayaan dan masa lalu, sikap toleransi dan sikap terdidik yang membuat kampus Oxford adalah tujuan pertama di dunia untuk menimba ilmu. Mereka yang bersungguh-sungguh yang dapat masuk, perguruan tinggi lainya di negeri itu pun yang membuat berbagai negara terus meningkatkan kualitas pendidiknya. Negeri itu bak dongeng yang tak pernah tidur, dongeng yang selalu nyata dalam ingatan. Tinggal kita merefleksikan nya seperti apa.

Ada yang memimpikan bisa berjalan di Time Square di kota Newyork, ada yang ingin melihat langsung atmosfer Hollywood bersua, ada yang ingin sekedar melihat nama-nama besar dunia tertulis di Walk Of Fame di California, ada yang ingin melihat beberapa peninggalan dan peristiwa lampau di Kota Mesir, ada yang ingin beradaptasi dengan heningnya kota Roma, ada yang ingin beramai-ramai sebagai penghangat suasana di Menara Eifel Paris, tetapi tujuannku hanya ada 2 kota; Kota Mekkah senagai tuntutan agamaku, dan Kota London sebagai Impianku sedari dini.

Tempat para pegiat seni membabi buta untuk menyuarakan apa yang dirasakanya, tempat para pemikir mengimplikasikan hasil pemikirannya, tempat yang damai dengan berjuta kebudayaan dan ragam kesenian serta Agama. Sekedar berfoto di London Bridge adalah tujuan ku untuk mengabadikan semuanya, atau sekedar berfoto di Stadion Stamford Bridge dan berfoto-foto dengan pemain Chelsea adalah suatu kebanggaan yang tak bisa diutarakan. Sebuah tangis yang silit diuraikan, bahagia akan menjadi satu. Untuk kuceritakan kembali bahwa Britania Raya adalah tempat terindah di bumi ini.

Advertisement

Ada presepsi yang membuatku terus memimpikan untuk bisa berada di negeri ini. Bisa berjalan di Abbey Road dan berfoto layaknya The Beatles menampilkan karya gemilang dalam poster albumnya yang fenomenal. Beberapa kali tanyangan di internet selalu ku pantau, untuk sekedar tahu info terkini dan keadaan geografis di sana. Abbey Road adalah salah satu dari sekian, masih banyak lagi tempat para pegiat seni, dari aliran sastra, musik, dan orang-orang yang menyukai keindahan bersemayam menjadi satu untuk aspirasi kehidupan.

Kembali dalam ingatan, untuk mengoleksi album dalam bentuk kaset-kaset klasik yang sudah ku kumpulkan dari aku kecil. Di antaranya adalah Album Oasis, The Beatles, Rolling stones, The Smith, Joy Devision, One Direction, dan Musisi yang aku gandrungi dari kecil yaitu Kurt Cobain dengan Nirvananya. Mungkin lewat mereka aku menyukai UK, dan juga sepak bola dari kecil yaitu Chelsea Fc. Berfoto di stadion Stamford Bridge dan mengabadikan momen dengan para pemainnya adalah sesuatu mimpi yang tak kan bisa ku pungkiri siasatnya. Beberapa kali kota London membuat sanubari bagai Kapal Titanic yang menerjang ribuan partikel di gunung es, menghempas ke darat sejenak, lalu tenggelam. Tenggelam daolam sanubari dan angan-angan.

Jika berkaca akan sejarah yang pernah ada, kurang pas jika hanya teori Imperalis bangsa Eropa dan dua negara adidaya saling memberikan ideologi antar negara dalam istilah perang dingin. Ada Inggris atau Britania Raya di sana. The British Political System adalah salah satu sistem politik modern dan yang paling tua di dunia. Sistem itu sebagai gerbang ideologi dunia dalam penerapan untuk negaranya masing-masing.

Politik moderen tersebut lah yang menyebabkan pemikiran akan masa depan dan segala sesuatu yang bersifat sederhana menjadi luar biasa seperti saat ini. Barang-barang seperti gadget, internet, dan tenaga yang memudahkan manusia dalam melakukan sesuatu mungkin terinspirasi dari sana. Ya, Revolusi Industri.

Meski banyak masyarakat kelas bawah yang tidak setuju karena semakin sedikit tenaga manusia yang dibutuhkan, tetapi nyatanya berbuah positif bagiku. Tanpa industri, mungkin kita tidak dapat merasakan barang-barang yang kita suka pada saat ini. Namun, jika cikal bakal suatu pabrik terus menyebabkan hal yang negatif, sudah saatnya kita untuk ikut bersedih. Boleh namun tidak lewat batas.

Cita-cita utama ku hanya bisa belajar meneruskan perguruan tinggi di UK. Memperkanalkan budaya di negaraku, dan takjub oleh budaya di sana. Ingin sekali juga rasanya menikmati sore di hamparan Oxford Steet dan Harrods. Katanya, di sana adalah tempat di mana para pemuda sampai lansia menukarkan ide inspiratif dan pemikiran serta keresahan. Bagaimana tidak takjub, selain berwisata akan keindahan kita juga diajak untuk beredukasi yang menambah nilai positif bagi kita.

Toleransi dan tempat yang damai adalah nilai plus nya, sesudah itu kita mengembangkan diri dari kultur dan orang-orang genius di sana. Atau sekedar menyantap Lancashsire Hotpot, makanan yang mewah namun terjangkau harganya sebagai hidangan sebelum tidur. Jalanan kota yang aman dari berbagai kejahatan, langit indah yang kerap kali melintasi atmosfer di atas kota london, ingin rasanya menyajikan kopi sebagai salam hangat kepada penguasa jagat raya. Dan sebelum menempuh perjalanan mimpi kemudian terlelap tidur, rasa syukur akan melintang tempat terindah yang ku impikan sedari dulu. Dan ketika membuka mata, kita kembali lagi, bersyukur terus tanpa henti.


Negeri berjuta sejarah, berjuta musisi dunia, berjuta teori dan filsafat, serta berjuta seni yang malang-melintang di setiap manusianya. Suatu kehormatan bagiku, untuk memperkenalkan tempat indah bak dongeng sebelum tidur. Atas rasa syukur yang menghinggap di kepalaku, aku ingin kesana. Hanya segenap melepas rindu dan penat akan kehidupan yang kadang kita tangisi keberadaannya. Salam hangat dari saya, untuk UK. #AyoKeUK #WTGB #OMGB


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya